Do You Trust Your Team? Really?

October 22, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Ya.. ya.. ya.. kepercayaan adalah segalanya dalam organisasi dan terlebih lagi dalam sebuah team. Segala hal baik berawal dari trust diantara pemimpin dan segenap anggota team. Ini terdengan klise namun selamanya relevan selama manusia masih belum sepenuhnya tergantikan oleh robot atau artificial intelligence. Pertanyaan besarnya adalah ini: Apakah anda percaya dengan team anda? No problem jika jawabannya positif. Tapi apa jadinya jika anda tidak percaya dengan team anda? Tolong jangan jawab dengan kondisi – atau jawaban yang artinya setengah percaya setengah lagi tidak percaya karena istilah itu tidak ada. Kepercayaan itu seperti perempuan tengah berbadan dua. Tidak ada setengah hamil bukan? Jadi soal kepercayaan kepada anggota team juga sama. Anda percaya atau tidak? Titik.

Banyak organisasi – dan team harus bekerja dengan tingkat kepercayaan minim atau hampir-hampir tidak ada sama sekali. Jangankan apresiasi tulus atas kinerja bagus, bahkan sapaan hangat pagi hari juga tidak ada. Apalagi indikator low trust dalam team? Arus informasi berjalan teramat lamban. Setiap dinamika team dimaknai dengan penuh kecurigaan diantara satu sama lain. Tidak ada yang berani bicara terbuka tentang apapun karena khawatir akan dimanfaatkan, atau paling tidak dipersepsikan sebagai kelemahan. Jika terus berlanjut kondisi ini hanya akan berujung pada demotivasi bekerja, frustasi bahkan depresi. Dan tidak ada pencapaian hebat dalam kondisi seperti ini. Sounds familiar?

Threat only works if you can watch over & control them 24-7. Bisa jadi low trust muncul dari tata cara pengelolaan organisasi saat revolusi industri abad ke XVIII. Kala itu, sang mandor hanya perlu mengawasi para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan patuh. Tidak masalah karena sang mandor hanya perlu menunjukkan kuasanya untuk memecat si pekerja jika tidak memenuhi standard yang telah ditetapkan.

Revolusi industri sudah berlalu dan dunia kerja sudah memasuki era informasi digital yang sama sekali berbeda saat ini. Kepatuhan sambil menggerutu sudah tidak lagi memadai karena organisasi membutuhkan hal-hal terbaik dari masing-masing pekerja… setiap saat dan terus menerus.

Fear generates blind obedience – trust generates common respect. Jika dahulu pola transaksional sudah cukup memadai untuk menuntaskan pekerjaan, kali ini sudah sepenuhnya berganti dengan keharusan memunculkan rasa percaya diantara para anggota team. Pekerja bukan sekedar menjual waktu dan keahlian untuk ditukar dengan uang, namun juga keyakinan, kegigihan, kreativitas, keunikan dan ketabahan untuk terlibat dan terus terlibat. Satu hal yang pasti, pekerja sudah bukan sekedar sumber produksi yang bisa dikalkulasi sebagaimana sumber-sumber produksi lain. Dan ketakutan hanya akan cukup menghasilkan standar minimum – itupun juga terkadang tidak terpenuhi.

Respect individuality & authenticity above all others. Apa yang bisa dilakukan untuk membangun kepercayaan dengan segenap anggota team? Pertama, pastikan anda jujur dan otentik. Tidak ada kepercayaan dibangun dari kebohongan, kesungkanan apalagi pamrih. Apa adanya saja. Katakan hal-hal yang selama ini dianggap taboo jika disampaikan oleh pemimpin: “Saya tidak tahu…”. “Tolong saya…” dan ini yang terpenting: “Terima kasih.” Kedua, munculkan percakapan bermakna setiap saat – bukan sekedar percakapan sembari lalu, namun sebuah moment saat anda dihadirkan untuk mereka dan sebaliknya. Terakhir, berikan kepercayaan pada team untuk memilih, memutuskan dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan mereka.

Tanpa rasa kepercayaan banyak pekerja akan secara lambat laun meninggalkan organisasi – atau paling tidak bertahan sekedar untuk menerima gaji. Jangan biarkan hal ini berlangsung terlalu lama. Berikan kepercayaan dan pada saat yang sama pastikan diri sudah layak untuk dipercaya oleh segenap anggota team. Leaders can no longer trust in power; instead, they rely on the power of trust – Charles Green. And the final most relevant question is this: Does your team has enough reason to trust you as their leader?

OK, bisakah menceritakan pengalaman membangun kepercayaan dalam organisasi? Sesuatu yang dilakukan sendiri atau oleh para pemimpin team – organisasi anda? Apa pelajaran-pelajaran penting yang anda petik dari sana? Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.