Mea Culpa. How to (Really) Say Sorry

April 25, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Kapan terakhir kali minta maaf pada siapapun? Dan bagaimana prosesnya? Apakah diterima dengan baik atau justru menambah intensitas konflik? Kemauan dan keberanian mengucap “maaf” sudah pasti masuk kategori perbuatan terpuji. Kenapa? Karena ini indikasi orang keren yaitu bertanggungjawab atas kesalahan dan berupaya mende-ekskalasi problem. Namun jika “maaf” disampaikan tanpa memenuhi prasyarat minimal tertentu maka hasilnya justru akan menambah runyam persoalan.

Konteks minta maaf sebanyak dan seberagam jumlah orang dan interaksi antar manusia. Mulai dari urusan percintaan dengan sang terkasih karena lupa tanggal jadian hingga perkara bisnis akibat cidera janji yang bisa berimplikasi pada saling tuntut di pengadilan. Jika dulu pertemanan terbatas pada desa / kota / wilayah tertentu, sekarang siapapun bisa berinteraksi dengan siapapun, kapanpun dan dari manapun. Beragam platform media sosial juga menambah intensitas dan kompleksitas pola interaksi – termasuk juga cara minta maaf saat harus dilakukan.

Nothing is easy about saying sorry – but it’s the most human & powerful thing you can do. Awal minggu ini misalnya, muncul ke-hebohan saat seorang komika kondang plus bintang youtube membuat aksi lucu-lucuan dalam sebuah prank videos (video iseng berskenario jebakan) dengan bertanya ukuran pakaian dalam remaja perempuan yang masih duduk di kelas menengah pertama. Saya tidak sempat menonton videonya karena sudah keburu menjadi private namun sempat bertanya-tanya tentang konteks lucu-lucuan ini. Saya penikmat standup komik dan paham betul sulitnya memancing tawa sehingga tidak jarang komika harus berani mengambil resiko. Namun saat sudah masuk ruang publik, sebagai bapak 2 anak perempuan, saya pasti akan melayangkan tinju jika bertemu siapapun di tempat umum yang bertanya ukuran pakaian dalam mereka. Kasusnya bisa jadi berbeda jika penyampaiannya dalam bentuk cerita pada sebuah panggung acara komika.

Don’t delay – Make it quick and intense. Kejadian ini sempat me-mancing saling sahut dan debat panjang pada beberapa platform media sosial. Sebelum saya sempat berkomentar, muncul “per-mintaan maaf” dari si Komika tadi lewat akun twitternya. Ini seha-rusnya kabar baik: Kesalahan diakui sang empunya dan permintaan maaf dilontarkan. Beres? Tidak. Bagaimana permintaan maaf tadi disampaikan ternyata justru menambah panjang persoalan.

Never say sorry unless you really mean it. “Maaf. Saya pikir ini lucu-lucuan. Rupanya becandaan barat belum bisa diterima disini.” Dilanjutkan dengan “Jangan menghakimi saya jika belum mampu – atau belum menyamai kesuksesan saya…” dan beberapa pernyataan senada. Membaca kalimat-kalimat ini bisa jadi niat sesungguhnya bukan meminta maaf, namun membela diri. Bayangkan jika permintaan maaf karena melupakan ulang tahun pernikahan disampaikan begini: “Maaf. Karena begitu banyak tanggal dalam setahun, saya jadi lupa tanggal nikah kita.” Suami manapun yang bernani mengucap seperti itu saya yakin akan kehilangan statusnya.

Own your mistake and take the blow on the chin. Tidak ada satu manusiapun yang kebal dari kesalahan, bahkan nabi sekalipun. Ya, 100% sepakat, namun tidak sepantasnya diucapkan saat meminta maaf. Terlebih jika diiringi embel-embel argumen pembelaan yang jauh dari rasa penyesalan. Becandaan ala barat? Jika ini terjadi di negara barat bisa jadi sang komika akan menghadapi tuntutan pelecehan seksual pada anak-anak dibawah umur. Jangan menghakimi jika belum sehebat dia? Jika demikian maka artinya yang layak menyuarakan protes pada Presiden Jokowi hanya mantan presiden lain. Belum lagi bicara soal ukuran-ukuran kehebatan atau kesuksesan yang bakal panjang tanpa ujung.

Tanpa bermaksud memperpanjang masalah, karena toh pernyataan-pernyataan tersebut telah dihapus dari linimasa twitter (semoga karena penyesalan), sekarang pelajaran apa yang bisa kita renungi bersama? (1) Maaf adalah ekspresi penyesalan hakiki, bukan ucapan atau tulisan. (2) Maaf adalah bentuk penghargaan atas relationship dengan orang lain melebihi ego pribadi dan (3) Maaf adalah refleksi kesiapan bertumbuh kembang. Jika 3 persyaratan tadi telah dipenuhi, tidak ada alasan untuk tidak memaafkan. Why? Because it takes a strong person to say sorry, but a stronger person to show forgiveness.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPlightandshadow by @serkancolak