You are Both Introvert & Extrovert – in a Way.

May 22, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Anda masuk kategori extrovert atau introvert? Sejak lama saya selalu berpikir kalau kelompok extrovert adalah mereka yang dengan mudah bergaul, berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang. Mereka adalah party-goers, bahkan penyemarak setiap acara yang melibatkan banyak orang. Mereka lucu, pandai memuji dan senantiasa jadi pusat perhatian. Sebaliknya, introvert adalah julukan lain bagi mereka yang… ya… pemalu. Mereka punya teman yang bisa dihitung dengan jari, lebih senang menghabiskan waktu di rumah atau di tempat-tempat sepi. Dan seringkali merasa aneh saat harus berada ditengah-tengah keramaian. Pengelompokan telah dikenal luas ini seringkali menimbulkan kerancuan. Tidak jarang kita mendengar celetukan seperti ini: “Ah… jelas saja Fia tidak bisa bicara didepan publik, dia kan introvert. Sudah pasti tidak terbiasa mengungkapkan ide didepan banyak orang.” Atau dalam bentuk lain: “Tidak heran Lintang pandai bergaul dan punya banyak teman dimana-mana. Dia kan extrovert.”

Saya penasaran dengan konsep introvert-extrovert ini sehingga saya putuskan untuk mengambil test personality yang bisa memberikan gambaran diri. Hasilny? Berlawanan dengan pandangan banyak orang – termasuk saya sendiri, walaupun sangat menikmati profesi sebagai pembicara publik dan tampak pecicilan – apalagi jika diberi panggung – saya sebenarnya cenderung introvert yang (lebih) menikmati kesendiran dibandingkan keramaian. Apa buktinya? Saya sangat bisa menikmati perjalanan panjang belasan jam di dalam pesawat tanpa harus bertegur sapa dengan orang yang duduk di kanan-kiri. Sebagai informasi, jenis tempat duduknyapun kelas ekonomi jadi hampir selalu berdempetan dengan bahu menempel dengan tamu di sebelah. Bagaimana dengan anda?

There is no such a thing as a pure introvert or extrovert. Such a person would be in the lunatic asylum – Carl G. Jung. Sebagai dis-claimer, saya bukan psikolog sebagaimana rata-rata dari anda pembaca tulisan ini. Nah, berdasarkan referensi yang saya baca, konsep yang diusung oleh Carl G. Jung ini bukan soal pengelompokan namun mereferensikan kecenderungan. Tidak ada satu orang yang sepenuhnya introvert, sebagaimana tidak ada orang lain yang sepenuhnya extrovert. Jika ada maka mereka adalah penghuni rumah sakit jiwa.

Introvert-Extrovert is a dynamic concept. Hal menarik lain tentang konsep ini adalah dinamikanya. Introvert bisa melatih diri untuk jadi lebih nyaman berdiri, berbicara & berinteraksi didepan publik. Sebaliknya extrovert, juga bisa membiasakan diri untuk menerima kesendirian tanpa harus kesepian.

True self. Developed self. Best self. Kebisaan menumbuhkem-bangkan diri dari kecenderungan awal bisa jadi sangat bermanfaat dalam menjalani kehidupan. Coba perhatikan Presiden Jokowi yang seringkali tampak tidak terlalu nyaman saat berpidato, terlebih pada acara-acara formal. Boleh jadi beliau adalah seorang dengan kecenderungan introvert yang mampu mengembangkan dirinya untuk bisa jadi lebih nyaman berada didepan publik. Bayangkan potensi yang bisa dimunculkan dari pengembangan introvert dan extrovert pada kehidupan. Ini adalah proses evolusi konsep diri sepanjang hidup dari sekedar jati diri alamiah menjadi diri yang sebaik-baiknya.

Pemahaman tentang konsep ini juga bermanfaat dalam membina hubungan dengan orang lain. Hal terburuk yang bisa dilakukan adalah dengan sekedar menempatkan orang pada kotak introvert atau extrovert dan berinteraksi dengan masing-masing berdasarkan checklist semata. Manusia jauh lebih kompleks dan dinamis. Justru disini letak keasyikan dan keindahan berinteraksi dengan manusia lain. Jadi harus bagaimana? Perlakukan setiap orang secara sebagai individu yang bertumbuh-kembang dengan konsep diri tertentu dalam proses menjadi sedikit lebih baik setiap saat. Ya, ini berlaku bagi mereka dengan kecenderungan introvert ataupun extrovert. You are on your way to be the very best version of yourself – or not.

Colek saya kami twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #LifeOnEarthWWIM13 by @aljvd