See the World – to Discover You

October 8, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Suka jalan-jalan dan sudah menikmati fasilitas transportasi tercanggih saat ini (baca: pesawat)? Jika jawabannya “ya” maka anda tergolong dalam sekitar 40% penduduk Indonesia yang beruntung sudah pernah terbang. Jumlah sesungguhnya mungkin lebih kecil karena angka tersebut diperoleh dari tiket yang diterbitkan pada tahun 2014 – sementara kita tahu terdapat sejumlah orang yang melakukan perjalanan berkali-kali dalam setahun. Nah, prosentase lebih kecil muncul terkait dengan orang Indonesia yang sudah pergi keluar negeri, yaitu sekitar 8 juta – atau kurang lebih 4-5% dari total populasi.

Bisa dibayangkan angka berkelana yang jauh lebih insignifikan bagi generasi sebelum kita. Sehingga tidak berlebihan saat dikatakan 95% penduduk Indonesia 70 tahun lalu hanya hidup di kampungnya dan kenal – dan dikenal oleh teman-teman sekampungnya dari lahir hingga wafat. Hanya sedikit saja orang Indonesia yang pernah mengalami, merasakan dan menghidupi budaya yang berbeda dibandingkan budaya asal yang lazim. Artinya? Tidak ada cerita-cerita luar biasa tentang tempat-tempat baru & berbeda. Tidak ada kebisaan berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai kultur dan latar belakang yang berbeda. Tidak ada variasi dalam pola interaksi, kolaborasi dan kreasi. Tanpa pengalaman, perspektif dan interaksi baru maka tidak ada terobosan baru yang berarti bagi komunitas secara keseluruhan. Maka tidak mengherankan jika diteliti kalau semua – atau paling tidak mayoritas pendiri Republik ini adalah mereka yang pernah berkelana keluar dari kampung halamannya.

Discovering you by travelling to new places. Salah satu pelajaran paling berharga dalam kehidupan saya adalah saat berkesempatan keliling benua Eropa selama beberapa bulan dalam usia relatif muda. Sebenarnya setengah terpaksa karena untuk menghindari keharusan menempuh pendidikan di tempat yang tidak pernah saya minati. Pengalaman paling seru, asyik dan … gila terjadi justru pada saat itu. Pelajaran-pelajaran paling berharga, bermanfaat dan masih beresonansi hingga kini juga terjadi kala itu.

Traveling is about being alone to make your own choices in – and about life. Berkelana itu istimewa bukan karena tempat-tempat dan orang-orang baru yang bisa dijadikan sumber inspirasi semata. Berkelana memerdekakan karena bisa membiarkan pemikiran, aspirasi dan keotentikan terjadi dengan sendirinya tanpa tentangan dan tantangan dari orang-orang terdekat.

Sometime all you need to do is to get lost to find yourself – anonymous. Berpikir, bertindak dan bersikap tanpa ada komentar, cibiran dan ocehan orang tua, saudara, rekan kerja, guru dan sahabat. Pilihan apapun yang diambil sepenuhnya pilihan sendiri. Jika bisa disimpulkan dalam 2 kata maka esensi berkelana adalah: Keheningan berpikir. Dalam kondisi ini seringkali jati diri yang sesungguhnya akan muncul dan bertumbuh kembang.

You are someone – and no one at the same time. Dunia adalah tempat yang teramat luas walaupun semakin terasa sempit. Anda dan saya hanya 1 dari 240 juta penduduk Indonesia atau 1 dari 7 milyar penduduk bumi. Bepergian memungkinkan kita memiliki perspektif betapa besar dunia dan betapa kecil dan insignifikan keberadaan diri. Katakanlah kita menghilang, berapa banyak yang akan benar-benar peduli? Jika anda tergolong artis atau selebritis sekalipun tidak akan bisa benar-benar dipedulikan oleh lebih dari 1000 orang. Angka itu bahkan tidak sampai 0.0001% dari total penduduk bumi.

Gambaran ini adalah pesan untuk terus rendah hati. Tidak ada satu alasanpun untuk menyombongkan diri. Dan baru dalam kondisi ini kita dapat benar-benar memahami segala hal yang benar-benar dipedulikan. This is the moment when we shall rediscover what really really matters for us – and that is the most important part of discovering yourself. Go travel!

Nah, ceritakan perjalanan yang paling menggugah dan menginspirasi dalam kehidupan anda? Apa pelajaran-pelajaran penting yang anda petik dari sana? Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.