Silent Revolution. It’s Happening. Be Ready.

September 21, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Bayangkan saat sedang asyik-asyiknya bekerja di sebuah organisasi baru dalam bidang sangat baru yang mengasyikan, mendadak di-grebek, ditangkap dan digiring ke kantor aparat. Alasannya? Bidang yang tengah digeluti dianggap tidak atau belum legal di Indonesia. Walaupun hanya melalui masa-masa sulit selama beberapa jam namun bisa dibayangkan kekagetan, kebingungan dan kekecewaan yang dirasakan. Saya tidak perlu menyebut kejadian persis atau para pelakunya, namun peristiwa ini memunculkan polemik hebat di media sosial dan media lain. Sebuah inisiatif ecommerce yang telah mengglobal dengan membuka pasar virtual bagi kursi-kursi kosong mobil – dan mata pencarian baru bagi para pengendara dan pemiliknya, dianggap melawan hukum. Ada apa sebenarnya?

Selamat datang di revolusi senyap yang sangat nyata sejak ke-hadiran internet beberapa dekade lalu. Dari awal yang sederhana & eksklusif, internet telah menjelma jadi pengubah wajah dunia dan melahirkan perusahaan global seperti Apple, Microsoft, Google, Amazon, Facebook dan beragam platform ecommerce global. Dalam bentukan paling mutakhir, ecommerce menghadirkan sebuah konsep turunan yang dijuluki oleh para pakar sebagai shared-economy. Karakteristik utama adalah pergerakan produk & jasa dengan sangat cepat tanpa harus melalui perantara dengan difasilitasi oleh marketing platform. Keunggulan akan dimiliki oleh marketing platform yang paling menawarkan kemudahan berteknologi – dan memberikan kunci kendali kepada para penggunanya.

The ability to let consumers / users to be in control is the key to market legitimacy. Kenapa Airbnb bisa tumbuh sedemikian cepat sejak berdiri tahun 2010 bahkan telah mengalahkan kapitalisasi pasar Hilton atau Hyatt yang telah berdiri ratusan tahun? Karena Airbnb membangun ekosistem, bukan sekedar bisnis perhotelan laba-rugi yang mengutamakan egosistem manajemen atau pemegang sahamnya. Penting untuk digarisbawahi bahwa platform marketing Airbnb menjual kamar, bukan brand hotel. Walaupun kehadirannya tidak bisa disangkal pasti disruptif – terlebih bagi pemain lama.

Shared-economy is about ecosystem, not ego-system. Dalam shared-economy banyak pihak diberdayakan. Kehadiran Gojek, Uber dan sejenisnya sudah pasti mengusik para pemain transportasi lama yang selama ini mendominasi. Kehadiran marketing platform ini memunculkan kelas masyarakat baru yang tidak bergantung pada gaji dari korporasi besar. Mereka pekerja independen, paham teknologi dan berdaya. Jika terus berlanjut maka kelompok masyarakat ini berpeluang mengubah struktur perekonomian bangsa menjadi lebih baik dan kokoh. Dalam waktu dekat akan semakin lazim menjumpai orang yang berprofesi sebagai pengemudi Gojek di pagi hari, host Airbnb setelah itu dan pengerajin Etsy pada malam hari. Kelebihan pendapatan yang diperoleh sama bisa dimanfaatkan untuk nutrisi lebih baik untuk diri dan keluarga, pendidikan anak, proteksi dan investasi.

Legality is not the only legitimacy. Pelaku usaha dan pemerintah (baca: regulator) wajib memahami realitas baru ini. Kehadiran marketing platform membuat pasar jadi lebih efisien, menguntungkan konsumen dan menjadi basis ekonomi murah. Piranti hukum yang tersedia sekarang disusun tanpa mengantisipasi kemunculan berbagai model marketing platform digital – sehingga tidak tepat jika digunakan untuk melarangnya. Selain itu, legalitas tidak sepatutnya menjadi satu-satunya legitimasi.

Tanpa kita sadari perubahan dahsyat telah, masih dan akan terus terjadi pada setiap sendi kehidupan. Shared-economy akan mengambil peran lebih besar dalam perekonomian – dan itu kabar baik. Bayangkan hal-hal hebat yang bisa terjadi saat inisiatif atau platform serupa bisa diadakan untuk petani – saat dapat dikenal, berinteraksi dan bertransaksi langsung dengan para pembeli di kota. Hal sama bisa terjadi pada nelayan, guru, pedagang kecil dan lain-lain. Revolusi senyap sedang berlangsung. Ambil peran anda. What’s the use of technology without empower people. And in the absence of the law, there is consciousness for the greater good of society.

Colek kami di twitter: @ImpactFactory
Photo: #holdingclouds by @niharikahukku