Diversity Matters More Than We Think

November 5, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Ibu saya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Ayah yang telah membesarkan saya berasal dari Jogjakarta sementara bapak biologis saya berasal dari Ilocos Norte, sebuah provinsi di Filipina. Ya, saya termasuk orang beruntung yang diberkahi punya dua orang ayah – cerita lengkapnya sengaja tidak saya tulis disini agar pembahasan kolom ini tidak jauh melenceng dan menjelma jadi kolom “Oh mama, oh papa.” Istri saya, @yamunaa merupakan perpaduan antara Melayu Medan dan Gorontalo. Sehingga tidak berlebihan jika ketiga anak kami masuk kategori gado-gado. Nah, kami semua bangga dikenal dan memperkenalkan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Coba amati cerita asal muasal anda dan keluarga anda – saya yakin tidak terlalu jauh berbeda.

Bisa jadi terkesan klise, namun konsep kebangsaan yang dirintis saat pertistiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 telah dengan hebat merangkum keanekaragaman dan perbedaan dahsyat diantara orang-orang yang kini menyebut diri (semoga) dengan bangga sebagai bangsa Indonesia. Hebat karena perbedaan tidak pernah mudah, sangat menakutkan bagi sebagian orang – atau paling tidak merepotkan. Jika tidak percaya silahkan coba mengatur rangkaian perjalanan yang harus mempertimbangkan beragam orang berbeda – mulai dari pertimbangan agama, adat istiadat hingga preferensi individu. Punya tanah air, bangsa dan bahasa yang satu sudah pasti memudahkan, efisien dan membuat banyak hal jadi lebih mudah dikelola, Namun pada saat yang sama persatuan tidak harus selalu berarti penyatuan mutlak. Saya percaya komitmen Sumpah Pemuda tidak untuk meniadakan perbedaan. Sebaliknya, bisa jadi saat ini kita justru perlu merayakan perbedaan.

Individual prowess matters for individual works. Makanan paling enak hampir selalu berasal dari buah pikiran seorang Chef handal. Hal yang sama juga berlaku untuk hunian yang didesain secara apik ataupun operasi bedah jantung yang berhasil menyelamatkan nyawa pasien. Ini adalah jenis-jenis profesi yang tidak terlampau butuh keberagaman. Bayangkan makanan yang diproses oleh banyak Chef, atau hunian yang didesain oleh belasan arsitek dan operasi bedah jantung yang dijalankan oleh beberapa dokter ahli sekaligus. Dalam konteks ini keanekaragaman tampak tidak diperlukan.

Wisdom of the crowd requires diversity & independent thinking. Namun dalam banyak perkara lain yang lebih rumit, berdampak luas dan panjang, keberagaman justru mutlak dibutuhkan. Hal-hal seperti membangun ekosistem pendidikan, meningkatkan kesejahteraan bangsa dan merancang kultur organisasi – keseluruhan hal ini membutuhkan keterlibatan banyak orang – dan keberagaman.

Which is better, diversity or ability? Sir Francis Galton membuktikan teori “Wisdom of the Crowd” sejak abad 19 saat mengamati kebiasaan orang-orang di Inggris Raya zaman itu dalam permainan menebak berat sapi. Francis Galton membuktikan bahwa rata-rata jawaban semua orang atas berat sapi SELALU lebih mendekati berat sapi sebenarnya dibandingkan jawaban seorang, termasuk yang paling ahli sekalipun. Dalam dunia modern saat ini, wisdom of the crowds juga tampak dalam bagaimana polling bisa memastikan calon presiden terpilih hingga tantangan perubahan iklim.

Bagaimana dengan keberagaman organisasi? Dalam sebuah kajian menarik, Scott Page – seorang sosiolog dari Universitas Princeton menyampaikan beberapa temuan penting agar organisasi dapat menerima manfaat keberagaman secara optimal sbb:

• Hadirkan orang luar yang punya persepektif berbeda, namun relevan. Hati-hati, orang luar bisa menjelma jadi orang dalam jika dibiarkan terlalu lama berkecimpung didalam organisasi.
• Pekerjakan orang-orang yang punya latar belakang pendidikan, suku, agama dan ras yang berbeda. Cara pandang yang berbeda akan sangat membantu organisasi.
• Ketidaksepakatan tentang cara pencapaian tujuan adalah kabar baik.

Sebelum merasa khawatir, takut dan repot dengan keberagaman, ada baiknya untuk menelaah ulang cerita diri dan asal muasal keluarga kita. “In diversity, there is beauty – and there is strength” – Maya Angelou.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #Jumpingintheforest by @kammebornia

  • revolete

    saya pribadi lebih suka yang beragam dari pada yang seragam