Un-Confuse Yourself = Make Decision!

November 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Siapapun yang tergolong manusia normal pasti pernah merasakan ragu, galau, bingung dan bimbang. Anda, saya dan siapapun dipastikan tidak kebal dengan perasaan dilematis yang lazim muncul saat harus memilih diantara dua atau beberapa pilihan. Tidak pernah mudah karena setiap pilihan selalu mengandung unsur ketidakpastian dan konsekuensi yang bakal berdampak langsung pada kehidupan. Ragu saat harus memilih perguruan tinggi dan jurusan kuliah menjelang kelulusan SMA. Bimbang kala sedang mencari kerja atau harus memutuskan diantara beberapa opsi profesi dan pekerjaan. Galau saat harus menentukan pilihan diantara dua orang terkasih untuk menjadi pasangan hidup. Dan bingung saat harus menentukan tempat tinggal, sekolah anak dan seterusnya.

Kabar baiknya setiap perasaan tersebut adalah sinyal dari dalam jiwa untuk berbuat sesuatu. Perasaan galau, bingung dan bimbang juga adalah indikasi kalau kita memandang penting situasi yang dihadapi sehingga perlu dilalui dengan hati-hati. Kabar buruknya jika dibiarkan berkepanjangan akan jelek bagi kesehatan jiwa dan proses tumbuh kembang diri. Bagaimana tidak? Penundaan berkepanjangan bakal membuat banyak hal tertunda. Lamban memutuskan kuliah pasti berdampak pada waktu terbuang. Enggan menentukan pillihan hidup bisa jadi ditinggal menikah oleh keduanya. Nah lho!

Decision is about conviction & belief, not knowledge & information. Menunda-nunda keputusan seringkali didasarkan pada keinginan untuk punya informasi lebih lengkap dan tahu lebih banyak. Harapannya menunda satu bulan atau satu minggu atau satu hari akan mendatangkan lebih banyak pengetahuan sehingga bisa lebih mantap saat harus memutuskan. Disini letak salah satu problem terbesarnya: Waktu – atau bahkan informasi tambahan sama sekali tidak menjamin keyakinan untuk memutuskan.

To decide is to make a stand from the past, in the present – and for the future. Kata “decision” berasal dari bahasa Latin “decisio” atau “decidere” yang berarti memotong tuntas. Bahasa Indonesia sudah mengadopsi kata ini dengan tepat sebagai “keputusan” artinya sesuatu yang harus diputus atau dituntaskan. Syaratnya bukan kelengkapan informasi, namun keyakinan untuk menentukan pilihan dan keberanian menjalani konsekuensi pilihan tersebut.

When a decision is made is so much more important than what decision is made. KAPAN sebuat keputusan ditetapkan bisa jadi lebih penting daripada APA yang diputuskan. Kecepatan pengambilan keputusan juga berperan penting dalam mengusir keraguan, kebimbangan dan kegalauan sehingga bisnis bisa bergulir dan kehidupan bisa terus berjalan.

Make use the perfect window of time to make decision. Namun kecepatan juga tidak berarti keteledoran. Para ahli ilmu psikologi dan sosiologi melalui serangkaian riset yang panjang bahkan percaya bahwa kualitas keputusan sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan waktu yang tersedia semaksimal mungkin. Maksudnya jika perlu memutuskan hari Kamis maka ada baiknya memanfaatkan segenap waktu yang ada dan memutuskan pada hari Kamis – dan tidak sebelumnya atau sesudahnya.

Catatan penting lain dalam seni mengambil keputusan dan men-gusir keraguan adalah komitmen untuk menjalaninya. Keputusan benar atau salah bisa dirasakan kemudian saat muncul kelegaan (jika keputusan benar) atau penyesalan (jika keputusan salah). Itu untuk pembelajaran dalam proses pengambilan keputusan berikut, bukan alasan untuk tidak mengambil keputusan. Tunggu apa lagi, jangan berlama-lama pada posisi dilematis. Tentukan tenggat waktu. Bergiat mencari informasi sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu tersebut. Dan putuskan dengan sepenuh hati dan berani. Sebagaimana dengan sangat elegan pernah dituliskan oleh seseorang tentang pembahasan ini:
“Everything worthwhile in life starts with the decision to try.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactory
Photo: #hellomynameis by @_casta_