Not Just Persistence, but the RIGHT Kind of Persistence!

March 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

“Kunci sukses adalah ketekunan atau persistensi!” – pernah dengar? Saya yakin kalimat ini seringkali diucapkan oleh banyak orang bijak, dan oleh mereka yang merasa bijak pada berbagai kesempatan. Anjuran tersebut muncul dalam berbagai variasinya seperti ini: “Terus jalani dan tekuni profesi apapun yang telah dipilih maka nanti pasti sukses.” Atau dalam bentuk berbeda: “Bisnis apapun jika dijalani dengan persisten pasti akan membuahkan hasil.” Contoh lain lagi: “Terus tekun belajar maka nanti akan lulus dengan nilai tinggi lalu bisa melanjutkan pendidikan lanjutan di tempat unggulan untuk kemudian dapat kerja dan hidup sukses gemilang?” Sounds familiar, right? Terdengar sangat normal, masuk akal dan wajar. Lagipula, bukankah semua nama-nama besar dalam sejarah dunia, negara dan bisnis senantiasa didominasi oleh mereka yang tekun dan persisten? Bagaimana menurut anda?

Persistensi memang penting – bahkan teramat penting dalam proses tumbuh kembang diri, namun bisa jadi perlu diperjelas persistensi macam apa yang tepat. Seorang penulis lagu bisa saja mengarang puluhan atau ratusan lagu sepanjang kariernya, namun hanya segelintir yang menduduki puncak anak tangga lagu-lagu populer. Cerita serupa juga bisa terjadi pada penulis, pebisnis, politisi dan berbagai profesi lain di dunia. Dan lebih jauh lagi, tidak semua – atau mungkin lebih banyak penulis yang bukunya tidak laku. Pebisnis yang bisnisnya tidak pernah benar-benar jalan. Dan politisi yang tidak pernah terpilih mewakili apapun. Apakah kegagalan tersebut semata karena mereka tidak tekun dan tidak persisten?

Persistence is often misunderstood as doing the same thing over and over again. Segala bentuk nasihat tentang ketekunan seringkali disalahartikan dengan anjuran mengerjakan hal yang sama secara terus-menerus hingga berhasil. Jualan bakso tidak laku hari ini? Maka atas nama persistensi besok jual bakso yang sama lagi untuk besok, lusa dan minggu depan hingga sukses laku keras – atau kehabisan modal.

The right kind of persistence is about persistently improving and innovating. Persistensi pada esensinya adalah ketekunan untuk terus menerus menguji dan mengkaji umban balik. Dan pada saat yang sama ketekunan juga adalah dalam hal memperbaiki, meningkatkan dan memajukan kualitas proses. Sehingga didalamnya terdapat dua elemen utama yang teramat penting: kreativitas dan inovasi. Sebaliknya, upaya untuk secara terus menerus mendorong hal-hal yang tidak berjalan baik sama sekali bukan persistensi – dan juga bukan ketekunan.

If it’s not working, change it – or at least, change some part of it.
Anda, saya dan kita semua selalu punya ide-ide yang bisa dikembangkan menjadi beragam karya dan kreasi untuk dinikmati orang lain. Nah, jika karya dan kreasi tersebut tidak diterima oleh pengguna – atau paling tidak hanya ditanggapi secara basa-basi belaka, hentikan segera! Ini bukan waktunya untuk sekedar tekun memaksakan ide, kehendak dan ambisi. Ini justru saatnya untuk menelaah, mengkaji dan menimbang hal-hal yang telah dijalankan. Selanjutnya? Tekun unuk memperbaiki, menyempurnakan (walaupun tidak akan pernah benar-benar sempurna) dan memantapkan. Terus persisten dalam berkreativitas dan berinovasi.

Percobaan kedua, ketiga dan seterusnya harus terus dibarengi oleh perbaikan. Jangan cepat berpuas diri dengan respon ala kadarnya. Jika memang tidak istimewa bagi pengguna maka artinya memang terdapat beberapa hal yang harus diubah. Reaksi positif tergambar dengan spontanitas dan antusiasme. Selalu. Sehingga jangan buang-buang waktu untuk sekedar mengerjakan ala kadarnya – atau mencoba dengan “tekun” hal-hal yang sama sambil mengharapkan hasil berbeda. Albert Einstein sangat paham soal ini saat mengatakan ini: Insanity is about doing the same thing over and over again and expecting different results.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPsplitsecond by tonipascualcuenca