Delegate, or Die!

April 21, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Pembahasan ini secara khusus ditujukan bagi mereka yang tengah memulai usaha sendiri sebagai founder startup atau entrepreneur – apapun itu, dan mereka yang dipercaya untuk mengelola team (baca: punya anak buah) – berapapun jumlahnya.

Sibuk. Ini satu kata yang terkesan keren tapi sesungguhnya sangat berbahaya. Sibuk karena merasa harus melakukan segala sesuatu sendiri. Sibuk karena tidak ada waktu untuk mencari, melatih dan memberdayakan orang lain untuk membantu beragam pekerjaan. Sibuk karena semakin lama semakin banyak aktivitas dan tugas yang harus dilakukan sendiri. Sounds familiar?

Sibuk berbahaya karena jika dibiarkan maka tidak ada ruang untuk beristirahat, berpikir dan merasakan. Saya tahu persis bagaimana rasanya terjebak pada situasi ini. Awalnya karena berpegang pada prinsip “jika ingin beres maka kerjakan sendiri…” sehingga sebisa mungkin, apapun itu, dikerjakan sendiri. “Rene, apakah bisa bertemu dulu dengan boss saya untuk mendiskusikan yang tempo hari kita bicarakan?”, “Oh Rene, apakah boleh memberikan potongan / diskon untuk klien ini? Mereka sudah 2x pakai jasa kita.” hingga “Rene, proposal yang paling pas untuk diajukan ke calon klien ini seperti apa ya?.” Apapun saya coba kerjakan sendiri mulai dari mengemudikan mobil, membeli perintilan keperluan kantor hingga menyusun proposal. Akibatnya? Saya (semakin) stress, nggak happy dan memastikan ketergantungan mutlak pada (kehadiran) saya.

I can delegate – or I can kill myself. Semua harus lewat saya, semua harus atas persetujuan saya dan semua tergantung saya. Dengan kata lain tanpa saya, tidak ada pergerakan, pekerjaan dan pertumbuhan. Tidak ada orang lain yang bisa saya andalkan. Dan semakin lama hal ini terjadi semakin saya menyadari kalau saya sedang menggali kuburan sendiri.

You can do anything, but not everything. Kesibukan. Kerepotan. Ketidak-happy-an. Seringkali semua itu bersumber dari keengganan mempercayai orang lain dan kelelahan harus terus-menerus mengandalkan diri sendiri. Banyak hal bisa dikerjakan sendiri, namun tidak semuanya – dan sudah pasti juga tidak sekaligus bersamaan.

You can delegate authority, not responsibility. Mendelegasikan apapun bukan sekedar menyuruh, terlebih melempar tanggung jawab. Mendelegasikan secara keren butuh 3 hal utama: (1) Tetapkan hal-hal spesifik yang perlu didelegasikan, (2) Berikan pemahaman proses pikir bagaimana keputusan tertentu diambil dan penugasan tertentu dijalankan, (3) Berikan otoritas sepenuhnya, termasuk saat terjadi kesalahan.

Decision is not about the decision maker, it’s about why and how the decision was made. Keputusan tentang apapun bukan soal siapa yang memutuskan namun apa, kenapa dan bagaimana keputusan tertentu dijalankan. Berapa besar diskon bisa diberikan? Berikan pemahaman apa filosofi pemberian diskon bagi anda dan organisasi anda. Apakah sekedar untuk modal bernegosiasi – atau sesuatu yang lebih fundamental seperti penghargaan atas hubungan baik. Jika anda memahaminya maka tugas selanjutnya adalah memastikan pemahaman serupa juga dimiliki oleh team anda. Tidak bisa serta merta terjadi, namun melalui percakapan berkesinambungan.

Peran founder – atau leader bukan untuk mengerjakan semuanya, namun untuk memastikan setiap orang dalam organisasi paham fundamental – dan diberdayakan untuk mengambil keputusan se-jalan dengan fundamental tersebut. Bayangkan organisasi yang di-huni oleh orang-orang yang paham konsep diri, selaras dengan fundamental organisasi dan berdaya karena diberdayakan. Organ-isasi macam ini akan sangat ringan, mudah beradaptasi dan mampu bergerak cepat. Tunggu apa lagi? Catat hal-hal spesifik yang bisa mulai didelegasikan pada team. Jalankan hal tersebut hari Senin depan dengan tetap mengingat ungkapan ini: “If you delegate tasks, you create followers. If you delegate authority, you create leaders.

Colek kami di twitter: @ReneCC
Photo: #WHPKids by @sam.vox