Design Your Life. Now.

December 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

“Never be a grey-man!” – ini bunyi nasihat dari mentor saya saat mulai menapaki dunia kerja puluhan lalu dan masih teringat jelas hingga sekarang. Oh, petuah ini sama sekali tidak berhubungan dengan film favorit sebagian besar perempuan urban tentang Mr. Grey yang diadaptasi dari buku 50 shades of grey yang heboh itu. Grey-man yang dimaksud adalah identitas warna diantara putih dan hitam. Abu-abu bukan putih. Dan abu-abu juga tidak hitam. Sehingga grey-man or grey-woman artinya memilih untuk selalu “main aman” mengikuti kemanapun angin bertiup. Lebih jauh lagi, grey-man selalu memilih untuk tidak punya pendapat pribadi yang selalu diikuti oleh ketidaktegasan karakter – dan kealpaan misi hidup. Gaya bicara pilihan greyman? Normatif tanpa rasa. Mereka bertindak sesuai instruksi. Bekerja semata untuk memenuhi KPI dengan tujuan mempertahankan pekerjaan, bisa terus naik gaji dan diingat oleh orang-orang tertentu terutama para boss.

Kenapa harus mati-matian berupaya untuk tidak jadi grey-man? Karena jika sudah terlanjur akan sangat sulit memulihkannya. Pengaruh rasa aman semu yang dimunculkan oleh candu akhir bulan (baca: gaji) bakal sedemikian dominan untuk melakukan hal-hal lain. Nah, jika sudah pada tahap itu, pekerjaan akan menggantikan misi hidup. Dan proses tumbuh kembang diri sudah pasti terhambat. Tidak ada keasyikan berkarya, tidak ada kejelasan arah kehidupan dan tidak ada penciptaan, terobosan dan aha! moments. Tentu hal ini tidak ada salahnya jika yang dikehendaki hanyalah kerja tanpa karya – dan kehidupan tanpa rasa.

Belief is about conviction, not knowledge. Grey-man adalah akibat ketidaksiapan menjalani kehidupan, terlebih paska pendidikan tinggi. Hal ini sangat lazim terjadi karena mahasiswa lebih banyak memfokuskan diri pada penuntasan tugas akhir dan kelulusan dengan nilai tinggi. Cara pandang yang lazim: Kuliah untuk lulus. Lulus untuk dapat pekerjaan layak. Pekerjaan untuk hidup dan keluarga. Keluarga untuk melakukan hal-hal yang serupa. Dan hidup untuk mati. Pemahaman konsep diri, lingkungan dan perencanaan hidup dipandang sebagai sesuatu yang “menye-menye” dan nice to have belaka. Walhasil, desain kehidupan terabaikan.

The only one who can hold you back is your own grey-man. Mendesain kehidupan mencakup perencanaan ide dan langkah-langkah yang dijalankan secara sadar untuk benar-benar memahami diri sendiri beserta misi dan potensi yang terkandung.. Bukan sekedar menjawab pertanyaan seperti “apa passion saya?” atau memunculkan pernyataan seperti “saya moody”, “saya sulit fokus”, “saya mudah bergaul” dan sebagainya. Lebih penting dari itu, konsep diri terbentuk dengan terlebih dulu membongkar pemahaman keliru tentang konsep diri.

Yes, you can take part in shaping your own future and the better future for everyone else. Dalam konteks ini siapapun memang pu-nya kualitas, kekuatan dan karakter alamiah – namun setiap orang juga punya kapasitas untuk bertumbuh kembang menjadi lebih fokus, lebih sabar, lebih tekun – singkatnya menjadi diri sendiri da-lam versi terbaik. Selanjutnya, mendesain kehidupan adalah soal menanamkan nilai-nilai esensial seperti kesadaran, bersyukur, murah hati, kolaborasi, ketabahan dan lain-lain. Caranya bukan dengan menghapal namun dengan menjalankannya.

Apa lagi? Mendesain kehidupan adalah soal memilih untuk men-jalani hidup sebagai bagian tidak terpisahkan dari ekosistem. Tidak ada karya hebat tanpa peran orang lain. Tidak ada pencapaian dahsyat tanpa kolaborasi istimewa. Kehidupan bukan sekedar soal memilih diantara pilihan berganda. Namun soal bagaimana memunculkan pilihan-pilihan yang paling sesuai dengan arah ke-hidupan yang ditempuh, dinikmati dan dirasakan. The very idea of designing your life is to create a life of mission whereas you are healthy, happy – maybe a little hectic but are playing your role in creating a better future for everyone else.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #hellomynameis by @vandheur