Anticipating the Emerging Future

August 28, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

“Mesin terbang yang lebih berat dari udara tidak mungkin bisa terjadi” – Lord Kelvin, Presiden Royal Society tahun 1895. “Tidak ada alasan sama sekali bagi setiap individu untuk memiliki komputer di rumah-rumah mereka” ucap Ken Olson, Presiden & Founder DEC tahun 1977. “iPhone tidak mungkin punya kesempatan untuk memperoleh pangsa pasar signifikan” – Steve Balmer, CEO Microsoft, 2007.

Apa persamaan ketiga komentar tersebut? Pertama, ketiganya muncul dari orang-orang paling disegani dalam bidangnya masing-masing saat komentar diucapkan. Lord Kelvin bisa dibilang adalah pemimpin dewan ilmu pengetahuan dan teknologi Inggris Raya yang saat itu menjadi motor penemuan-penemuan terbaru di dunia. Ken Olson adalah CEO perusahaan komputer ternama saat komputer adalah sebuah mesin raksasa, super mahal dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Dan siapa tidak kenal Steve Balmer yang menggantikan tampuk pimpinan perusahaan piranti lunak ternama di dunia menggantikan Bill Gates.

The experts of past is the experts in the past. Persamaan kedua adalah ketiga pernyataan tersebut salah besar… bagi kita yang hidup sekarang di tahun 2015. Namun bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh orang-orang menjadi tujuan komentar-komentar ini? Wright bersaudara saat mereka berusaha membuat pesawat terbang bermesin. Bill Gates saat mulai membangun mimpi 1 komputer untuk setiap rumah. Dan Steve Jobs saat mulai kembali berkiprah di Apple dan hendak mengusung produk paling menggemparkan, iPhone.

The future does not belong for those who still live in the past. Persamaan terakhir adalah ketiga komentar tersebut bukan kesalahan terakhir yang telah, masih dan akan dibuat oleh orang-orang terkemuka atau para pakar tentang apapun… sampai kapanpun. Jika kemajuan teknologi, bangsa dan dunia tergantung pada pendapat orang-orang terkemuka dan para pakar maka tidak akan ada personal computer, apalagi laptop dan sekarang wearable technology. Tidak ada internet. Tidak ada telepon genggam. Tidak ada Microsoft, Google, Amazon, Facebook, Twitter dan seterusnya. Tidak ada Uber, Go-jek, Tokopedia, Traveloka, Bridestory dan Happy5. Tidak ada alasan sama sekali untuk berani, optimis dan tersenyum.

The future is now. Kesalahan mereka adalah kabar baik untuk kita semua. Kesalahan para pakar dan orang-orang terkemuka ini bukan karena mereka bodoh atau bahkan sombong. Justru sebaliknya, komentar mereka didasari atas apa diketahui tentang masa lalu yang telah terjadi. Tidak salah, namun mendasarkan masa depan semata pada masa lalu adalah sebuah konsep berpikir linear, statis dan bisa jadi menyesatkan. Masa depan tidak tergantung pada masa lalu. Masa depan adalah domain imajinasi, keberanian dan persistensi. Meminjam istilah Professor Otto Scharmer, mempelajari dari masa depan saat mulai menampakkan wujudnya (emerging future) adalah salah satu aspek terpenting belajar yang seringkali belum dipahami sehingga sangat jarang dilakukan.

The future Bayangkan masa depan yang tidak terbelenggu masa lalu? Bayangkan semua kemungkinan yang bisa terjadi: Sebuah ekosistem berisikan orang-orang berdaya yang secara terus mene-rus memberdayakan orang lain berbasiskan teknologi? Siapapun bisa menjadi guru dimanapun melalui aplikasi KelasInspirasi. Siapapun bisa bekerja dan memperoleh penghasilan tinggi melalui pasar-pasar virtual yang dibentuk oleh beragam inisiatif teknologi digital? Bayangkan transparansi total pemerintahan, aparatnya dan segenap prosesnya?
Kenapa tidak? Kenapa tidak turun tangan dan ambil peran sekarang? Tulisan ini saya tutup dengan mengutip pesan mendalam dari Professor Otto Scharmer: “The ability to shift from reacting against the past to leaning into and presencing an emerging future is probably the single most important leadership capacity today.”

Colek kami di twitter: @ImpactFactory
Photo: #bluehorizon by @kardinalmelon