The Problem is Always about Defining The Problem

October 15, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Coba sebut satu kata yang terus menerus muncul dalam pikiran setiap kali membuka halaman-halaman koran pagi, menonton siaran berita, atau membaca linimasa di sosial media. Jawabannya: Problem! Mulai dari pemberitaan asap yang menyelimuti sebagian besar Sumatra, Kalimantan dan beberapa negara tetangga hingga kinerja perekonomian yang lesu. Lebih lanjut, pemberitaan korupsi – atau lebih tepatnya para koruptor yang menyaingi ketenaran artis. Atau kabar tentang konflik dan peperangan di berbagai belahan dunia hingga berita kriminalitas yang seolah tanpa akhir. Seolah dunia kita saat ini didominasi problem – tanpa kejelasan soal solusi. Dan apakah benar selalu demikian?

Sambil sekedar iseng saya mengecek publikasi koran tahun sebe-lumnya, dekade sebelumnya bahkan puluhan tahun sebelumnya melalui mesin pencari Google Hasilnya ternyata tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Pemberitaan utama surat kabar hampir selalu didominasi… problem. Ya, ada beberapa saat-saat perayaan, euphoria kemenangan perang dunia pertama dan kedua, perdamaian dan tahun baru – namun selebihnya hampir selalu berisikan apapun yang terasa problematik. Saya yakin hal serupa juga berlaku pada media televisi dan sosial media. Memberitakan, membicarakan dan membahas problem bisa jadi lebih menarik daripada kabar baik – dan mungkin bisa membantu proses pencarian solusi. Namun problem besar muncul saat problem diberitakan, dibicarakan dan dibahas tanpa mendudukkan esensi dari problem tersebut.

A problem well stated is a problem half solved – Charles Kettering. Tanpa kejelasan, kejernihan & ketegasan dalam menetapkan hal-hal yang dianggap sebagai problem maka tidak banyak hal bisa dilakukan selain ya itu tadi, membicarakan, memberitakan dan membahasnya tanpa ujung. Problem asap akibat pembakaran lahan hanya akan bisa dibaca dan diomongkan tanpa penetapan problem sesungguhnya: Pembakaran lahan adalah cara termurah dan tercepat untuk meningkatkan nilai jual lahan. Lebih mendasar lagi, problemnya lagi-lagi soal kegagalan ecosystem mengatasi ekosistem.

You can’t solve a problem until you are asking the right questions. Problem terbesar adalah mendefinisikan problem itu sendiri. Albert Einstein sama sekali tidak berlebihan saat menyatakan jika ia diberi waktu 60 menit maka 55 menit akan dihabiskan untuk mendefinisikan problem – dan 5 menit sisanya untuk menyelesaikannya. Masih terkait dengan asap pembakaran lahan yang telah menjadi masalah rutin tahunan, solusi sesungguhnya tidak akan datang dalam bentuk ancaman penjara bagi para pelaku, atau janji para politisi atau alokasi anggaran semata.

Solve big problem by solving little problems – and by keeping the mission in mind. Siapapun cenderung bisa menawarkan solusi – ini kebisaan yang sudah dilatih sejak masih di bangku sekolah. Tentu masih ingat metodologi “diketahui”, “ditanya” dan “jawab” saat menjawab soal-soal ujian dulu? Nah, jika dulu problem telah dide-finisikan untuk dicarikan solusinya, dalam kehidupan seringkali definisi problem justru tidak jelas. Lebih dari itu, ilmu mengidenfi-kasi dan mendefinisikan problem sangat jarang diajarkan kepada kita.
Apa yang bisa dilakukan sekarang? Kebutuhan dunia sebanyak bintang di langit. Namun bahkan bintang di langit hanya mengisi bagian dari cakrawala alam semesta yang maha luas. Kenali kekuatan diri (baca: passion), kepedulian diri (baca: mission) dan kebisaan diri (baca: ways to perform). Observasi, selidiki dan pahami problem sebelum menetapkan solusi apapun. Inilah esensi kehidupan yang berdampak & bermakna. The happiest – and most successful people I know don’t just love what they do, they are also obsessed with solving an important problem that really matters to them – Drew Houston, founder of Dropbox.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #pencil by @cwpencilenterprise