Reframe Your Problems. Yes, Now!

July 2, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Duh… apa sih sebenarnya passion dan pekerjaan impian saya?

Musti gimana saat harus menghadapi bos menyebalkan itu?

Apa yang bisa dilakukan biar cepet gaji dan pangkat cepat naik?

Pengen jadi entrepreneur. Bisnis apa yang bakal untung gede ya?

Bagaimana supaya bisa kaya, populer dan beken seperti [sebut nama idolamu]? … Dan seabreg pertanyaan-pertanyaan serupa yang seringkali merebak dalam banyak acara, obrolan dan perjumpaan.

Punya pertanyaan itu wajar. Berani bertanya tentu bagus. Jauh lebih bagus daripada diam karena tidak peduli. Namun jika hanya bisa bertanya dengan harapan memperoleh “pencerahan” dari orang lain, tanpa pernah benar-benar memikirkan, mendalami dan memahami pertanyaan yang diajukan, maka hasilnya bakal nol besar. Nol manfaat. Pertanyaan sembari lalu tanpa pemikiran lebih lanjut bisa jadi justru akan berujung pada ketidakberdayaan – bahkan keputusasaan.

It’s not just about asking questions it’s about having the ability to reframe the questions. Sekali lagi bukan salah pertanyaannya, namun bagaimana pertanyaan tersebut diformulasikan, ditata-ulang dan di REFRAME. Bingung ya? Mudahnya begini. Coba pertanyaan-pertanyaan pada alinea awal ditata-ulang menjadi sebagai berikut:

Soal passion & dream job:

– Aktivitas apa yang membuat saya merasa berdaya – dan karya apa yang hendak saya munculkan dari aktivitas tersebut?

Soal bos menyebalkan:

– Apa hal menarik tentang si bos dan diri sendiri sehingga ada keasyikan diantara kita? Atau: Apa langkah-langkah yang harus diambil sekarang agar bisa memperoleh pekerjaan dan boss baru yang seru dalam 3 bulan kedepan?

Soal jadi entrepreneur:

– Apa hal-hal yang menarik bagi saya saat ini untuk bisa dijadikan peluang bisnis. Atau: Siapa yang bisa saya ajak ngobrol tentang peluang yang beririsan dengan kesukaan & kemampuan saat ini?

Soal kaya, popular & beken:

– Hmmm… Hal-hal apa yang bisa saya kontribusikan dengan lega & suka cita pada orang-orang terdekat? And what’s my next big thing?

Here’s the biggest problem: How do you see your problems. Bisa merasakan beda dua pertanyaan untuk masing-masing problem yang sama? Jenis pertanyaan awal lebih impersonal, pasif dan cenderung negatif. Sementara model pertanyaan kedua – atas hal yang sama – terasa lebih personal, action-oriented dan positif. Bisa jadi problem bukan semata tentang apa problemnya, namun bagaimana kita memandang problem tersebut.

Solutions are everywhere when you ask the right questions by reframing them. Dengan kemauan, kebisaan dan keberanian untuk menata ulang pertanyaan – dan problem, mendadak akan lebih banyak pilihan bisa dimunculkan. Semakin banyak pilihan juga berarti semakin besar peluang menemukan solusi. Jika pertanyaan soal passion tampak bergantung pada para ahli atau coaches, maka pertanyaan soal aktivitas dan karya seharusnya lebih “menggerakkan” dan memberdayakan diri. Hal serupa juga terjadi pada pertanyaan-pertanyaan lain.

Nah, soal cara melihat problem sendiri juga perlu di REFRAME. Problem karier, hidup, bisnis dan cinta – bukan sekedar untuk dipusingkan, direpotkan apalagi dipermasalahkan. Problem bisa jadi dihadirkan sebagai sarana untuk jadi lebih sadar, cerdas dan bijak. Penuntasan problem adalah ruang untuk berkiprah, berdaya dan bertumbuh kembang. Syaratnya ya cuma itu tadi: Jangan pernah terpaku pada problem dari satu sudut pandang. Asah kemampuan untuk melihat problem dari berbagai sisi – dan sebisa mungkin ambil sudut pandang positif, spesifik dan memberdayakan. Selamat mencoba. After all, there is no stupid question. There are only stupid people with questions. Please, do not be stupid.

Have some idea or care to comment about this writings? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com

Photo: #WHParchitecture by @ryanibee