Emotionally Static Language? No More Please!

March 9, 2016 | RENE

SCROLL TO READ

“Apa kabar?” Pertanyaan paling umum sebelum memulai percakapan dengan siapapun yang hampir selalu dijawab dengan pernyataan ini: “Baik-baik saja.” Entah benar-benar baik atau memang sudah terbiasa menjawab demikian setiap kali ditanya apa kabar. Lagipula, kenapa orang lain harus tahu sebenar-benarnya kondisi perasaan, kesehatan dan kehidupan kita? Jangan-jangan nanti dituduh curhat lagi. Daripada menjawab jujur apa adanya, lebih baik menjawab yang lazim, aman dan normal saja agar basa-basi awal percakapan bisa segera berlalu. Anda sepakat?

Respon serupa dengan cara berbeda juga muncul saat menghadiri seminar motivasi. “Apa kabar?” – sebagaimana lazimnya sang pembicara atau pak boss bertanya dengan setengah berteriak. Ini harus segera dijawab dengan keras, lantang secara bersamaan oleh seluruh peserta acara dengan kata-kata heboh seperti “LUAR BIASA!” atau “DAHSYAT yes, yes, yes!” atau berbagai bentuk lainnya. Tidak jarang diulang-ulang sampai beberapa kali untuk menggugah semangat kebersamaan. Sounds familiar? Apakah salah? Nggak juga – selama memang semua secara kolektif merasa luar biasa. Lantas apa masalahnya?

Here’s the problem: These are emotionally static language! Siapapun yang menjawab “luar biasa” bisa jadi merasakan hal-hal apapun – selain luar biasa. Mereka mungkin hepi, lega, tenang, penasaran, lelah, ngantuk, malas, bingung atau bosan – apapun itu selain luar biasa. Kenapa begitu? Karena luar biasa bukan salah satu bentuk perasaan definitif yang bisa dirasakan oleh manusia. Bagaimana sih rasanya luar biasa? Lebih dari sekedar biasa-biasa saja? Lantas biasa maksudnya bagaimana? Lagipula, jika setiap saat ditanya jawabannya “luar biasa” mungkin saja luar biasanya sebenarnya ya… biasa saja. Ya kan?

Stop expressing yourself with something you are unable to feel. Menurut kajian neuroscience yang belum lama ini saya baca, bagian otak yang mereferensikan perasaan atau intuisi adalah limbic system. Nah, bagian otak ini berbeda dengan bagian lain yang mengendalikan logika, bahasa dan pengetahuan. Dengan kata lain, kita secara umum merasakan tanpa melibatkan logika. Sehingga persyaratan terpenting adalah bagaimana sesuatu disampaikan dengan otentik – dan dirasakan dengan jujur.
Emotionally static language shall lead to emotionally unintelligent people. Bahasa emosi statis adalah kata-kata yang terucap tanpa peran, tanpa makna dan tanpa rasa. Lazimnya sekedar dilontarkan untuk meramaikan ruang hampa tanpa suara alias untuk basa basi belaka. Baik penyampai atau penerima pesan sudah sama-sama terbiasa dalam, dan terlatih oleh, norma-norma kepatutan tertentu namun tanpa pemahaman lebih lanjut. Walhasil, apapun yang terucap dalam bahasa emosi statis tidak akan menyentuh perasaan dan sama sekali tidak menggerakkan.

Jadi harus bagaimana? Berusaha untuk senantiasa jujur tanpa harus lebay. Kenapa hanya menjawab “baik” tanpa benar-benar merasakannya? Kenapa harus menyeragamkan jawaban saat beragam perasaan justru adalah justru langkah awal banyak percakapan bermakna? Kenapa tidak menyimpan kata-kata minim makna seperti “luar biasa” untuk menggambarkan saat situasi memang benar-benar luar biasa? Kenapa tidak menggunakan kata-kata yang memang bisa benar-benar dirasakan dangan jujur? Sebagaimana pernah disampaikan dengan sangat elegan oleh Elizabeth Gilbert, penulis novel Eat Pray Love yang kondang itu: “Your emotions are the slaves to your thoughts, and you are the slave to your emotions.” – bisa jadi ini ajakan untuk benar-benar berhati-hati dalam menetapkan pemikiran apapun dan belajar untuk lebih banyak merasakan.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #WHPfirstlight by @mannyphotos_