Culture Happens!

July 16, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

How do we transform culture?

Bagaimana mengubah budaya? Terlebih saat budaya sudah berakar dan mendarah daging. Tidak masalah jika hanya urusan kebiasaan berlogat, berpakaian dan berperilaku tertentu yang tidak merugikan orang lain. Bagaimana dengan budaya malas mengantri alias langsung serobot? Bagaimana juga dengan budaya membuang sampah sembarangan seolah seluruh pelosok kota adalah tong sampah raksasa milik pribadi? Bagaimana pula dengan budaya boros (mulai soal keuangan, waktu hingga energi? Dan, bagaimana dengan budaya awam integritas (istilah keren buat rakus korupsi, kebohongan dan “kawan-kawannya”)?  Saya yakin banyak ahli punya pendapat walaupun soal pelaksanaan adalah urusan berbeda yang jauh lebih sulit dan repot.

Saya jadi teringat cerita segar saat memenuhi undangan buka puasa Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, beberapa minggu lalu.

Sebuah cerita yang masih berlanjut tentang perjuangan kawan-kawan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengubah budaya dunia pendidikan di republik tercinta ini. Cerita soal bagaimana meyakinkan segenap bagian ekosistem pendidikan bangsa bahwa pendidikan bukan soal nilai, namun pembelajaran. Bukan semata kelulusan, namun keberdayaan. Dan bukan sekedar ruang belajar, namun taman bermain.

Shifting culture = shifting the belief system of the entire group of people. Jadi apa yang dilakukan? Menjadikan UN (Ujian Nasional) sekedar sebagai alat ukur pemerintah dan mengedepankan IIUN (Indeks Integritas Ujian Nasional) sebagai alat transformasi budaya pendidikan. Apa maksudnya? Jika sebelumnya pencapaian UN adalah… segalanya: faktor penentu kelulusan, besaran insentif, kebanggaan sekolah dan orang tua, maka sekarang tidak lagi. UN sama sekali bukan penentu kelulusan. Karena tidak ada yang istimewa dengan pencapaian UN tinggi namun melalui cara-cara tidak jujur – baik individual atau kolektif. Sebaliknya IIUN adalah indikator kejujuran bagaimana UN dijalankan pada setiap sekolah. Kalau selama ini sekolah dipacu untuk mencapai nilai UN setinggi-tingginya, sekarang ajakannya adalah untuk menikmati proses belajar, melakukan yang terbaik (dengan jujur) dan menerima hasil apapun sebagai umpan balik berharga.

Culture happensnot what you think/wish/hope should happen.

Jika itu cerita tentang transformasi budaya pada dunia pendidikan, bagaimana dengan organisasi tempat kita bekerja? Apakah pembahasan budaya masih terbatas pada spanduk dan seminar? Apakah upaya transformasi budaya sekedar urusan unit transformasi budaya? Tidak salah, namun baru menyentuh area permukaan semata.

Budaya adalah soal nilai-nilai yang disepakati, dipercayai dan diyakin bernilai bagi setiap individu dalam organisasi. Budaya adalah yang terjadi, yang dirasakan – yang dirayakan.

Transforming culture is the business of the CEO, not only the Culture Team or the Human Resources Department. Banyak organisasi telah memiliki visi dan misi yang dahsyat – dan serangkaian nilai-nilai yang meyakinkan seperti Integrity, Teamwork, Excellence, Communication, Openness, Passion – dan sebagainya.

Tidak terhitung perusahaan yang telah tumbang atau harus berjuang melewati skandal walaupun memiliki seabreg values mumpuni. Sebut saja Enron, Lehman Brothers, Petrobras, FIFA dan berbagai organisasi lain.

Pertanyaannya adalah ini: Bagaimana nilai-nilai keren tersebut dirasakan, dihargai dan dirayakan oleh SETIAP anggota organisasi? Budaya TIDAK terbentuk dari nilai-nilai yang terdengar hebat, keren dan dahsyat. Budaya justru tergambar dari bagaimana pekerjaan dikerjakan, keputusan diputuskan, pesan dikomunikasikan dan pengukuran ditetapkan.

Tulisan ini saya tutup dengan mengutip Simon Sinek yang berargumen bahwa budaya bukan perkara terpisah dari kinerja dan bisnis organisasi. Semua adalah bagian tidak terpisahkan dari kesatuan yang sama: “Your company does not have a culture. It’s a culture.”