From Now on, Please Speak Authentically

November 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Salah satu hal yang paling sering dikhawatirkan – atau bahkan ditakuti oleh banyak orang dewasa, apapun profesinya, adalah saat harus bicara didepan publik. Mulai dari presentasi resmi di tempat kerja hingga saat harus memberikan sambutan pada acara keluarga di lingkungan tempat tinggal. Berdiri didepan banyak wajah dengan berbagai ekspresi dan beragam pemikiran terasa sangat menegangkan. Panggung dan podium terasa bagai berada di dunia lain. Bayangkan, semua gerak-gerik, ekspresi dan suara akan jadi bahan perhatian semua orang. Tidak bisa tidak, isi pikiran berkecamuk hebat yang didominasi pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apakah mereka mengerti ucapan saya?”, “Bagaimana jika perkataan ini menyinggung perasaan salah satu atau banyak orang?” dan “Apa yang harus dilakukan agar saya bisa diterima dan penderitaan berdiri didepan banyak orang ini bisa segera diakhiri?”… Apakah anda juga merasakan hal yang sama?

Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang panik setengah mati saat dia tahu harus menggantikan boss-nya untuk bicara dalam sebuah forum regional. Walaupun fasih berbahasa Inggris, teman saya ini merasa tidak punya bakat bicara, terlebih bicara didepan orang-orang yang dipandang penting dalam sebuah forum formal organisasi. Biarpun tergolong karyawan berpotensi tinggi, dia juga merasa tidak cukup menguasai berbagai teknik bicara didepan publik. Berhubung tidak sempat lagi mengikuti kursus publik speaking, dia meminta saya untuk memberikan beberapa tips sebelum berangkat. Berhubung saya juga sedang padat, saya cuma jawab permintaan ini sekenanya: “Tenang saja. Resiko paling buruk yang mungkin terjadi ya paling dipecat. Terima saja resikonya dan ngomong apa adanya sebagaimana sedang bicara dengan seorang teman.”

Speak your truth no more, no less. Bisa jadi itu nasihat paling buruk yang bisa diberikan namun hasilnya ternyata efektif. Teman saya bicara apa adanya di depan forum termasuk tentang hal-hal yang tidak dia ketahui. Dia juga tidak punya ekspektasi untuk disukai, diterima – apalagi dielu-elukan – sehingga jauh lebih memudahkannya untuk bicara tanpa beban. Penting untuk dicatat tips ini tidak berlaku untuk semua orang. Atau sangat mungkin juga keberhasilan teman saya tersebut bukan karena tips ini.

The stage is everywhere, not only the one in front of you. Tulisan ini saya sampaikan sebagai argumen bahwa bicara di depan publik bukan soal bakat, bukan soal apakah anda introvert atau ekstrovert, bukan juga soal sertifikasi yang diperoleh setelah ikut kursus public speaking. Bicara di depan publik adalah soal pemahaman (baca: kejujuran) diri dan keberanian mengekspresikan (melalui kesanggupan menerima resiko).

Speaking authentically will allow people to feel your truth. Bicara otentik menjadikan seseorang nyaman dengan gaya dan cara apapun yang dia pilih. Kenyamanan ini bisa dirasakan oleh orang-orang lain. Dan pada dasarnya, siapapun lebih suka bicara dengan orang yang jujur – termasuk orang yang paling tidak jujur sekalipun. Bicara otentik sama sekali berbeda dengan bicara opini. Bedakan antara konsep speaking truthful yang diusung dalam bicara otentik dengan bicara sekedar menyampaikan opini ya. Kita semua punya banyak (sekali) opini – bahkan tidak sedikit yang merasa opini tersebut adalah fakta. Opini senantiasa dipengaruhi oleh perasaan superior sebagai yang paling tahu – atau paling benar. Dan tidak ada seorangpun yang suka bicara dengan mereka yang merasa paling benar.

Sebaliknya, bicara otentik mengisyaratkan kejujuran terhadap apapun yang tengah dirasakan. Bisa jadi tengah merasa sedih, khawatir, yakin atau bahkan marah – apapun itu tidak masalah selama diekspresikan dengan jujur dan … otentik. Ayo bicara otentik mulai dari sekarang! “Only the truth of who you are, if realized, will set you free.” – Eckhart Tolle.

Colek kami di twitter: @ImpactfactoryID
Photo: #dancinggirl by @katiemeyler