I was Wrong. But We can Still Reinvent Work-Life

July 8, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Today is my birthday.
The moment of humility.
Which may be the most fitting time for a candid confession.

I was wrong about the notion of finding passion.
Saya salah tentang passion.
Lebih tepatnya, saya salah tentang bagaimana kita – dan setiap orang,
bisa mengerti, memahami dan memaknai passion.

Let me tell you why.

Obrolan tentang passion muncul karena saya gemas setiap kali berjumpa mereka yang …
bekerja sekedar buat mengisi waktu,
berkantor agar punya identitas, dan
bergaji sebagai tujuan akhir & satu-satunya alasan kerja.

Betapa kerennya jika kita, kasta pekerja, bisa “memerdekakan” diri …
dari belenggu rutinitas tanpa makna,
dari keharusan tanpa rasa,
dari kerja tanpa karya.

Ajaran tentang “passion” mulai saya angkat sejak 2007 dan terus didengungkan hingga sekarang dalam berbagai kesempatan.
Mulai dari siaran radio #CareerCoach di HardRockFM,
hingga sekarang #UltimateU di SonoraFM.
Masih ingat buku “Your Job is Not Your Career”?
Dan pemaparan di @TEDxJakarta dan banyak pemunculan lain.

Passion. Passion! Passion?
Your passion is already within you.
It’s not what you’re good at – it’s what you enjoy the most.
You just need to be honest & brave.
You need to listen to your heart.
Masih ingat?

Apa hasilnya? Gagal.
Mungkin bukan gagal total, tapi – bagi saya – sangat jauh dari berhasil.
Tentunya selain membuat istilah “passion” jadi lebih lazim …
dalam percakapan dengan orang tua, saudara & teman,
dalam wawancara pekerjaan,
dalam iklan :p

Lantas kenapa merasa gagal?

Karena 9 dari 10 orang yang saya temui masih juga belum paham passion diri.
Bahkan sekarang, setelah 10 tahun memulai upaya,
mungkin hanya sekitar 15% pekerja yang bekerja sesuai dengan passion mereka.
Selebihnya (masih) tidak tahu – dan bahkan tidak peduli apa itu passion.
Sebagian orang bahkan berargumen untuk melupakan passion.
Perhaps it’s just not practical.
And overly abstract.

Upaya memahamkan passion pada banyak orang gagal karena saya melupakan satu common sense mendasar: To get the thing, you need to know the thing.

In other words, there is no passion GPS in your mind.

You don’t know where to go.
You don’t know what to look for.
And (most likely) you don’t even know where you are.

Let me explain.

Sulitkah menemukan rumah atau mencari alamat?
Tentu tidak. Terlebih dengan bantuan teknologi GPS di telepon genggam kita.
Kenapa mudah? Karena Semua syarat untuk mencari dan menemukan rumah sudah terpenuhi, yaitu …

Kita tahu bagaimana bentuk rumah – atau paling tidak alamatnya.
Kita tahu kita dimana saat ini.
Kita hanya perlu mencari jalan terpendek, termudah dan tercepat.

Jika analogi ini dipakai untuk upaya pencari passion – dalam diri sekalipun – maka tampak jelas problemnya.

Kita tidak tahu apa yang dicari.
Kita tidak tahu dimana yang dicari.
Kita, bahkan, tidak tahu kita berada dimana saat ini.

You see the problem now?

Mulai dari yang kita sukai & nikmati?
We enjoy so many things in life – or nothing at all.

Honest with self?
What does it mean? How?

Berani mencoba banyak hal?
Our culture & education system simply do not allow this.
And we may even be clueless on what to do and what to look for.

So what to do now?

The dream is still the same,
The method needs to be improved.

Tulisan ini bukan wujud kekecewaan, apalagi kefrustasian.
Sebaliknya, tulisan ini adalah ekspresi keyakinan tentang pentingnya passion.
Sekaligus kebutuhan untuk mencari cara lebih baik, mudah dan efektif.

Not just to talk about passion endlessly, but more importantly …
to work beyond routine.
to be part of something that gives us meaning.
to claim our roles with excitement.
to contribute through our creation
to live a life that matters.
to be the best version of yourself, the ultimate you.

And, you should be able to start from …
where-ever you are.
who-ever you are.
what-ever situation you’re at the moment.

I am working on this already, with my awesome friends at Impact Factory and many more.
We have some idea already.
You shall hear from us soon.
Here’re the keywords: Limitless Campus – Skills to Design Your Life.

And I need your help.
Spread this words.
Go easy on passion.
Focus on creation.
Your passion without creation is nothing.

If you walk in the path of your passion, tell me your story. Your struggles. Your moments.
If you remain clueless about passion, share your frustration. Your demise. Your pains.
If you are just curious to know – or to assist.

Reach out for your thoughts, comments and ideas to rene.canoneo@gmail.com / @ReneCC

There is still time.
We can re-invent work-life together.

Rene Suhardono Canoneo
Ozone Residence, Veteran – Bintaro
8 July 2016

  • Bije

    Terima kasih buat artikel yg inspiratif nya.
    Saya sangat setuju hidup perlu menemukan passion masing2. Dan saya (sayangnya) masih mencari passion saya. Persis yg artikel di atas sebutkan :

    “Kita tidak tahu apa yang dicari.
    Kita tidak tahu dimana yang dicari.
    Kita, bahkan, tidak tahu kita berada dimana saat ini.”

    Sedih memang…

    Bertahun-tahun saya ingin menemukan passion dan hidup sesuai passion, “merdeka” dari kasta pekerja…sayang belum beruntung

    Mohon pencerahannya Mas Rene

    Bije,
    43 thn
    (Profesi sekarang : Accountant)

  • tatik

    Ah om rene, artikelnya menyentil saya.

  • Lukman

    Namun, di samping itu, masih banyak kontra diksi antara bekerja sesuai dengan passion atau pun tidak. Bahkan sampai muncul “Mitos bekerja sesuai dengan passion”. Ini justru menambah kebingungan bagi pekerja yang belum menemukan passion mereka itu apa.

  • HW

    I think this usefull enough to preparation knowing our passion.
    Saat ini saya mulai memahami passion saya dengan bantuan artikel ini saya bisa lebih mendekat pada passion saya. Dan apa yang saya alami dalam pencarian passion akan saya tularkan ke pada teman saya agar mereka juga peduli dengan passionnya. Because my life not just for my self but for other people,, to smile togather everywhere,, thanks a lot, 🙂