Freedom to Fulfill Your Mission

August 17, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak banyak orang yang benar-benar mengajukan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri: “Apa misi kehadiran saya di muka bumi?” atau dalam bentuk lain, “Apa alasan penciptaan saya dengan berbagai kelengkapan – dan ketidaklengkapan – yang saya miliki sekarang?” Lebih segelintir lagi jumlah mereka yang mengajukan pertanyaan tersebut lalu kemudian menindaklanjutinya dengan langkah, kerja dan karya nyata secara terus menerus hingga tarikan nafas terakhir. Termasuk dalam kategori orang-orang ini adalah Soekarno – Hatta, kedua proklamator kita dan para pendiri bangsa ini. Mereka termasuk kedalam kategori aneh, unik dan teramat jarang.

Kenapa hanya sedikit? Bisa jadi karena untuk waktu yang sangat lama penetapan apa yang harus kita kerjakan sangat bergantung oleh siapa orang tua kita dan dimana kita dilahirkan. Anak seorang raja hampir selalu akan menjadi raja. Tugasnya saat masih menjadi pangeran adalah untuk mempersiapkan diri dengan segala hal yang diperlukan saat menjadi raja kelak. Misinya telah ditetapkan sebelumnya (pre-determined) oleh peran yang diberikan padanya secara turun temurun. Hal yang sama berlaku untuk tukang masak, tentara, guru, pedagang dan lain-lain.

What is my mission in life? Jika ada yang iseng mencatat korelasi antara semua profesi yang pernah ada dan kaitannya dengan turun temurun maka saya duga semakin kebelakang semakin sedikit orang yang berpindah profesi. Boleh juga anda tanya apa profesi orang tua, kakek-nenek anda dan generasi-genarasi sebelum itu. Sehingga tidak mengherankan jika hampir-hampir tidak ada kebutuhan – atau dorongan untuk bertanya tentang misi hidup.

What is my contribution? Sekarang dunia sudah jauh lebih kompleks. Sekarang teknologi sudah sangat mempengaruhi pola interaksi. Sekarang sudah tersedia begitu banyak pilihan. Dalam kondisi seperti ini pemahaman diri tentang passion – dan misi hidup menjadi tidak lagi bisa diabaikan. Apa yang harus dilakukan dalam setiap 24 jam yang diberikan setiap hari? Bagaimana mengisi 50-60 tahun usia produktif? Apa kontribusi terbaik yang bisa diberikan dalam kehidupan ini?

We live in a free country, but do we have independent minds? Negara kita tercinta ini akan menginjak usia 70 tahun. Dengan berbagai kekurangan, kelemahan dan ketidakberesan, esensi utama kemerdekaan adalah punya kebebasan berpikir, bertindak dan berkarya. Namun hal ini tidak berarti banyak jika tidak dibarengi keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit kepada orang lain dan yang terpenting, kepada diri sendiri.

A man in a mission is a man in action. Jika sebelumnya kita bertanya pada orang lain tentang apa yang harus dikerjakan, sekarang saatnya untuk berupaya untuk menjawabnya sendiri. Perencanaan karier setiap individu dalam organisasi tidak seharusnya diserahkan pada bagian HR (human resources) atau si boss. Pilihan untuk alih profesi – termasuk opsi menjadi karyawan atau entrepreneur juga sepatutnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Jika hanya berpikir soal keasyikan pribadi dan kemaslahatan keluarga maka Soekarno – Hatta tidak perlu meresikokan diri mereka dengan menandatangani naskah proklamasi. Misi hidup bukan sekedar soal pencapaian target jabatan, status dan martabat tertentu. Misi hidup adalah saat passion anda bertemu dengan kebutuhan dunia. Misi hidup adalah soal alasan keberadaan, penciptaan dan kehidupan anda untuk sesama. Masih bingung pola apa yang bisa dipahami untuk misi hidup? Silahkan simak cetusan dari kawan-kawan @LimitlessCampus ini: Advance humankind. Protect the other kinds. Ensure society benefits from your existence. Merdeka!

Colek kmi di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #Paraf by @npmalina