What’s Your Contribution?

October 6, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

“Apa kontribusi saya?” – ini pertanyaan yang mudah diajukan na-mun cenderung sulit dijawab. Kalau boleh jujur, bisa jadi model pertanyaan seperti ini hampir-hampir tidak pernah ditanyakan pada diri sendiri – terlebih dalam hening saat sedang benar-benar sendiri. Ya, nggak? Urusan kontribusi lazim ditanyakan, atau mungkin lebih tepat – ditekankan oleh organisasi tempat bekerja dalam bentuk target pekerjaan, sasaran organisasi ataupun job description. Sehingga apa kontribusi saya tergantung hal-hal yang ditetapkan, dipercayakan dan dibebankan pada saya oleh (para) atasan saya. Kontribusi menjelma menjadi sesuatu yang impersonal, baku, kaku dan formal.

Cara pandang demikian membentuk budaya ketergantungan mutlak pada arahan, instruksi dan petunjuk. Sehingga tidak mengherankan pada banyak institusi besar – terlebih di Indonesia, banyak pekerja masih menggantungkan perencanaan karier mereka pada unit atau departemen sumber daya manusia. Jika proses tumbuh kembang diri dalam organisasi tidak sesuai harapan maka kesalahan hampir selalu ditimpakan pada unit tersebut. Berbagai ungkapan seperti ini masih sangat sering terdengar: “Saya sudah bekerja di perusahaan ini selama 5 tahun pada posisi yang sama, saya harus bagaimana lagi sekarang?” atau “Kira-kira dalam 10 tahun dari sekarang kira-kira jabatan apa yang bisa saya raih?” atau mungkin “Kapan boss saya pensiun sehingga saya bisa menggantikan posisinya? :p” – sounds familiar? Lebih mengherankan lagi saat banyak organisasi justru dengan lega mengambil tanggung jawab tersebut serta berupaya teramat sangat hebat untuk menyusun perencanaan karier untuk setiap orang. Langkah ini serupa dengan membangun istana pasir di pantai. Sebagus apapun istananya pasti tidak akan bertahan lama dan larut oleh air laut, angin dan hujan.

What should my contribution be? Peter Drucker, begawan ilmu manajemen modern pernah berujar bahwa kontribusi bukan wewenang organisasi semata, namun individu yang bersangkutan. Pertanyaan “Apa kontribusi saya?” harus segera dilanjutkan oleh pertanyaan “Apa yang harus saya kontribusikan?” – Pertanyaan susulan ini penting untuk menjadikan sesuatu yang abstrak di awang-awang, menjadi ide nyata yang jelas, kontekstual dan doable.

Contribution should not be something that is easy – but it sure worth it. Pertanyaan “Apa yang bisa saya kontribusikan?” akan ter-jawab dengan sendirinya saat seseorang mampu menjawab beberapa komponen pembentuknya sebagai berikut: Pertama, apa yang dibutuhkan disekitar saya saat ini? Kedua, apa hal-hal yang menjadi kekuatan (baca: passion) saya? Ketiga, dengan pemahaman mengenai cara saya berkinerja, kemampuan saya, network saya dan nilai-nilai yang saya yakini – hal-hal apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk menjadikan situasi menjadi lebih baik? Dan terakhir, melalui upaya yang saya pilih, apa yang hendak saya, bagaimana dan dalam waktu berapa lama?

Over-planning is as bad as having no plan at all. Jika diperhatikan esensi dari pertanyaan-pertanyaan menyangkut kontribusi maka kejelasan akan hadir saat bisa menjawab secara spesifik. Jawaban seperti “membahagiakan keluarga” atau “menjadikan Indonesia lebih baik” tidak cukup spesifik. Selain itu, rencana taktis tentang hal-hal tertentu yang bisa dilakukan besok dan dalam jangka pendek harus disusun dan diujicoba dengan segera.

Ingin berkontribusi di tempat kerja? Coba perhatikan dengan seksama berkenaan dengan hal-hal spesifik yang bisa dikerjakan? Mungkin terkait dengan pelaksanaan meeting mingguan yang hampir selalu membosankan dan tanpa makna. Mungkin juga soal pola jam kerja yang tambah sulit ditepati. Mungkin juga tentang hubungan antar personal diantara team. Tentukan dan benahi.

Sebagai penutup, ungkapan dari astronom kondang Neil deGrasse Tyson bisa melengkapi pemahaman tentang kontribusi: “I have a personal philosophy in life: If somebody else can do something that I’m doing, they should do it. And what I want to do is find things that would represent a unique contribution to the world – the contribution that only I, and my portfolio of talents, can make happen. Those are my priorities in life”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #socialworker by @sannalinn