Forgive. Be Kind & Learn!

October 29, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Kapan terakhir anda merasa kecewa? Siapa sih yang nggak pernah merasakan kecewa – atau lebih tepatnya mungkin, dikecewakan? Siapapun yang pernah bernafas pasti tahu rasanya kecewa. Penyebabnya bisa sebanyak bintang di langit mulai dari dipersalahkan, difitnah, dibohongi, ditipu, dijebak, disakiti dan sebagainya. Kecewa juga bisa muncul saat ekspektasi tidak bisa disamai oleh kenyataan. Situasinya juga beragam mulai dari urusan hubungan kerja dan bisnis, pertemanan, keluarga hingga percintaan. Apa yang lazim dilakukan saat kecewa? Saya yakin geram, marah, sebal hingga merasa bodoh. Kenapa dia tega melakukan ini pada saya? Kenapa juga saya sedemikian bodoh tidak melihat tanda-tanda kalau dia penipu ulung? Apapun itu proses awal ini selalu terjadi walaupun manifestasinya berbeda-beda pada setiap orang. Jika berkepanjangan, kekecewaan bisa berakibat fatal bagi kehidupan sebagaimana ilustrasi cerita berikut:

Konon ada seorang anak yang dibesarkan oleh sepasang orang tua yang sangat bertolak belakang. Sang ibu adalah seseorang yang lembut, penyabar dan penyayang. Sementara si bapak cenderung kejam, tega dan bengis. Sebagaimana lazimnya dalam kehidupan, emosi negatif lebih mudah, cepat dan dominan dibandingkan emosi positif. Hampir tidak ada hari berlalu tanpa si anak merasakan kekejaman si bapak. Bentuknya bisa macam-macam mulai dari cemo’ohan, makian, hujatan hingga tamparan bahkan pukulan. Kasih sayang ibunya adalah satu-satunya alasan si anak bisa terus bertumbuh kembang dengan baik hingga dewasa.

Saat sang ibu meninggal, si anak hampir-hampir tidak merasakan emosi apapun. Dia tidak sedih. Tidak menangis dan tidak berduka. Biasa saja. Selang beberapa tahun kemudian si ayahpun mangkat. Namun kali ini si anak menangis sejadi-jadinya. Dia merasakan kesedihan luar biasa hingga keputusaasaan. Kenapa? Karena tanpa disadari si anak telah menjadikan kebencian pada sang ayah sebagai satu-satunya alasan hidup. Tanpa kehadiran sang ayah dia merasa sedih dan hampa. Cerita ini adalah ilustrasi kekecewaan yang berujung pada kebencian yang mendominasi kehidupan si anak. Cerita ini menggambarkan saat sudah tidak ada lagi ruang lagi dalam hati selain untuk membenci.

Blame and shame is the clear path to anger, hate and despair. Hal paling mudah adalah menyalahkan orang lain atau situasi. Toh, tinggal tunjuk saja – dan pasti selalu ada yang bisa ditunjuk. Bukankah tidak ada yang lebih malang daripada nasib seorang korban? Bukankah korban memang patut dikasihani? Bukankah memang pelakunya patut dihukum – dengan tidak terlalu mudah memaafkan perbuatannya? Ya, mudah… namun belum tentu benar. Dan belum tentu baik.

Forgiveness does not change the past, but it enlarges the future – Paul Boesse. Percayalah. Tidak ada yang mudah dalam memaafkan siapapun, terlebih diri sendiri. Namun tanpa itu tidak ada penyembuhan dan pemulihan jiwa. Memaafkan adalah melepaskan diri dari penderitaan. Sehingga bukan sekedar ucapan: “Saya maafkan kamu…” yang ditujukan pada pelaku si pembuat kecewa, namun sebagai sebuah pilihan untuk berlega dalam diri.

Forgiveness benefits the forgiver – so much more than the forgiven. Bayangkan kebisaan memaafkan bagaikan otot yang harus terus dilatih. Ini bukan soal melupakan, menghilangkan atau membiarkan kesalahan yang telah terjadi, namun terkait dengan bagaimana diri bisa terus hidup merasakan cinta, belas kasih dan pemahaman. Ya, keuntungan terbesar saat memaafkan justru dirasakan si pemberi maaf, jauh melebihi si penerima maaf.

Kekecewaan dalam bentuk paling buruk sekalipun menawarkan pelajaran berharga. Pelajaran yang sudah pasti tidak dengan mudah dikenali, namun pasti selalu ada. Hidup bersama ayah yang kejam? Bisa jadi justru membentuk pribadi yang kuat sekaligus pemaaf. Bekerja dengan boss yang temperamental? Bisa jadi alasan utama kenapa sekarang bisa jadi pemimpin yang dihormati – dan dicintai segenap anak buah. Ditipu hingga hampir bangkrut? Bisa jadi kesempatan untuk memulai dengan lebih baik dengan orang-orang yang tepat. Forget what hurt you – but never forget what it taught you – anonymous.

Nah, bisakah ceritakan pengalaman anda menghadapi kekecewaan – hingga pada akhirnya memaafkan? Apa pelajaran-pelajaran penting yang anda petik dari kisah itu? Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.