Nothing Cool About Being – or Looking Busy!

October 19, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Maaf, saya sibuk! Berapa sering anda, saya dan kita mengucapkan kalimat pendek yang sakti itu? Berapa kali kita menempatkan kata “sibuk” atau “busy” di status WhatsApp, Line atau BBM (jika masih kekeuh menggunakan platform percakapan ini tentunya :p)? Apa sebenarnya yang diharapkan setiap kali menyatakan “sibuk”? Apakah memang benar-benar tidak ada waktu tersisa, atau sekedar mencari alasan agar tidak harus melakukan sesuatu hal lain. Atau apa ya?
Sebelum anda merasa tidak nyaman membaca tulisan ini, perlu di-catat kalau saya menuliskan sederet pertanyaan ini pada diri sendiri terlebih dulu.

Saya hampir selalu merasa sebagai orang paling sibuk. Walaupun
tidak punya skedul rutin setiap hari, tetap saja saya merasa… sibuk. Menariknya, setiap kali berjumpa banyak orang lain dengan berbagai profesi saya juga mendapati hal serupa – hampir semua orang tersebut (juga) merasa sebagai orang paling sibuk. Sehingga setiap kali bertegur sapa sangat terasa semangat kompetisi sibuknya. Contohnya begini:

Saya: “Apa kabar?”
Teman: “OK-lah, tapi sibuk banget nih. Loe gimana?”
S: “Sama banget. Sibuk parah. Sehari 24 jam gak cukup.”
T: “Sibuk artinya banyak rezeki… Walaupun kangen liburan juga sih.”

Busyness is a sickness. Yes, really. Nah, cara pandang melihat kesibukan sebagai trophi kesuksesan atau lambang kehebatan berubah 180 derajad setelah ngobrol dengan orang keren yang tidak ingin namanya disebut disini. Kalau diperhatikan sebagai pejabat tinggi negara skedul beliau super sibuk, jauh melebihi kesibukan saya – atau siapapun yang saya kenal. Saat berusaha menyatakan kesibukan seperti percakapan diatas, saya justru menerima pertanyaan ini: “Wah, sibuk? Apa saja kegiatan hari ini sehingga sedemikian sibuk?

Most people are very good at looking busy. Sibuk apa hari ini? Ke-napa sibuk? Apa yang membuat diri merasa sibuk? Hmmm… belum pernah ada yang menanyakan soal ini sehingga harus memikirkan jawabannya sejenak. Hari itu saya meeting dengan penerbit buku, bicara untuk mahasiswa tingkat akhir soal social entrepreneur dan belanja untuk masak akhir pekan. Setelah mendengar penjelasan ini beliau berujar sambil tersenyum lebar: “Wah, menyenangkan sekali harinya. Enjoy!”

Busy culture = toxic culture. Respon itu membantu saya untuk melihat bahwa kesibukan tidak perlu jadi kebanggaan. Kesibukan juga bukan ajang untuk dikasihani. Jangan-jangan selama ini tanpa sengaja ataupun tidak – kita telah menjadi ahli untuk tampak sibuk. Lebih jauh lagi, kesibukan tidak perlu menjadi kesibukan jika dipandang dari perspektif mengisi waktu untuk berinteraksi, berkolaborasi dan berkarya – dengan makna.

Dalam konteks organisasi juga tidak jauh berbeda. Budaya organ-isasi yang mendorong kesibukan hanya akan berujung pada ke-letihan mental dan kesulitan memunculkan harmoni antara ke-hidupan professional dan pribadi. Produktivitas tidak sekedar ditentukan oleh panjangnya jam kerja atau lembur tanpa akhir. Produktivitas manusia modern terjadi saat setiap orang punya kesempatan berkiprah sesuai dengan kekuatan (baca: passion) mereka dalam memunculkan karya dengan asyik dan penuh makna. Dan proses tersebut tidak harus menyita seluruh waktu dalam kehidupan – atau tidak harus selalu selalu setiap saat. Bisa jadi sekarang waktunya untuk memberi insentif untuk keriaan, keriangan dan kelegaan. Pada saat yang sama, kesibukan – terlebih yang tanpa makna atau rencana, mungkin harus dihukum. Kenapa tidak? Go home early. Meet your family. Enjoy every moments with them. Think less – feel more.

Colek kami di twitter: @impactFactoryID
Photo: #pencil by @cwpencilenterprise

  • Agree. Selama ini sibuk selalu dikaitkan dengan keren, padahal yang penting adalah produktif – dan sibuk belum tentu produktif.