Building A Relationship That Matters

September 14, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Konon dalam sebuah diskusi antara orang-orang keren yang
diceritakan oleh sahabat baru saya Frans Sugiarta, muncul sebuah pertanyaan tentang apa yang menjadi problem terbesar umat manusia pada abad 21 ini. Boleh menyebut jawaban apapun namun hanya satu saja yang dianggap sebagai titik awal seluruh tantangan terbesar kita saat ini. Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada saya maka hampir pasti jawabannya akan serupa dengan berita-berita yang seringkali mendominasi halaman muka surat kabar seperti pendidikan, pemerataan kekayaan, sumber daya manusia, kemiskinan atau lingkungan hidup. Kira-kira apa jawaban anda?

Professor Kambiz Maani dari Universitas Massey, Auckland, New Zealand menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang bisa jadi terasa aneh bagi kita. Bagi Professor Maani, problem terbesar yang dihadapi manusia pada abad 21 adalah soal kualitas hub-ungan (the quality of relationship). Aneh kan? Sebelum anda juga mengeryitkan dahi terlalu lama seperti saya, elaborasi jawaban Professor Maani secara lebih kontekstual tercermin dalam 3 angka ini: 1.5 | 2.5 | 3.

The biggest problem we are facing in the 21st century is the quality of relationship – Prof. Kambiz Maani. 1.5 adalah besaran atau kecepatan umat manusia mengkonsumsi sumber daya alam yang dihasilkan oleh bumi. Artinya, saat ini kita telah menghabiskan 1.5 lebih banyak atau lebih cepat dari segala hal yang disediakan oleh planet bumi hanya satu ini. Bisa diartikan juga kalau kita sebenarnya telah mengambil porsi generasi mendatang dengan mengatasnamakan kebutuhan. Angka 2.5 dalam satuan milyar adalah jumlah manusia menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang/organisasi/negara lain. Mereka tidak punya akses untuk air bersih, tempat tinggal dan pengobatan standar. Angka 3 adalah peningkatan jumlah orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dalam satu dekade terakhir. Ketiga angka ini adalah refleksi telah rusaknya hubungan (relationshio) umat manusia dengan planet ini, hubungan antar negara, antar organisasi dan antar manusia.

It has become appallingly obvious that our technology has exceed-ed our humanity – Albert Einstein. Pada satu sisi teknologi men-dekatkan yang jauh, namun juga sekaligus menjauhkan yang dekat. Teknologi membuka banyak peluang tahu dengan cepat dan instan, namun mempersulit ruang untuk sadar, paham dan peduli. Saat berupaya mengelola (dan menambah) follower di twitter / path / periscope, bagaimana kualitas relationship dengan orang-orang terkasih yang ada di sekeliling kita? Ini colekan menohok untuk diri sendiri tentunya.

Keep the right kind of people in your orbit. Membina hubungan perlu investasi waktu dan perhatian. Hubungan yang tepat dengan orang yang tepat bakal punya pengaruh luar biasa untuk proses tumbuh kembang diri dan dalam memunculkan karya bersama. Dan sebaliknya juga berlaku. Definisi orang yang tepat adalah mereka yang berperan menjadikan diri lebih baik, lebih sabar, lebih berenergi, lebih sabar dan lebih keren. Sementara hubungan yang tepat dibangun atas landasan saling menghormati, saling membantu dan saling menguatkan. Nah, dengan memegang prinsip ini, teknologi punya peran besar memastikan agar orang yang tepat tidak melupakan kita dan hubungan yang tepat terus terbina 😉

Professor Maani dengan jernih telah melihat problem paling men-dasar bagi umat manusia saat ini. Sebagai khalifah di muka bumi manusia adalah satu-satunya spesies yang mempunyai kekuatan untuk menghancurkan atau memperbaiki planet ini dan segenap mahluk yang hidup didalamnya. Diawali dari hubungan baik yang terpelihara dengan Sang Pencipta, dengan diri sendiri, dan dengan sesama – akan muncul pola baru dalam menumbuhkembangakan satu sama lain dan merawat planet bumi beserta seluruh isinya. Bagaimana mengawalinya? Well, the only currency in building relationship that matters is called sincerity. Are you being sincere in living?

Colek kami di twitter: @ImpactFactory
Photo: #ladybug by @thelittlethings_love