No! Business is NOT About the Money

March 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Pekan lalu saya berkesempatan mampir ke San Francisco, Amerika Serikat untuk menghadiri konferensi oleh, dari dan untuk para penggiat startup bidang SaaS (Software as a Service)? Apa itu SaaS? Ini salah satu phenomena terbaru startup teknologi yang secara khusus dibangun untuk menawarkan berbagai bentuk solusi bagi bisnis / korporasi. Uniknya, SaaS – atau Software on Demand, menggunakan jalur distribusi berbasis dunia maya yang efisien, tidak membutuhkan pembelian peralatan baru dan tanpa proses implementasi heboh. Contohnya Talk Desk, salah satu unicorn (startup bernilai diatas USD 1 milyard – atau Rp. 1 Triliun) yang berasal dari Portugis menyediakan layanan sistem call center berbiaya super murah bagi organisasi dan siap dioperasikan dalam waktu < 5 menit. Talk Desk yang baru beroperasi kurang dari 5 tahun telah memberikan layanan bagi puluhan ribu organisasi pada puluhan negara di dunia. Tiago Paiva, pendirinya yang belum juga berusia 30 tahun muncul sebagai sosok baru disegani di kalangan startup berbasis teknologi di Silicon Valley. Banyak sekali contoh lain pada bidang ini seperti Digital Ocean - startup cloud hosting yang telah muncul menyaingi Amazon, Intercomm - startup penyedia platform layanan konsumen, Planet Labs - startup penyelenggara satelit nano untuk pencatatan lebih mutakhir permukaan bumi dan lain-lain. Bisa google nama-nama tersebut jika penasaran. Nah, sebagaimana kehadiran Uber dan Gojek sebagai "pengacau inovatif" industri transportasi yang telah membuat deg-degan semua pemain lama, SaaS juga punya efek serupa bagi para pemain yang telah bercokol lama. Bayangkan apa yang dirasakan para pemain call center konvensional - saat harus berkompetisi dengan Talk Desk? Sekarang perusahaan beromset Rp 100 juta per bulan bisa punya call center sebaik bank berkelas triliunan rupiah. Bayangkan kerepotan lembaga satelit internasional saat harus berhadapan dengan jasa murah meriah namun super efisien dari Planet Labs? Jika dulu gambar updated satelit hanya bisa diperoleh setelah beberapa tahun atau oleh negara dan institusi raksasa, sekarang petani biasa di AS bisa mengaksesnya. Dan lebih menarik lagi saat diketahui bahwa kinerja Uber yang dahsyat didukung oleh peran dari paling tidak 8 pemain SaaS. Kehadiran Saas sudah, masih dan akan terus memunculkan banyak terobosan. Business is not about money. Diantara cerita sukses kelas global dari para pelaku SaaS yang telah mendunia ternyata terdapat 1 kesamaan. Semuanya tidak pernah (terlalu) memikirkan soal uang. Mereka sama sekali tidak memikirkan cara-cara menjadi kaya. Se-baliknya, mereka memfokuskan diri pada upaya-upaya menjawab problem nyata yang dirasakan oleh pengguna / konsumen. Business is about realizing your mission & contributing to others. Jika sering dikesankan kalau sukses startup adalah soal "exit" (saat para pendiri menjual saham mereka dengan harga berkali lipat pada investor / korporasi / bursa saham), maka disini yang paling sering dibahas adalah soal bagaimana startup bisa memberikan nilai tambah pada konsumen / pengguna, supplier, karyawan dan siapapun yang terlibat. Business is about fulfilling your dreams and that of other people. Sekedar bekerja atau berbisnis untuk uang hanya akan menyurutkan kreativitas - dan dalam konteks startup, aktivitas adalah faktor utama untuk bertumbuh kembang. Sejalan dengan itu, obsesi menjadi orang kaya hanya akan mengaburkan misi awal saat mulai bekerja / berbisnis. Duit - atau menjadi kaya raya, adalah sekedar konsekuensi saat semakin banyak orang terbantu dengan kehadiran kita, bisnis kita dan startup kita. Sehingga jika hanya bekerja / berbisnis untuk uang, maka bisa jadi uang diperoleh, namun kenikmatan lain yang jauh lebih esensi tidak akan pernah dirasakan. Apa saja itu? Kenikmatan berkarya, berbagi dan bersyukur. Tulisan ini saya akhiri dengan menyitir kalimat dari Dharmesh Shah, pendiri @hubspot "It takes more than technology, to build something big. You also need philosophy." Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID Photo: #WHPReflective by @lucaventer