We Need More Decision Makers in Every Organizations

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Pernah berpikir bagaimana sebuah keputusan tentang apapun di-pertimbangkan, dipilih dan ditetapkan oleh rata-rata organisasi – atau oleh organisasi tempat anda bekerja sekarang? Setiap saat adalah soal keputusan. Ini berlaku bagi individu sejak bangun tidur hingga mata tertutup kembali di malam hari. Bagi organisasi juga sama, mulai dari perkara business-related seperti ini: Apakah klien baru bisa diberikan diskon? Berapa persen besarannya? Bisakah mempekerjakan pelamar ini – dan bukan yang itu? Berapa besar anggaran pelatihan untuk setiap orang. Dan model pelatihan seperti apa yang harus dilakukan? Hingga perkara remeh-temeh berikut: Mau makan malam bersama klien di restoran mana? Makanan apa yang harus dipesan? Berapa banyak? Film apa yang harus ditonton pas nobar bareng? Dan seterusnya.

Problem terbesar tentang keputusan adalah saat tidak ada kepu-tusan yang diambil. Atau jikapun ada keputusan, waktu yang dibu-tuhkan dan proses yang dijalankan terlalu lama, panjang dan ber-tele-tele sehingga saat keputusan muncul sudah sangat terlambat. Ini problem nyata pada banyak organisasi di Indonesia: Terlalu banyak keputusan tergantung pada terlalu sedikit orang. Semua terjadi atas nama birokrasi, senioritas dan azas kepatutan. Siapa yang lazim memutuskan? Mereka adalah para atasan, boss atau paling tidak para senior dengan strata (jauh) lebih tinggi dan telah bercokol lumayan lama di organisasi.

The best decision is to make one in timely manner. Sebagai ilustrasi, saat iPhone 6 diluncurkan beberapa tahun lalu, mendadak muncul pemberitaan yang dipicu dari percakapan media sosial kalau piranti tersebut menjadi bengkok saat diletakkan di kantong celana. Pemberitaan yang merebak luas ini membuat perusahaan paling berharga di muka bumi, Apple Inc, lumayan kerepotan kala itu. Nah, dalam hitungan beberapa hari sejak kejadian tersebutmuncul iklan dari Dockers, sebuah brand pakaian di Amerika Serikat yang bunyinya kurang lebih begini: Dockers menawarkan celana dengan kantong khusus untuk iPhone 6 anda agar tidak bengkok. Produknya belum ada dan hanya bisa dipesan online.

Every great things in life & business depend on the decision to try. Hasilnya? Dahsyat. Penjualan Dockers meningkat drastis akibat ke-jelian dan kecepatan melihat peluang pasar. Nah, hal yang paling menarik adalah bagaimana Dockers sebagai organisasi bisa cepat memutuskan. Tidak ada komite feasibility study, tidak perlu mekanisme bertahap serta berbelit dan tidak harus melalui kerepotan untuk meyakinkan satu sama lain terlebih pak boss didalam organisasi tentang inisiatif yang akan diambil.

We need more decision makers in every organization. Banyak or-ganisasi dan pekerja di Indonesia melihat pengambilan keputusan sebagai momok menakutkan. Bagaimana seandainya keputusan saya tidak disukai oleh atasan? Bisa selesai karier saya di perus-ahaan ini. Ketakutan berbuat kesalahan mempersempit tingkat toleransi terhadap resiko dan meniadakan keberanian mengambil keputusan. Tidak heran banyak perusahaan cenderung lamban mengikuti perkembangan zaman, minim berinovasi dan memusat-kan energi untuk hanya sekedar bertahan hidup.

Bayangkan sebuah organisasi yang dijalankan oleh sekelompok orang berdaya. Mereka paham konsep diri termasuk hal-hal yang hendak diperjuangkan dalam kehidupan ini. Mereka berdaya karena diberdayakan oleh satu sama lain untuk berpikir, bertindak dan berani terus menerus memutuskan berbagai hal demi kebaikan dan keberlangsungan perusahaan. Keputusan yang terkadang benar atau kali lain salah. Terkadang dirayakan atau kali lain disesali. Tidak mengapa. Karena bukan semata soal apa keputusannya, namun ketegasan dalam memutuskannya. Keputusan adalah titik awal kendali atas hidup ini. Pilihan dan harapan selalu ada bagi mereka yang berani memutuskan. Sekarang bayangkan anda sebagai salah satu orang berdaya dalam organisasi tersebut. Melegakan bukan? It’s your decisions, and not your conditions, that determine your destiny – Anthony Robbins.

Sedang menekuni @ImpactFactoryID | @CommaID | @ideafest | @LimitlessCampus | #Happy5

Colek saya di twitter: @ReneCC
Photo: #365project by @daniel_serva