A Note to My Younger Self. What’s Yours?

September 10, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Awal minggu ini saya diundang ke Bandung untuk berjumpa teman-teman muda yang mengadakan acara dengan judul keren: Dream Catcher Summit alias Temu Para Penangkap Mimpi.

Bagi saya anak-anak muda itu istimewa bukan karena berusia muda, masih gagah dan lantang namun saat mereka menawarkan kebaruan, gigih menyuarakan kepedulian dan berani untuk tidak sekedar menjadi ala kadarnya. Berada di sekitar mereka senantiasa menyegarkan, menyenangkan dan melegakan. Ya, memang energi yang menyala-nyala kerap dibarengi oleh kegundahan dan kegamangan yang bakal terus bergema sepanjang hidup – seperti saya sendiri. Namun bisa jadi perasaan gundah, gamang dan resah itu yang justru dibutuhkan untuk berdaya, berkreasi dan bertumbuhkembang. Menjadi muda adalah kesempatan terbaik untuk memahami diri, menggali potensi dan menanam harapan akan hari esok yang lebih baik.

Nah, berbagi cerita untuk kaum muda tidak pernah mudah. Kenapa? Karena saya paham betul beda generasi artinya beda cara pandang, beda referensi dan beda pola bergaul. Alasan lain adalah karena saya paling ngeri masuk kategori…. sok tahu. Jadi jalan tengahnya adalah dengan membayangkan sebuah mesin waktu yang memungkinkan saya mengirimkan pesan kepada diri sendiri saat masih muda dulu.

Rangkaian tulisan berikut adalah 5 hal penting yang saya harap saya ketahui saat berusia antara 20 – 25 tahun dulu – dan terlebih jika saya versi muda harus hidup pada masa sekarang:

You can never convince people to like/love you. Ini hukum alam mutlak yang tidak akan pernah berubah dan tidak terbantahkan sampai kapanpun. Salah satu sumber frustasi saat muda adalah kebutuhan untuk disukai, dicintai dan … diterima. Namun tidak seorangpun akan menerima / menyukai / mencintai kita hanya kita minta. Mampu mencintai adalah hal baik. Merasakan dicintai juga hal baik. Namun hal terbaik adalah saat hubungan bisa berjalan dua arah. Dan itu tidak akan pernah bisa dipaksakan.

There are things you can’t understand. And that’s OK – take your time. Apapun yang diketahui belum tentu langsung bisa dimengerti atau dipahami. Tahu, mengerti dan paham adalah klasifikasi ilmu yang berbeda dan sangat tergantung pada kesiapan, kedewasaan dan kematangan diri. Tidak semua hal harus dipahami dengan sesegera mungkin. Tidak semua argumentasi harus dimenangkan setiap saat. Tidak semua persoalan bisa dipecahnya dengan mengikuti tips ringkas dari majalah atau para ahli. Semua ada waktunya. Semua ada saatnya.

Go beyond the skin – stop assuming. Hal paling mudah adalah berasumsi… tentang apapun. Tentang sekaya apa pengusaha tenar itu. Tentang secerdas apa ilmuwan kondang tersebut. Tentang se-happy artis kondang itu. Banyak sekali orang yang kita anggap kaya ternyata jauh dari kaya. Sebaliknya, tidak kalah banyak orang yang kita pandang miskin ternyata jauh lebih sejahtera dari penampakkannya. Banyak orang yang kita anggap cerdas, hebat dan tenar ternyata hanya sekedar pandai membentuk persepsi tentang kecerdasan, kehebatan dan ketenaran mereka. Dan kita juga tidak akan pernah tahu perjuangan orang-orang yang tampak mudah saja menjalani kehidupan ini.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada saya sendiri adalah untuk jangan pernah merasa sebagai korban dan menyalahkan orang lain ataupun situasi. Apapun yang terjadi ada alasannya. Tidak ada kebetulan dalam hidup bagi mereka yang meyakininya. Waktu tidak akan berputar kembali sehingga tidak ada alasan untuk menyerah, masa bodoh atau merusak. You are never a victim. You are somebody’s hero.

Photo #UltimateUScrapBook by @cindysaja

Nah, sejalan dengan tulisan diatas, bisakah Anda berbagi 1 hal yang ingin anda sampaikan kepada diri sendiri dalam versi lebih muda? Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC