Sprint – and Recovery!

April 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Pernah dengar istilah fatigue dalam bahasa Inggris? Artinya kele-lahan luar biasa sehingga setelah istirahat atau tidur sekalipun tetap terasa lelah. Anda pernah mengalaminya? Saya merasakan keadaan ini beberapa minggu terakhir. Berawal dari banyak keinginan (baca: nafsu), saya melibatkan diri pada berbagai inisiatif berbeda yang masing-masing membutuhkan waktu, perhatian dan energi. Lebih heboh lagi karena masing-masing aktivitas melibatkan banyak orang – dan sebagian dari mereka tinggal pada zona waktu berbeda maka terpaksa saya harus terjaga dan bekerja pada jam-jam aneh. Jika dikalkulasi maka saya bisa menghabiskan waktu kerja antara 60-80 jam per minggu. Ini masih belum termasuk godaan dari berbagai platform media sosial yang menawarkan keriuhan tersendiri. Waktu tidurpun berkurang karena… sibuk.

Nah, anehnya, pada saat saya merasa sedemikian sibuk, saya justru merasa semakin tidak produktif. Kenapa? Karena daftar pending items bertambah panjang. Banyak keputusan penting tertunda. Saya merasa sulit berkonsentrasi. Dan ya itu tadi, saya merasakan kelelahan luar biasa. Apa yang saya alami ini pernah dibahas dalam sebuah kajian apik dari Harvard Business Review dengan judul the “Energy Project” tahun 2014. Melalui pemaparan tersebut didapati kalau 74% pekerja kantoran masuk kategori low energy alias berenergi rendah. Tidak mengherankan kinerja secara umum juga rendah, tingkat kesehatan memburuk dan tingkat kecemasan bertambah.

Life is not a marathon – it’s about sprint & recovery. Mungkin anda pernah dengar istilah bahwa hidup itu seperti lari marathon, bukan sprint (lari cepat). Saya pikir ini salah total karena bisa jadi kehidupan adalah rangkaian sprint – and recovery. Lari cepat jarak pendek – dan istirahat! Kalimat ini berasal dari penulis buku The Power of Full Engagement, Tony Schwartz.

The 3 keys in life: Live a life of mission – Work passionately – And Make time to rest. Misi hidup memberikan arah kehidupan. Passion menawarkan keasyikan dalam bekerja dan berkarya. Sementara istirahat memungkinkan pemulihan diri secara berkala. Jika tidak percaya bisa diamati kenapa Sang Pencipta memberikan malam hari untuk waktu istirahat setiap hari. Dan akhir pekan sebagai periode tenang setiap minggu.

Your body is your temple, not amusement park. Tidak ada yang lebih manusiawi – dan spiritual, dari kebutuhan untuk memulihkan diri. Badan secara alamiah paham saat merasa lelah. Namun seringkali sinyal yang dikirimkan oleh tubuh tersebut tidak dihiraukan atas nama target, ego, harga diri, pencapaian dan kesuksesan. Merangkum beberapa rekomendasi penting terkait hal ini dari Adam Schwartz dan Harvard Business Review terkait hal-hal yang perlu diperhatikan setelah “berlari kencang” adalah sebagai berikut:

Pertama, buat skedul untuk beristirahat setelah bekerja selama 90-120 menit. Bisa jadi kita tidak merasa membutuhkannya, namun istirahatkan saja tubuh dan pikiran sesuai skedul tersebut. Istirahat disini sekedar berdiri, berjalan-jalan dan melepas penat.

Kedua, berikan waktu lebih panjang untuk jeda istirahat tersebut. Kenapa? Karena walaupun tubuh sudah merasa pulih dari kepena-tan, pikiran perlu waktu lebih panjang. Jika anda pikir butuh waktu 15 menit, lipat gandakan saja.

Terakhir, miliki daftar orang-orang yang bisa membuat anda merasa energized. Maksudnya bagaimana? Anda pasti kenal beberapa orang yang setiap saat anda bersama mereka, anda merasa rileks, lega dan happy. Hindari orang-orang yang membuat anda merasakan sebaliknya.

Sulit? Bisa jadi – tapi silahkan coba untuk memastikan keberlang-sungan kinerja, kesehatan dan kewarasan anda. Tulisan ini saya tutup dengan kalimat yang pernah saya dengar puluhan tahun lalu dari seorang petani anggur di Perancis: “You can’t do a good job – if your job is all you do.”

Have some idea or care to comment? Reach out for me at twitter: @ReneCC | rene.canoneo@gmail.com

Photo: #ColorfulDay by @hanifshoaei