We (only) Value What We (really) Value

July 23, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Tulisan kali ini masih melanjutkan kolom #UltimateU minggu lalu tentang bagaimana sebenarnya budaya terbentuk – atau lebih tepatnya bagaimana membentuk budaya.

Apa sih sebenarnya yang mendasari  pembentukan budaya – apakah itu baik atau buruk – pada tahap paling awal? Apakah terjadi dengan sendirinya karena dorongan faktor eksternal semata, diniatkan oleh beberapa orang tertentu atau kombinasi keduanya? Bagaimana juga dengan peran nilai (baca: values) yang seringkali mengilhami pembentukan budaya tertentu?

Salah satu cara seru memahami hal ini adalah dengan memperhatikan situasi ironis kontradiktif di sekitar kita. Papan raksasa bertuliskan “DILARANG BUANG SAMPAH DISINI” yang justru terpampang di area penuh sampah. Atau contoh lain seperti spanduk dengan tulisan super formal “Budaya patuh peraturan lalu lintas adalah jaminan keamanan dan kenyamanan bersama” dipasang persis di jalan yang hampir selalu terjadi pelanggaran. Seolah papan, pamflet dan spanduk bisa memastikan terbentuknya budaya tertentu. Bisa jadi budaya yang terbentuk bukan apa yang tertulis pada papan pengumuman, namun justru budaya menggampangakan budaya. Oh, perlu mengusung budaya kepedulian? Mudah. Cetak dan sebar 1 juta pamflet pesan-pesan kepedulian. Ingin menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan? Gampang. Tawarkan kredit murah tanpa agunan ke jutaan orang di pelosok Indonesia. Dan seabreg contoh-contoh lain. Menggampangkan. Menyepelekan… Menyesatkan.

We value what we value. Budaya sama sekali tidak terbentuk dari pilihan kata-kata yang terdengar indah seperti integritas, kejujuran, teamwork, sinergi, kolaborasi dan … passion. Kata-kata tersebut sama sekali tidak berarti. Tidak bernilai, jika memang tidak pernah dirasakan, dipentingkan dan dibiasakan.

What you (really) value is reflected in your intention, action and behavior. Sepanjang sejarah bisnis di Indonesia dan dunia, tidak pernah ada korporasi yang tumbang karena tidak punya visi, misi dan values. Mereka tumbang karena membiarkan visi, misi dan values sebagai kata-kata indah semata. Sebut saja ENRON yang tumbang akibat kerakusan, kebohongan dan penipuan yang dilakukan para pemimpinnya. Nah, pada lobby kantor pusat ENRON kala itu terpampang kata-kata yang menjadi values. Dan salah satu dari kata-kata tersebut adalah “integritas.” Dor!

Value begins with clear intention to value certain matters. Jadi budaya adalah akibat dari serentetan proses yang diawali dari (1) Punya nilai-nilai (values) yang bisa dimengerti, dipahami dan diajarkan. Values tidak harus banyak, tidak perlu sempurna – namun yang penting dipilih melalui proses pikir dan rasa yang sesuai. (2) Kejelasan niat untuk menjadikannya bagian dari perilaku, kebiasaan dan kelaziman. (3) Mengkomunikasikannya dengan baik dan terus menerus, (4) Membangun sistem insentif dan disinsentif untuk memastikan perilaku tertentu terjadi, berulang dan lazim dan (5) Terdapat mekanisme pengukuran yang efektif.

Punya serangkaian values sama sekali bukan alat untuk mentransformasi orang lain kedalam budaya tertentu. Punya values juga bukan ukuran kesuksesan program-program budaya tertentu – yang seharusnya juga menandai kesuksesan berusaha. Punya values artinya ya… punya identitas. Sejalan dengan itu punya pedoman dalam bersikap, bertindak dan berperilaku. Dan dalam prosesnya, akan menyaring, memilih dan memilah siapapun yang akan – dan masih bergabung dengan organisasi.

Hal terburuk yang mungkin terjadi bagi individu atau organisasi bukan tidak punya value – namun saat value yang dideklarasikan bertentangan dengan value yang sebenar-benarnya dianut. Kenapa? Karena tidak ada yang lebih menyedihkan selain bohong pada diri sendiri. After all, the major value in life is not in what you get, but in what you become – anonymous.

Photo #mynameis by @toxicspirits

Pernah mengamati situasi ironis kontradiktif saat budaya yang terbentuk sekedar menggampangkan budaya? Saya tertarik menyimaknya. Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC.