Your Weakness is (also) Your Strength

April 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

The race is on! Proses pencarian pemimpin terbaik yang mulai menyita perhatian publik telah dimulai untuk DKI Jakarta dan, di seberang lautan, untuk Amerika Serikat. Keduanya tempak tidak berhubungan karena perbedaan lokasi, konteks dan skala. Namun keduanya punya karakteristik serupa yaitu sebagai tumpuan harapan segenap warga akan masa depan yang lebih baik lewat pemimpin terbaik. Nah, kata terbaik ini bisa jadi bermasalah karena setiap orang punya definisi masing-masing. Bisa jadi calon presiden Donald Trump dianggap terbaik karena punya pengalaman membangun kerajaan bisnisnya. Tidak heran dia mengangkat thema “menjadikan Amerika hebat lagi” – tentunya dengan mengajukan diri sebagai aktor utamanya. Tapi apakah artinya Ted Cruz atau John Kasich – dua pesaing terdekat Trump dari kubu yang sama tidak lebih baik? Lebih lanjut, apakah juga artinya Hillary Clinton dan Bernie Sanders dari kubu Demokrat menyepakati konsep Trump – dan para pendukungnya sebagai yang terbaik? Jawabannya pasti tidak.

Bagaimana dengan pemilihan calon Gubernur DKI Jakarta yang akan resmi berlangsung tahun depan (2017)? Apakah Ahok adalah kandidat terbaik karena keberhasilan menggerakkan kota ini sejak mendampingi Jokowi tahun 2012? Bisa jadi. Saya termasuk yang merasakan geliat Jakarta yang nyata sejak 2012 dibandingkan sejak puluhan tahun sebelumnya. Bukan berarti semua problem kota Jakarta teratasi, namun paling tidak saya merasakan pembenahan dan pergerakan luar biasa dari pemerintah kota yang sebelumnya cuma sekedar muncul dalam acara seremonial belaka. Namun pada saat yang sama, saya juga merasa terganggu dengan beberapa “amukan” Ahok yang sudah masuk kategori kasar. Lagi-lagi hal ini juga bukan berarti saya dengan serta merta akan mencari antitesis Ahok seperti Sandiaga Uno yang ganteng dan kalem. Atau Ridwan Kamil yang jenaka, bersahaja dan berhasil menggeliatkan Kota Bandung. Belum tentu. Dansudah pasti saya tidak akan mempertimbangkan kandidat-kandidat lain yang … pokoknya nggak saja. Lantas bagaimana memutuskan pemimpin terbaik?

Leadership & learning are indispensable to each other. Ini kabar baiknya: Pemimpin terbaik bukan pemimpin sempurna. Tidak ada pemimpin sempurna karena tidak ada manusia sempurna. Esensi kata “terbaik” juga bukan soal kekuatan atau strength yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Apapun yang dianggap sebagai kekuatan sebenarnya adalah juga kelemahan – dan sebaliknya.

Your weakness is your strength and the other way around. Kekuatan Ahok sebagai pemimpin tegas dan berani – juga berarti kelemahannya dipersepsikan sebagai pemimpin kasar dan beringas. Kecepatan kerja Ahok dalam memutuskan segala sesuatu terkait Jakarta juga bisa dipandang sebagai kekurangcermatan dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Hal serupa untuk para pesaing Ahok juga berlaku. Sandiaga Uno yang tampak santun dan kalem misalnya – juga bisa jadi dipersepsikan lemah dan lamban. Dan ini juga berlaku untuk siapapun yang layak disebut – atau menyebut diri sebagai pemimpin.

The strengths in every people, not just the leader, is the real strength of organization. Lantas harus bagaimana? Jawabannya bisa ditujukan untuk para pemimpin yang tengah disorot dan bagaimana kita, yang dipimpin, perlu menyorot mereka: Lihat siapa orang-orang yang dipilih oleh para pemimpin tersebut untuk mendampingi mereka.

Pemimpin baik sangat sadar kalau dirinya tidak sempurna – dan sangat paham kelebihan yang sebenarnya juga adalah kekurangan dirinya. Pemimpin hebat akan mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang bisa bicara eye to eye alias setara tanpa tedeng aling-aling. Pemimpin istimewa adalah pemimpin yang melakukan dua hal tadi dan senantiasa memilih orang-orang tersebut adalah mereka yang mampu mengkompensasi kelebihan (sekaligus keku-rangan)nya. Keistimewaan pemimpin istimewa adalah saat bisa menggerakkan orang-orang terdekat dan segenap yang dipimping untuk bergiat, berkarya dan berkreasi menjadikan segala sesuatu jadi lebih baik. Sebagaimana pernah diucapkan oleh Ronald Reagan, “The greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPeyetricks by @_yafiqusman_