Idea is Cheap. Execution is Everything! Here’s Why:

April 21, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Ada ide bagus? Ide keren selalu membuat pencetusnya tampak brilian, cerdas dan hebat. Bayangkan ide membuat pasar online tempat menginap yang bisa memberikan pengalaman berwisata lokal dan unik bagi siapa saja yang bisa mengakses internet. Ide tersebut dicetuskan, diujicobakan – dan direalisasikan dengan sangat cemerlang oleh Brian Chesky kedalam sebuah fenomena yang sekarang terkenal dengan nama Airbnb. Nah, valuasi airbnb saat ini (2016), yang belum beroperasi genap 8 tahun, sudah mengalahkan nilai brand-brand hotel terkemuka seperti Hilton (berdiri 1919), Hyatt (berdiri 1957) dan Mariott (berdiri 1991) yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu.

Bayangkan juga ide memunculkan alternatif pendanaan bagi para penemu dan penggagas tanpa harus mengandalkan institusi per-bankan. Ide tersebut sudah menjelma menjadi beragam platform crowdfunding / crowdfinancing dengan nama Kiva, Kickstarter atau dalam konteks lokal Kitabisa dan Gandengtangan. Sebut ide-ide bagus yang telah terwujud sekarang, bisa jadi anda bahkan pernah memikirkan, membayangkan dan membicarakannya – namun hanya terbatas pada itu. No need to feel bad. Saya juga sama – (merasa) sering memunculkan ide-ide keren yang tahu-tahu telah menjelma jadi startup / usaha / bisnis lebih keren lagi. Namun direalisasikan oleh orang lain.

Want to hear my idea? Please sign this confidentiality agreement. Lucu juga setiap kali memperhatikan bagaimana orang-orang ter-tentu menjadi sangat protektif atas ide-ide mereka. Sedemikian berhati-hatinya sehingga tidak jarang sebelum ide tersebut di-perdengarkan maka kita harus menandatangani perjanjian kerahasiaan. Ada kesan kekhawatiran besar ide “hebat” tersebut akan dicuri dan dimanfaatkan orang lain. Apakah memang selalu harus begitu?

Nothing is (really) new under the sun. Sekilas kekhawatiran pencurian ide memang wajar. Dan melindungi ide dengan cara apapun juga terkesan normal. Bukankah apapun yang muncul dari pemikiran kita adalah sepenuhnya milik kita sebagaimana kekayaan dalam bentuk lain? Well, kecuali memang ide telah dicetus, diujicoba, dirangkaikan dan didetailkan kedalam sebuah paten, maka ide tersebut murah atau mungkin tidak ada harganya. Bahkan paten sendiri punya banyak keterbatasan penerapan dan waktu.

Seriously, great idea is cheap – and anything less than that is worthless. Ide brilian tanpa dieksekusi dengan keren hasilnya hanya sekedar kebanggaan punya ide. Ide biasa saja tanpa dieksekusi hasilnya lebih jelek dari biasa saja. Dan ide jelek tanpa dieksekusi mungkin lebih baik. Derek Sivers dalam bukunya Anything You Want pernah menuliskan kalau ide cuma sekedar faktor pengali sementara yang sesungguhnya bernilai adalah: Eksekusi. Maksudnya kurang lebih seperti ini:

Ide brilian: 20
Ide biasa: 1
Ide jelek: -1
Tanpa eksekusi: Rp. 100
Eksekusi biasa: Rp 100.000
Eksekusi brilian: Rp. >100.000.000

Ide brilian tanpa eksekusi hanya bernilai Rp. 20.000 – tidak cukup untuk bayar parkir seharian. Sementara ide brilian dengan eksekusi brilian bisa bernilai paling tidak Rp. 2 milyard. Ilustrasi ini setidaknya bisa memberi gambaran kedudukan ide dan eksekusi. Bisnis, gerakan sosial dan organisasi butuh kedua komponen tersebut. Sah-sah saja merasa punya ide paling sahih, brilian dan dahsyat. Namun tanyakan juga hal-hal apa yang sudah dilakukan untuk mendekatkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Saya tutup tulisan ini dengan menyitir ucapan mendiang Steve Jobs terkait ide dan pelaksanaan: “Great ideas are worthless without polished execution.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPlightandshadow by @ipiripinapa