Seriously, Never Take Yourself Too Seriously.

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

“Karena saya [pilih salah satu atau dua atau lebih memang dirasa sesuai: pejabat / petinggi / orang penting / tokoh sukses / selebritis / public figure dst] maka dalam kunjungan ini sewajarnya memperoleh pelayanan sebagaimana mestinya dan ditemui oleh mereka yang setara dengan saya.” … “Tidakkah anda mengenal saya sebagai [… pilih sesuai dengan pilihan yang tersedia pada kalimat pertama], maka tolong anda dengarkan saya. Hormati saya. Dan hargai saya.” Sounds – or feels familiar? Kalimat-kalimat ini memang tidak diucapkan secara persis seperti itu namun sangat bisa terbaca oleh siapapun yang berada disekitar orang-orang yang boleh jadi memandang diri sendiri kelewat serius. Memang tidak berbahaya, tapi tetap saja aneh dan … menyebalkan.

Saya sengaja tidak menyebut mereka sebagai sombong karena memang bisa jadi perilaku dan ucapan tadi bukan refleksi tinggi hati – namun akibat dari terlampau serius melihat segala sesuatu yang melekat pada diri. Konon orang sombong senantiasa merasa-kan saat sedang menyombongkan apapun, sementara orang yang terlampau serius seringkali tidak melihat diri mereka sombong. Bisa jadi mereka terkesan sombong karena berusaha – dengan sangat serius – untuk tidak mempermalukan jabatan / posisi mereka. Tuntutan mereka bisa jadi sahih namun yaaa… tidak perlu terlalu begitu juga. Presiden Jokowi saja bisa rileks dalam bersikap, bepergian dan berinteraksi – kenapa sebagian bawahannya termasuk menteri dan pegawai negeri masih juga terlampau serius memandang diri dan jabatan mereka? Saya juga kenal banyak sekali orang-orang yang terhormat bukan karena jabatan atau popularitas, namun karena kontribusi mereka yang bisa dirasakan orang banyak.

Taking yourself too seriously = Believing you – and your tittle are the most important things in life. Terlalu serius memandang diri sendiri << ini problem remeh temeh yang bisa berdampak besar bukan sekedar pada diri namun juga keluarga, organisasi dan bahkan negara. Seorang manager yang kelewat serius memandang jabatannya akan menghabiskan terlalu banyak waktu mengontrol segala sesuatu tentang bawahannya - atau seringkali disebut se-bagai micro-managing. Tidak ada ruang untuk kesalahan karena akan sangat mempermalukan jabatan. Dan setiap kali ada kesala-han, pasti salah orang lain. Why? Because you think no one is as serious as you. Sad. Taking yourself too seriously = Being close-minded and unable to deal with differences. Saat ini masih terlampau banyak orang-orang yang memandang diri kelewat serius. Nggak percaya? Coba perhatikan saja linimasa di media sosial terutama pada bagian komentar di facebook, youtube dan twitter. Simak bagaimana perbedaan tentang apapun dibahas. Terkadang - seringkali "keseriusan" membahas perbedaan bukan semata soal dialektika memperkaya pemahaman, namun soal pilihan hidup dan mati. Masih ingat perdebatan soal kenapa Marck Zuckerberg cuma pakai jeans dan kaos saat ketemu Presiden kita? Bagaimana dengan razia warung bu Saeni yang masih juga dibahas sampai sekarang? Dan masih seabreg topik serupa lain yang dibahas dengan sangat "serius" oleh orang-orang "serius." You can never make real progress when you take yourself too seriously. Percayalah bahwa segala hal yang melekat dalam diri adalah untuk menjalankan suatu peran dan menuntaskan misi tertentu. Itu penting. Itu serius. Namun bukan berarti harus terlampau serius dalam menjalaninya. Belajar menertawakan diri sendiri. Perluas cakrawala dengan melihat lebih banyak, mendengar lebih sering dan tertawa lebih banyak dan sering. Para penggiat teknologi di Silicon Valley yang kerap memunculkan inovasi disruptif punya cara tersendiri tentang hal ini. Mereka tidak pernah membiarkan hal-hal serius menghalangi keasyikan menikmati hidup dan memunculkan karya. Saya jadi teringat ucapan Elon Musk, pendiri Tesla dalam sebuah wawancara televisi saat ditanya kenapa memandang diri kelewat serius adalah resep bencana paling ampuh? Jawabannya kurang lebih tergambar dalam kalimat ini: People who take everything seriously are miserable to be around, so why would you do such a thing? Have some idea or care to comment about this writings? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com Photo: #kidsiniran by @fardin.nazari_