Your Motivation = Your Action

September 19, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

“Kehadiran mas Rene disini adalah untuk memotivasi kita semua…”, “Tolong berikan motivasi agar para karyawan kami bisa bekerja dengan baik dan menuntaskan tugas-tugas yang diberi-kan.” … “Kira-kira motivasi apa yang akan disampaikan dalam sesi nanti agar teman-teman bersemangat ya, mas?” … dan sebagainya. Dan seterusnya.

MOTIVASI… satu kata yang seringkali terucap namun hampir selalu disalahartikan. Terlebih sejak meningkatnya popularitas kata “mo-tivator” – muncul kesan bahwa motivasi bisa diberikan untuk – dan diperoleh dari orang lain. Dikesankan motivasi serupa dengan air, makanan atau uang. Haus? Silahkan, saya berikan sebotol air untukmu. Lapar? Ini makanan agar kenyang. Butuh sesuatu? Ambil dan pakai uang saya untuk kebutuhanmu. Demotivasi? Gampang. Biarkan saya hadir (baca: dibayar) untuk memotivasi anda. Terdengar wajar bukan? Apakah ada yang salah dengan penjela-san ini?

Motivator is not a person – it’s a mindset, a belief system & a mental modal. Jika benar motivasi bisa diberikan dan diterima dari si pemberi motivasi, tentu sungguh ideal kehidupan ini. Tidak akan ada yang sempat terpuruk karena selalu diberikan suntikan moti-vasi oleh para motivator itu tadi. Semua orang – paling tidak yang bekerja di organisasi yang mampu mengundang para motivator – akan berisikan orang-orang paling bersemangan, antusias dan termotivasi.

Motivation is all – and only about knowing, believing & embracing your reason for action. Sayang kenyataannya jauh berbeda dari penjabaran tadi. Fakta: 7 milyar penduduk bumi ingin anda termo-tivasi namun selama anda masih belum menemukan alasan dari dalam diri untuk bergerak, bertindak dan bekerja maka hasilnya gagal total. Sebaliknya 7 milyar penduduk bumi ingin agar anda demotivasi, namun tidak akan ada pengaruhnya selama anda pa-ham betul alasan anda bergerak, bertindak dan bekerja.

Here’s the million dollar question: How do we motivate people? Nah, jika demikian bagaimana dong cara memotivasi karyawan, anak buah dan siapa saja yang perlu dimotivasi? Jawabannya: Tid-ak bisa selain dari orang yang bersangkutan itu sendiri. Dan bisa jadi alurnya justru terbalik: BUKAN memotivasi untuk bertindak; Namun dengan bertindak justru akan termotivasi.
Your motivation = your action. Kawan-kawan di Gerakan Indonesia Mengajar punya contoh menarik tentang seluk beluk motivasi. Mereka berusaha menjawab 2 pertanyaan penting. Pertama: Bagaimana mencari lulusan Sarjana yang bakal termotivasi untuk mengajar SD di daerah-daerah terpencil selama 1 tahun? Kedua: Bagaimana memotivasi para lulusan Sarjana yang terpilih untuk menuntaskan misi mengajar tersebut? Jawaban untuk kedua per-tanyaan tersebut ternyata sama: Para lulusan Sarjana yang berse-dia untuk mengajar SD selama 1 tahun tanpa syarat adalah mere-ka yang akan senantiasa termotivasi dalam menjalankan tugasnya. Ya, pilihan, pengorbanan dan tindakan mereka mencerminkan mo-tivasi mereka.

Motivasi tidak untuk ditunggu, dicari – apalagi diminta. Motivasi adalah refleksi kemauan, kepedulian, bahkan pengorbanan. Jika enggan untuk mengorbankan waktu, energi dan sumber daya lain maka jangan harap ada suntikan motivasi bisa mengubah hal ter-sebut. Dan cara terbaik untuk memulainya adalah dengan memilih untuk bergerak, berkiprah dan bertindak – bukan sekedar untuk termotivasi, namun karena sudah menentukan pilihan. Karena su-dah termotivasi.

Tidak ada yang salah dengan mengundang pembicara publik, trainer atau mentor untuk bicara di organisasi. Namun ekspektasi atas kehadiran mereka perlu diperjelas. Mereka bukan motivator, karena mereka tidak akan mampu memberi motivasi kepada selain diri mereka sendiri. Sehingga fungsi mereka adalah sebagai teman bicara, pemicu kepedulian dan penyebar inspirasi. Saya tutup tulisan ini dengan mengutip kalimat dahsyat dari Mark Twain, penulis kontemporer Amerika Serikat: “The two most im-portant days in your life are the day you are born – and the day you find out why.”

Photo #UltimateUScrapBook by @cindysaja

Nah, sejalan dengan tulisan diatas, dalam kondisi apa anda merasa benar-benar termotivasi? Dan apa yang anda lakukan setelah itu. Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.