Being Critical, Yes | Being Cynical: No!

June 27, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Apa rasanya saat identitas anda dipertanyakan? Pertanyaan lebih tepatnya mungkin ini: Bagaimana cara meyakinkan bahwa anda adalah anda pada orang yang sama sekali tidak mengenal anda? Jawaban mudahnya: Lumayan rempong alias merepotkan. Ke-mapanan, kehebatan dan ketenaran – atau ke-ke istimewa lain yang anda pikir telah melekat pada diri sama sekali tidak ada artinya bagi mereka yang tidak tahu dan tidak peduli. Nah, saya baru saja mengalaminya segera setelah mendarat di San Francisco, California – Amerika Serikat. Petugas imigrasi yang teliti dan taat peraturan mempertanyakan kenapa nama di paspor berbeda dengan nama di visa. Rupanya paspor baru memuat nama keluarga ayah kandung saya yang berasal dari Filipina: “Canoneo” setelah nama saya: “Rene Suhardono”. Sementara nama yang tertera di visa hanya “Rene Suhardono” tanpa embel-embel apapun.

Kenapa bisa dua nama berbeda? Well, awalnya saya berasumsi penjelasan paling jujur bahwa saya baru mulai menggunakan nama belakang keluarga ayah kandung sejak 5 tahun terakhir – tidak akan dipercayai. Lagipula, bagaimana menjelaskan bahwa saya punya dua ayah? Apalagi jika harus menceritakan kalau saya baru bertemu ayah kandung 28 tahun setelah dilahirkan. Kekhawatiran akan diminta angkat kaki langsung terbayang. Harus ngomong bagaimana dong?

Know the difference between critical and cynical. Saya putuskan untuk bilang apa adanya. Dan penjelasan tersebut ternyata… diterima tanpa susah payah. Saya boleh melenggang melewati imigrasi dan sekarang bisa menuliskan kolom ini sambil menikmati keasyikan San Francisco. Petugas imigrasi tadi rupanya semata berupaya menjalankan pekerjaannya dengan kritis. Obyektifnya bukan untuk membuat hidup orang lain (baca: saya) sulit namun untuk memastikan semua orang yang melewatinya adalah benar-benar sebagaimana klaim mereka.

Being critical is okay while being cynical is a big no-no. Ternyata salah satu hal yang masuk kategori istilah bule banget adalah ketidakraguan untuk mempertanyakan banyak hal – boleh jadi semuanya. Kata “bule” disini tidak sekedar menggambarkan orang berkulit putih pada umumnya, namun mereka yang dididik dan dibesarkan dalam kultur peradaban barat. Dengan kata lain mereka sangat terlatih untuk menjadi (lebih) kritis dibandingkan kita. Sekali lagi kritis, bukan sinis. Keduanya terkesan serupa namun sangat berbeda – terlebih bagi penerimanya.

Criticism is doubt informed by knowledge. And cynicism is doubt informed by ignorance. Kritis dan sinis sama-sama didasari oleh keraguan akan sesuatu hal. Namun kritis berasal dari keraguan yang didasari oleh ilmu, sementara sinis adalah keraguan yang didasari oleh ketidakpedulian. Kritis menuntut respon jujur dan apa adanya – Sinis adalah refleksi penolakan atas segala hal yang baru atau berbeda sehingga tidak butuh respon sama sekali. Melalui observasi pribadi sekilas yang sama sekali tidak scientific, saya perkirakan untuk setiap orang atau komentar kritis diperkirakan terdapat lima orang atau komentar sinis.

Know the difference between criticism and cynicism – and respond accordingly. Setiap pernyataan, ide dan inovasi hampir selalu tidak dimengerti – dan disalahpahami pada awalnya. Ketidaknyamanan yang saya alami saat harus berhadapan dengan petugas imigrasi serupa dengan ketidaknyamananan para founder startup, karyawan dan siapapun saat harus mengemukakan ide. Semakin gila idenya semakin besar kemungkinan bakal dikritisi – atau di-sinis-i. Tidak ada masalah selama bisa membedakan antara keduanya.

Merespon komentar kritis akan mengantar pada perbaikan, penyehatan – bahkan pertumbuhan cara berpikir dan berkarya. Se-mentara komentar sinis cukup dilupakan saja karena hanya akan berujung pada perasaan negatif yang buruk. Tapi hal terpenting adalah untuk mengkritisi diri sendiri: “Terhadap apapun yang saya saksikan dan alami, apakah saya kritis – atau sekedar sinis belaka?” Sebagaimana pernah disampaikan oleh Aristoteles ribuan tahun lalu: “There is only one way to avoid criticism: Do nothing, say nothing – and be nothing.”

Have some idea or care to comment about this writings? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com
Photo: #AmazingLife by @benthouard