It’s about Being, NOT Having

March 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

Kaya – miskin. Sukses – gagal. Kondang – biasa. Ini ukuran-ukuran yang paling lazim digunakan untuk menilai seseorang, termasuk diri sendiri. Sebagai contoh Donald Trump, calon kandidat Presiden AS dari Partai Republik yang penuh warna dan kontroversi itu misalnya. Jika anda sempat bepergian ke kota New York maka bisa melihat nama dia tersebar pada banyak gedung pencakar langit. Ada Trump Tower, Trump Building, Trump Palace dan masih banyak yang lain – semua mengambil nama, atau diambilkan nama setelah pemiliknya, the Donald. Tidak cukup sekedar untuk penamaan gedung, Trump bahkan dipakai untuk nama kasino, merek parfum dan berbagai bentuk minuman beralkohol yang beredar luas dan eksklusif. Bisa jadi itu ukuran yang dikehendaki oleh sang pemilik nama untuk meyakinkan orang lain (dan dirinya sendiri) bahwa dia super kaya, super sukses dan super kondang.

Setiap orang punya cara berbeda dalam mengukur dirinya – dan orang lain. Paling mudah tentu seperti Mr. Trump, dengan menggunakan uang dan berbagai bentuk kekayaan yang tampak sebagai ukuran. Bagi penganut paham ini maka jika setiap akhir tahun pundi-pundi dan koleksi kekayaan bertambah maka artinya mereka baik-baik saja – dan sebaliknya. Salah? Tidak juga – terlebih untuk Donald Trump walaupun bukan satu-satunya cara mengukur diri. Nah, spesifik tentang Trump, saya pribadi lebih memilih Trump sebagai nama gedung, bukan presiden sebuah negara adi daya. Kita lihat saja nanti.

How do you grade yourself? Please be honest. Kelompok lain menggunakan ukuran berapa banyak uang / kekayaan yang dikontribusikan pada orang lain, keluarga lain dan masyarakat. Apakah terdengar lebih elegan dibandingkan kelompok yang per-tama disebut? Bisa jadi.

How do you measure yourself = how do you measure your life. Ontowirjo Amin Singgih, almarhum ayah yang membesarkan saya pernah menyampaikan bahwa terdapat 2 ukuran dalam memaknai peran kita dalam kehidupan ini: Pertama, berapa banyak orang yang hidupnya bisa menjadi lebih baik atas kehadiran kita. Dan berikutnya, berapa dalam pengaruh kehadiran kita pada kehidupan segelintir orang. Dulu saya selalu percaya keduanya bisa dijalankan bersamaan namun belakangan, saya semakin menyadari bahwa keduanya adalah pilihan.

How do you measure yourself = how do you measure other people. Bagaimana menilai diri sendiri hampir selalu merefleksikan bagaimana menilai orang lain. Dengan memilih untuk tidak terlampau peduli pada uang dan kekayaan maka otomatis saya juga tidak terlampau memandang penting uang dan kekayaan orang lain. Sebaliknya, karya yang bermanfaat sangat beresonansi untuk saya pribadi. Siapapun kreator karya-karya bermanfaat saya pandang istimewa tanpa memperdulikan agama, ras, kebangsaan, gender dan penampakan fisik para penciptanya. Ini adalah ukuran hidup yang saya pilih.

Yes. It’s all about being – not having. Trump tidak istimewa se-bagaimana siapapun juga tidak istimewa jika hanya mampu unjuk harta. Sebaliknya, Mark Zuckerberg, penemu dan pendiri Facebook istimewa bukan karena kekayaannya yang melebihi Trump. Mark istimewa karena karyanya yang telah digunakan oleh 1 dari 7 penduduk dunia. Mark lebih istimewa karena mendonasikan hampir USD 1 milyard untuk sebuah organisasi non profit. Mark sangat istimewa karena telah menyatakan akan mendonasikan 99% kekayaannya untuk berbagai gerakan sosial.

Apapun ukuran yang anda gunakan dalam kehidupan ini, silahkan saja. This is your life. Namun sedapat mungkin tidak sekedar berorientasikan pada segala hal yang tampak oleh mata. Tulisan ini saya tutup dengan mengutip tulisan dari Vince Lombardi, pelatih legendaris american football AS tahun 1960an: “The measure of who we are is what we do with what we have.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPthisislove by @paolochained