Wrong is Wrong – Even if Everyone is Doing It.

December 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

“Bisakah membedakan kebangsaan orang dari komposisi sendok-garpu pada piring bekas makanan dalam pesawat yang ditinggal-kan?” Celoteh teman saya yang kebetulan bekerja untuk sebuah maskapai penerbangan. Jawabnya: Jika sendok dan garpu membentuk tanda kali artinya dia orang Amerika Serikat. Jika sendok dan garpu dalam posisi sejajar, kemungkinan besar dia berasal dari salah satu negara Eropa. Nah, jika tidak ada sendok dan garpu yang tersisa (baca: diambil) maka artinya dia orang Indonesia. Ini guyonan yang terasa menyebalkan terlebih bagi kita, orang Indonesia, namun ternyata didasari kisah nyata yang terjadi berulang kali. Memang tidak ada larangan tegas membawa pulang sendok-garpu, sebagaimana juga tidak melanggar hukum, namun tetap saja olok-olok ini mereferensikan minimnya pemahaman soal etika.

Cerita lain? Beberapa waktu lalu seorang pelari marathon elit dari Kenya dalam sebuah lomba lari jarak jauh mengurangi kecepatan larinya demi membantu seorang pelari difabel untuk minum. Tindakan ini berakibat pada gagalnya si pelari Kenya tadi menjuarai lomba dan walhasil hanya menduduki posisi kedua. Apakah dia mengambil keputusan tepat? Jika dilihat dari kacamata memenangkan lomba semata sudah pasti keputusan untuk membantu pelari difabel salah besar. Namun jika dipandang dari kacamata etis, tindakan ini justru tepat, terhormat bahkan terpuji.

When in doubt, tell the truth – Mark Twain. Tidak mudah mendefinisikan etika – bisa jadi secara umum istilah ini berarti kemampuan berkata jujur apa adanya dan bertindak benar, apapun konsekuensinya. Bukan karena takut diperkarakan di pengadilan atau ditangkap aparat berwenang, etika muncul dari kesadaran diri tentang apa yang benar dan salah dalam kehidupan. Menjaga etika sama sekali tidak mudah mengingat rata-rata manusia bohong 3x dalam 10 menit waktu percakapan, bayangkan berapa banyak kebohongan dalam sehari, setahun atau seumur hidup – oh, ini bukan pendapat saya namun para pakar ilmu psikologi. Mau tahu data-data relevan lain? Dalam sehari kita dibohongi rata-rata sebanyak 200 kali. Dan 75%-82% dari kebohongan tersebut tidak bisa dideteksi. Dan anak bayi sudah mulai belajar memanipulasi orang tua mereka sejak usia 6 bulan. Sehingga tidak mengherankan upaya menjadikan etika sebagai pedoman bisnis dan politik di Indonesia masih teramat jauh.

Honesty is the best policy. Kejujuran bukan sekedar berkata jujur pada orang lain, namun yang terpenting apakah sudah jujur pada diri sendiri. Salah satu bentuk yang paling nyata adalah dengan perilaku dan perbuatan. Manifestasinya banyak mulai dari memenuhi janji yang sudah diucapkan, senantiasa menyuarakan kebenaran dan bisa diandalkan dalam kondisi sesulit apapun.

Wrong is wrong – even if everyone is doing it. Right is right – even if nobody is doing it. Kebenaran bukan kontes popularitas, bukan survey dan bukan transaksi. Kebenaran bukan juga milik yang paling berkuasa, paling kaya atau paling populer. Saat kejujuran sudah disangsikan dan perilaku sudah dipertanyakan, tidak banyak yang tersisa dari seseorang – siapapun dia. Bagaimanapun, ketidakjujuran, ketiadaan akuntabilitas dan kredibilitas adalah resep paling ampuh untuk menghilangkan kepercayaan orang – meniadakan etika.

Apa yang muncul pada cerita pertama diatas bisa jadi adalah cerminan saat etika hanya sekedar jadi obrolan akademik dan minimnya orang-orang yang patut dicontoh tindak tanduk dan perilakunya. Semoga orang-orang baik yang jadi bagian dari bangsa ini mampu bertahan, bersinergi dan bertindak untuk kebaikan bangsa ini. Robert Noyce sangat memahami hal ini saat dia mengatakan: “If ethics are poor at the top, that behavior is copied down through organization / nation.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #hellomynameis by @vandheur