Trust People – But Verify Along the Way

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Apa satu hal yang butuh bertahun-tahun dibangun, beberapa detik saja untuk dihancurkan dan selamanya untuk memperbaiki? Ini kata-kata mutiara yang menggambarkan trust – atau secara terbatas diterjemahkan sebagai kepercayaan. Tapi apakah benar selalu begitu? Bisa jadi yang seringkali terjadi justru kebalikannya. Kepercayaan relatif (terlalu) mudah diberikan kepada orang lain – bahkan orang baru sekalipun. Tidak percaya? Coba perhatikan bagaimana proses mempekerjakan orang lain untuk perusahaan atau untuk rumah tangga kita? Bagaimana si mbak atau pak supir dipekerjakan berdasarkan referensi mbak / supir tetangga semata. Bagaimana tugas penting di kantor diberikan pada pelamar yang tampak paling mengesankan di mata si boss. Dan bagaimana po-sisi-posisi publik dipercayakan pada orang-orang yang paling terkenal (alias belum tentu terpercaya). Mau tahu yang lebih me-nyeramkan lagi? Bagaimana pasangan dan orang-orang terdekat kita saat ini bisa menjadi sedemikian dekat? Apakah telah melalui proses panjang yang penuh pertimbangan dan pemikiran – atau justru terjadi hampir-hampir di luar kendali kita?

Mungkin saja secara naluriah memang kita, manusia, sangat ingin – atau bahkan butuh untuk mempercayai manusia lain. Dan ke-cenderungan ini sama sekali tidak salah… hingga terbukti salah di kemudian hari tentunya. Trust bukan perkara mudah walaupun seringkali dimudahkan. Kepercayaan relatif mudah diperoleh namun teramat sulit dipertahankan. Dan serupa dengan kehamilan pada perempuan, trust hanya bisa diberikan / diterima secara utuh. Artinya tidak ada istilah setengah trust atau separuh percaya. Kuncinya bukan dengan menyicil kepercayaan sebagaimana ungkapan pada kalimat pertama tulisan ini, namun justru bagaimana kepercayaan diberikan secara utuh dan diverifikasi secara berkala secara terus menerus.

Trust and verify – you just have to do both. Pernah dikecewakan karena telah mempercayai orang lain? Kesalahan bukan karena telah mempercayai orang lain, atau lebih mendasar lagi, kesalahan bukan karena telah memilih untuk percaya. Kesalahan terjadi karena kepercayaan diberikan tanpa tindak lanjut berupa verifikasi secara berkala dan terus menerus.

To trust is not about giving, it’s about trusting. Pilihan untuk tidak mempercayai siapapun tanpa alasan yang baik sama bodohnya dengan pilihan untuk percaya pada orang yang jelas-jelas tidak pantas untuk dipercaya. Kepercayaan bukan pemberian yang hanya berlangsung sekali untuk selanjutnya dilupakan sama sekali. Kepercayaan adalah pemberian utuh yang harus dijaga, dikelola dan diverivikasi.

No trust – no us! Kepercayaan sebagai pemberian utuh yang wajib dikelola berlaku bagi pasangan yang tengah kasmaran dan memu-tuskan untuk hidup bersama. Ini juga berlaku bagi segenap karya-wan dengan tempat mereka berkarya. Dan senantiasa berlaku dalam segala bentuk interaksi antar manusia sejak dulu sampai kapanpun.

Tidak ada kepercayaan tanpa cinta. Ilustrasi pernyataan ini tampak jelas pada cerita Zelmyra dan Herbert Fischer dari North Carolina, Amerika Serikat. Keduanya tercatat dalam Guinness Book of World Record sebagai salah satu pasangan menikah terlama yang pernah hidup di era modern. Keduanya telah hidup bersama terhitung sejak 1924 hingga saat Herbert meninggal dunia pada tahun 2011 pada usia 105 tahun. Dua tahun kemudian Zelmyra menutup mata pada usia yang sama dengan suaminya. Atas permintaan keduanya, mereka dikebumikan berdampingan sebagaimana saat masih hidup. Pernikahan panjang yang telah membuahkan 5 anak, 10 cucu dan banyak cucu dan cicit adalah cerminan cerita cinta dan kepercayaan. Mereka menjawab tidak ada resep khusus selain memilih untuk mencintai, mempercayai dan melakukan segala hal yang perlu dilakukan untuk satu sama lain dan keluarga. Terkesan terlalu mudah? Bisa jadi. Mencintai dan mempercayai adalah hal termudah bagi siapapun yang telah menetapkan pilihannya. Namun tindakan selanjutnya yang akan jadi penentu apakah sebuah interaksi akan menjadi cerita dahsyat seperti pernikahan Zelmyra dan Herbert – atau sebaliknya. After all, the best proof of love is trust – anonymous.

Sedang menekuni @ImpactFactoryID | @CommaID | @ideafest | @LimitlessCampus | #Happy5

Colek saya di twitter: @ReneCC
Photo: #LifeOnEarthWWIM13 by @hobopeeba