We Just Have This One Life. What to Do Now?

May 7, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Dua hari libur menjelang akhir pekan adalah periode yang dinanti oleh banyak keluarga. Kapan lagi bisa bekerja 3 hari dan libur 4 hari?

Biar pun harus berebut tiket pesawat/kereta api dan berdesakan di tempat-tempat liburan dan tempat penginapan, no problem at all. Harus bermacet-macetan menuju kota”jajahan” seperti Bandung untuk penghuni Jakarta dan Malang untuk warga Surabaya – sama sekali bukan masalah. Bukankah tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan hasil yang bisa dinikmati diri sendiri dan keluarga? Peluang liburan akhir pekan (lebih) panjang dari lazimnya seperti sekarang tentunya tidak boleh dilewatkan begitu saja. Saya yakin Anda juga sedang menikmati liburan bersama orang-orang terkasih.

Sekedar menemani periode tenang sambil berkontemplasi tentang pekerjaan, karier dan kehidupan, saya sampaikan rangkaian tulisan yang telah dirangkum dengan sangat indah oleh sahabat saya Kang MamanSuherman. Inioleh-oleh dari pertemuan tempo hari saat diundang jadi narasumber di acara Indonesia Lawak Klub. Seru. Lucu dan menyenangkan – walaupun umur sudah kadaluarsa untuk beberapa becandaan anak gini hari. Berikut notulen Kang Maman dari obrolan kami malam itu:

“Bekerja benar tidak sekadar bekerja, namun dalam rangka berproses untuk memunculkan karya. Unjuk karya bukan semata unjuk kerja, apalagi hanya unjuk rasa. Dan modalnya adalah 4 kartu As dalam tumpukan kartu kehidupan, yaitu:

 Pertama, Kerja Ikhlas
, bekerja bukan sekedar bertransaksi untuk memperoleh suatu hasil, namun atas dasar mengambil peran menjadikan diri, orang lain dan kehidupan jadi sedikit lebih baik.

Kedua, Kerja Tangkas, bekerja dengan sigap, cekatan dan cermat. Bukan sekedar mengerjakan hal yang sama sesuai instruksi namun senantiasa mencari cara untuk menjadikan segala sesuatu lebih cepat, lebih tepat dan lebih baik. Ketiga, Kerja Cerdas, bekerja dengan mengkombinasikan pemahaman taktis dan strategis. Bukan sekedar mengejar output namun juga impact, bahkan makna.

Dan terakhir, last but not the least adalah Kerja Keras, bekerja dengan mencurahkan segenap kemampuan jiwa dan raga, namun dengan tetap mengukur kemampuan tubuh. Kenapa?Karena tubuh tetap punya hak atas segenap instrumen dalam tubuh ini.

Jadi mana yang terbaik?

Rupanya melalui diskusi tadi bukan sekedar memilih salah satu namun dengan memadukan keempatnya. Hanya dengan kombinasi kerja ikhlas, kerja tangkas, kerja cerdas dan kerja keras maka – dalam waktunya – akan mencapai tahap kepiawaian (mastery),dan pada saat yang sama hasil yang dimunculkan akan mengandung makna (meaning). Itulah KARYA, atau konsekuensi dari kerja benar.

Ada sebuah ilustrasi menarik tentang hal tersebut: Apabila kita digaji 5 juta, namun hanya berkarya seperti orang yang digaji 100juta (demi keasyikan memunculkan karya), maka pemiliknya dan semesta akan membayar kelebihannya berupa karier yang melejit, kesehatan prima, keluarga sejahtera dan keturunan yang cerdas. Namun jika bergaji 5 juta namun kita bekerja bagaikan orang yang digaji 1juta (tanpa niat dan keasyikan), maka walaupun pemilik tidak tahu/tidak peduli, semesta dan penciptaNya akan menuntu tsisanya dengan penyakit, kesulitan, hutang dan beragam masalah lain. 

Itulah hukum keseimbangan alam.

Jadi bekerjalah maksimal, padukan kepiawaian dan kebermaknaan agar karya senantiasa tercipta. Lalu ikhlaskan. Yakinlah dengan semesta dan Sang Pencipta. Selanjutnya, perhatikan segala hal yang akan Semesta dan Sang Pencipta buat untuk kebaikanmu, keberlangsunganmu dan kejayaanmu.

Orang biasa hanya mampu berkeluh kesah
. Orang luar biasa demi karya siap berpeluh basah!

Bila tak tahan lelahnya berkarya, 
bersiaplah menghadapi perihnya ketidakberdayaan. Dengan passion kita berdaya, berkarya dan berbahagia. 

Tanpa passion kita hanya akan mengalami ketiadaan dan ketidakberdayaan.”

Photo: #LifeOnEarthWWIM13 by @christophcolon