Know Your Limit. Learn to Accept & to Walk Away

December 29, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Pernah kena cacar air? Lebih spesifik lagi, pernah kena cacar air saat usia sudah melewati 40 tahun? Beberapa minggu terakhir saya merasakan dahsyatnya penyakit ini saat tertulari si bungsu Raviv. Nah, jika Raviv bisa melalui dengan mudah dalam hitungan 4 hari, saya harus melewati minggu ke-4 sebelum benar-benar pulih – itupun masih dengan menyisakan bekas-bekas “medan pertempuran” antara virus cacar air dengan imunitas tubuh pada sekujur badan dan wajah. Sepertinya nama cacar air untuk kelompok umur tertentu harus diganti jadi cacar api. Bagaimana rasa penyakit yang konon sekali seumur hidup ini? Demam, gatal, linu, pegal, sulit menelan dan susah tidur selama berhari-hari. Pokoknya sesuatu banget deh.

Setelah melalui beberapa hari yang penuh rasa sakit, hari-hari selanjutnya diisi dengan tidur, makan dan istirahat. Semua rencana pertemuan, pembahasan dan kegiatan harus ditunda atau dibatalkan. Mengecewakan memang, tapi apa boleh buat? Benar-benar tidak banyak yang bisa dilakukan selain menanti aktivitas virus mereda dan berlalu. Bagi orang hiperaktif seperti saya kondisi ini sama sekali tidak mudah untuk diterima. Hingga saat-saat terakhir menjelang puncak rasa sakit, saya masih mencoba untuk tetap keluar kota memenuhi janji. Jika saja tidak diingatkan oleh @yamunaa istri saya untuk mengukur kemampuan diri dan yang lebih penting, jangan menularkan penyakit kepada siapapun – bisa jadi saya nekad pergi dan terkapar di tengah jalan. Dan benar saja, keesokan harinya saya benar-benar tidak bisa beranjak dari tempat tidur sama sekali.

You can have plans but the universe may have very different ideas.
Pengalaman istimewa ini mengajajarkan satu hal penting terlebih untuk salah satu orang paling sok tahu seperti saya. Siapapun dan apapun pasti punya batasan. Hal paling sulit adalah untuk mengakui dan menerima keterbatasan diri dengan lega, sabar dan berani.

The problem is not with the limit – it’s about not knowing your own limit. Kesehatan, kecerdasan, kekuasaan, kekayaan dan berbagai lambang-lambang kesuksesan lain seringkali berfungsi sebagai pedal gas dalam kehidupan. Dan pedal gas hanya bermanfaat jika dibarengi oleh keberadaan pedal rem yang berfungsi baik. Jika sehat, apapun terasa bisa dilakukan dengan segera. Jika cerdas, siapapun terkesan (lebih) bodoh dan tidak (lebih) penting dari kita. Jika kaya & berkuasa, batasan seolah tidak ada – atau mungkin hanya berlaku untuk orang lain.

Letting go & walking away means you are exercising self-control & good decision-making. Terkadang memaksakan kehendak terasa benar namun sama sekali tidak realistis. Ketimbang menghancurkan diri sendiri dengan berbagai pemaksaan, bisa jadi hal terbaik adalah mengenali seni kapan harus berdiam, berpasrah atau meninggalkan semuanya. Ini bukan kelemahan, justru sebaliknya, ini adalah bentuk upaya pegang kendali atas situasi.

Waktu punya peran yang jauh lebih penting dalam kehidupan da-ripada sekedar sebagai komoditas untuk dilalui. Tempatkan waktu diantara problem apapun dengan diri sendiri maka pada waktunya akan muncul cara pandang yang lebih lengkap, sehat dan bijak. Termasuk didalamnya waktu untuk memulihkan diri dari sakit cacar air bagi saya. Atau waktu untuk menerima keputusan pemutusan hubungan kerja karena alasan apapun. Atau waktu untuk tidak memaksakan business deal yang semakin memberatkan. Dan sebagainya. After all, no matter how tough your problem, this, too, shall pass.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #SouthernHemisphere by @dylan_odonnell_