Will I (still) be Relevant?

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Sebut tiga nama pekerjaan paling lazim saat ini selain dari yang anda jalani sekarang. Besar kemungkinan salah satu, dua atau bahkan ketiganya akan punah dalam waktu 10 tahun kedepan. Punah? Ya, punah alias menghilang atau dihilangkan dengan berbagai alasan. Sebut saja penjaga pintu toll yang rajin menerima pembayaran setiap kali mobil kita melintas. Bayangkan saat semua pintu toll diganti dengan gerbang otomatis yang bisa dioperasikan oleh mesin dalam berbagai bentuk dan cara – apakah pekerjaan selaku penjaga pintu toll bakal tetap dibutuhkan?

Sebut juga pekerjaan sebagai agen asuransi yang telah dan masih menjadi salah satu pilihan profesi masyarakat urban. Tidak mudah membayangkan bagaimana jenis profesi yang sangat bergantung pada kemampuan berkomunikasi dan network ini bisa tergantikan. Tapi coba tengok PolicyGenius – sebuah platform digital cerdas yang mampu melacak percakapan sosial media dan rekam jejak digital peminat polis asuransi. Premi polis yang dibebankan juga hampir pasti akan lebih murah. Kenapa? Karena platform ini mampu melayani secara sekaligus jutaan calon pelanggan – dan tidak lagi harus mengalokasikan anggaran untuk jasa agen asuransi. Bayangkan saat PolicyGenius atau aplikasi sejenis saat mulai berkiprah di seluruh dunia – dan Indonesia. Kira-kira apakah profesi agen asuransi bakal tetap relevan?

Most of the jobs we now know shall disappear in the near future. Masih banyak – bahkan terlalu banyak contoh-contoh lain yang sudah bisa terbaca melalui beragam indikasi yang tampak sekarang. Peran asisten rumah tangga menginap dan senantiasa memunculkan prahara kecil setiap Lebaran bakal tergantikan oleh layanan aplikasi seperti GoClean atau Beberes. Profesi supir taksi juga perlahan tapi pasti bergeser dengan kemunculan inisiatif Gojek, Uber dan Grab.

Do you really think your profession is safe and sound? Think again.
Tidak hanya sektor informal, pergeseran hebat juga terjadi pada profesi-profesi terkemuka – dan formal yang telah mendominasi dunia ketenagakerjaan sejak belasan, puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Sebut saja akuntan, bankir, guru, wartawan, agen perjalanan, pilot, surveyor, penerjemah bahkan politisi dan seabreg profesi lain. Semua beresiko menjadi tidak relevan di masa depan. Penasaran? Coba riset dan amati baik-baik perkembangan industri dan profesi yang terjadi sejak 5 tahun terakhir. Besar kemungkinan anda akan memperoleh gambaran apa yang akan terjadi 5-50 tahun kedepan.

How do we prepare our children for something that does not exist at the moment? Ini pertanyaan besarnya: Apa yang bisa dilakukan untuk senantiasa relevan? Atau jika kita sebagai orang tua dan/atau guru – bagaimana mempersiapkan anak-anak kita untuk pekerjaan, masa depan dan sesuatu yang belum menampakkan wujudnya saat ini? Relevansi tidak terbentuk dari jenjang pendidikan yang dilalui atau nilai dan peringkat yang dicapai saat sekolah. Berikut 3 fundamental yang perlu dipahami dalam upaya menjaga relevansi:

Pertama – kenali diri, kenali lingkungan – dan ambil peran. Peru-bahan apapun akan jadi sangat mengasyikan jika diawali dari kon-sep diri yang jelas dan tegas. Termasuk didalamnya pemahaman tentang passion, mission & values.

Kedua, asah, dalami dan kuasai 5 keahlian mutlak abad 21 tergambar secara mudah dalam istilah 5C: Critical Thinking, Communication, Creativity, Collaboration, Coding!

Terakhir, terima segenap perubahan dan beragam konsekuensinya sebagai kewajaran. Menolak adalah cara mempercepat kepunahan dan kehancuran. Bersiasat tidak semata dengan melihat pada masa lalu namun dengan mulai mangantisipasi masa depan saat mulai menampakkan wujudnya.

Kenapa semua ini penting untuk dibahas, dipahami dan dimaknai? The answer is very simple: “Imagine that 10 years from now, make sure you can say that you chose your life, you did not just settle for it – anonymous.”

Have some idea or care to comment about this writings? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com
Photo: #AmazingLife by @aleixsalvat