Fairness is Not Always about Equality

September 24, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Gaji.

Satu kata yang muatannya hampir selalu dibahas kawan-kawan lama yang baru berjumpa lagi saat reuni, obrolan saat temu keluarga pada hari-hari raya dan percakapan setengah hati antara bagian SDM dengan calon karyawan.

Gaji adalah refleksi keberhasilan – atau kegagalan bagi kaum pekerja. Gaji bisa ditentukan dari predikisi kebutuhan bulanan sebagaimana layaknya penetapan upah minimum, loyalitas lama bekerja atau kinerja dan kontribusi. Satu hal yang pasti, perkara gaji adalah perkara sensitif.  Sedemikian sensitif hingga urusan kerahasiaannya selalu digembar-gemborkan – walaupun juga hampir selalu dilanggar. “Berapa ya gaji bos kita?” atau “Anak baru yang pakai mobil mewah ke kantor itu dibayar berapa sih?” – saya yakin Anda tidak awam dengan pertanyaan-pertanyaan #keypogaji macam ini.

Sehingga tidak mengherankan saat penetapan angka gaji senantiasa ditentukan dengan rahasia, hati-hati dan fair. Jangan sampai ada yang merasa diperlakukan tidak adil saat membandingkan gaji – yang informasinya hampir selalu bocor itu.

Sewajarnya pekerjaan yang sama diganjar dengan gaji yang sama dong. Ini azas keadilan. Tidak ada yang aneh saat strata kepegawaian lebih tinggi dengan tanggung jawab lebih besar memperoleh gaji lebih besar. Dan lumrah juga saat pekerja yang sudah bekerja lebih lama memperoleh gaji lebih besar dibandingkan yang baru mulai. Ini semua sejalan dengan akal sehat. Bukankah begitu?

Fairness is not always about equality.

Menyamakan antara prinsip keadilan (baca: fairness) dengan sama rata bisa berbahaya. Karena tidak ada metode pengukuran kinerja individu yang sedemikian mumpuni untuk bisa mencatat kontribusi secara spesifik dan granuler. Dinamika kinerja sejalan dengan dinamika manusia yang kompleks dan berubah-ubah (baca: bertumbuh kembang). Dua orang yang menempati posisi sama akan selalu bekerja, berkiprah dan berkarya dengan cara berbeda. Bahkan orang yang sama pada posisi yang sama belum tentu berkiprah secara sama pada periode waktu berbeda.

Pay unfairly if you wish to transform your company – Lazlo Bock.

Dalam buku keren “Work Rules” karya Lazlo Bock, mantan petinggi SDM Google menegaskan satu prinsip tidak lazim yang ternyata sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang organisasi teknologi raksasa itu. Lazlo berargumen 90% kontribusi berasal dari top 10% tenaga kerja (baca: kontributor utama). Sehingga jika perusahaan hanya mau membayar top kontributor tersebut dengan angka rata-rata atau sedikit diatas rata-rata maka bisa dipastikan dalam waktu tidak terlalu lama orang-orang tersebut akan pindah kerja. Kenapa? Karena orang-orang terbaik selalu tahu nilai vs harga mereka di pasar.

The illusion of fairness vs the real cost of performance.

Keadilan tidak terjadi lewat penyamarataan. Bayangkan saat menuju dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta yang super macet. Anda bisa menggunakan mobil pribadi yang mewah seharga Rp500juta dibandingkan dengan naik ojek dengan hanya membayarkan Rp20.000 saja. Apakah Anda merasa berhutang dengan supir ojek senilai Rp500juta – Rp20.000? Atau mungkin anda minta pengembalian dari dealer tempat Anda membeli mobil karena toh mobil semewah apapun cuma sekedar alat transportasi?

Your top guy may worth more than you pay them.

Kinerja hebat pasti ada harganya. Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah kinerja macam apa yang diharapkan? Dalam ilustrasi antara mobil mewah vs ojek, kinerja ditentukan dari apakah mengharapkan kecepatan atau kenyamanan? Karena masing-masing ada harga dan trade-off-nya.

Nah, sebelum mulai mempertanyakan apakah Anda sudah menerima gaji yang sesuai dan fair, jawab dulu serangkaian hal-hal ini?

  • Pertama, apakah sudah memberikan yang terbaik setiap saat?
  • Kedua, apakah yang terbaik dari diri sudah relevan dengan kontribusi (baca: top 10% kontributor) yang diminta, diharapkan dan ditetapkan oleh organisasi?
  • Terakhir, apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kontribusi diri?

After all, fairness only happens when salary is based on real contribution. Your contribution.

 

Nah, apakah gaji yang Anda terima sesuai dan fair?

Bisa elaborasi observasi Anda tentang diri, kontribusi dan kompensasi yang Anda terima?

Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC

You Might Like This