Do You Want to be Happy? Really?

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Anda ingin bahagia? Atau, mungkin anda kenal orang yang tidak ingin bahagia – alias lebih senang untuk tidak bahagia? Pertanyaan berbau rhetoric yang terdengar aneh ini sepertinya tidak perlu dijawab. Bukankah semua orang selalu ingin bahagia? Selama ini saya juga berpikir begitu – hingga belakangan dengan sangat terpaksa saya jadi semakin yakin kalau ternyata memang ada orang-orang tertentu yang tidak ingin bahagia. Dan lebih seru lagi, mereka bahkan tidak menyadarinya… Oh, jangan khawatir. Saya sama sekali tidak sedang membicarakan orang tidak waras yang menghuni rumah pemulihan jiwa – sebaliknya, mereka tidak jauh berbeda dari anda, saya dan orang-orang di sekitar kita.

Siapakah orang-orang itu? Mereka adalah karyawan, pekerja, manajer, petinggi perusahaan, konsultan, pejabat, mahasiswa, guru, dosen, menteri dan beragam manusia yang tengah menghuni berbagai peran & profesi dalam masyarakat yang saat ini tengah tidak happy – namun memilih untuk TIDAK melakukan apapun. Mereka sudah merasakah ketidakbahagiaan ini sejak beberapa hari, minggu, bulan, hingga belasan bahkan puluhan tahun lalu, tanpa merasa punya pilihan untuk melakukan sesuatu. Singkatnya mereka tidak bahagia – dan mungkin tidak akan pernah merasakan bahagia sesungguhnya karena telah memilih untuk tidak punya pilihan lain dalam menjalankan pekerjaan, karier dan kehidupan ini.

The sad part is when you don’t even know you are unhappy. Tulisan ini saya susun karena masih terlalu banyak mereka yang merasa perlu justifikasi atas hidup yang jauh dari bahagia. Masih terlalu sering pernyataan dan pertanyaan seperti ini muncul: “Sebagaimana cinta yang tumbuh belakangan, apakah bisa menumbuhkan passion dalam pekerjaan saya sekarang?” – atau ini: “Kenapa harus bicara passion jika masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi?” – atau bentuk lain: “Saya pragmatis saja karena harus siap ditempatkan dimana saja dan mengerjakan apa saja.” Bagi saya ini adalah bentuk-bentuk ketidakbahagiaan yang sudah pasti dirasakan – namun tidak (baca: belum) diakui.

Your unhappiness shall prevent your surrounding to be happy. Soal ketidakbahagiaan ini – bisa saja belum diakui, namun orang-orang di sekitar kita sudah pasti bisa merasakannya. Apa indikasinya? Tidak ada lagi rasa keingintahuan tentang apapun karena semua hanya didasarkan pada keharusan belaka. Tidak ada kegelisahan soal masa depan dan kegeraman untuk mengambil peran dalam karya-karya yang mampu menjadikan sesuatu lebih baik / keren / dahsyat. Tidak ada aspirasi, ketertarikan berinteraksi dan kehebohan berinteraksi. Semua dijalankan semata atas nama tugas, instruksi dan komando.

Being unhappy may be easier than changing things to be happy. Jadi apa sih penjelasan paling masuk akal tentang orang waras yang senang untuk tidak senang? Kesimpulan saya bukan karena mereka tidak senang untuk senang namun karena pilihan untuk tidak punya pilihan terasa lebih mudah daripada harus memilih untuk melakukan sesuatu – untuk berubah. Dan untuk mengubah.

Jadi apa yang harus diubah? Pertanyaan lebih tepat untuk diajukan sebenarnya ini: Apakah sudah tahu – dan berani mengakui alasan ketidakbahagiaan saat ini?

Apakah sudah tidak tahan lagi bekerja dengan si boss itu?
Apakah tidak lagi mampu menemukan alasan lain bekerja selain karena masih menerima gaji setiap bulan?
Apakah sudah tidak lagi sanggup berkompromi dengan apapun yang terjadi pada sekeliling kita?

Apapun itu semua bisa diperbaiki jika ingin memperbaiki. Bisa diubah jika memang berani mengubah. Bukan dari organisasi – atau orang lain, namun dari diri sendiri. Dengan meyakini kalau pilihan selalu ada bagi yang mereka yang memilih. Unhappiness: When you choose not to have any other choices in life. Happiness: When you choose to – always – have choices in life.

Have some idea or care to comment about this writings? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com
Photo: #WHPoverunder by @magiccitymel

  • Tema tulisan yang menurut saya cukup aneh dan tidak biasa, karena berani jujur untuk membongkar bahwa masih ada di dunia ini orang yang memilih untuk tidak bahagia karena pilihan terpaksa.
    Terima kasih sudah mengingatkan hal ini mas Rene,