Relentless Informality

July 28, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Bulan Ramadhan sudah berlalu. Lebaran baru saja lewat. Apa ritual hari raya selain mengucap salam serta mengirimkan dan menerima pesan maaf lahir batin? Saya yakin sebagian besar saling berkunjung ke tetangga, keluarga, saudara dan teman-teman. Apa lagi? Photo keluarga besar rame-rame! Sungguh menarik melihat penampakan photo-photo di berbagai platform social media yang berisikan beragam gaya mulai dari yang rapih hingga berantakan, resmi hingga rileks dan formal hingga informal. Dalam pertemuan-pertemeuan tersebut, selain keluarga inti, bisa jadi terdapat beberapa “keluarga” yang hanya dijumpai saat hari raya. Jika anda menganggukkan kepala maka kita tidak jauh berbeda. Tidak jarang saya harus bisik-bisik bertanya ke ibu atau istri saya nama seorang “saudara” yang baru saja saya salami. Saya setengah berharap “saudara” yang namanya tidak saya ingat itu juga melakukan hal yang sama ke ibu atau istrinya. Paling tidak dia dan saya sama-sama lupa sambil sama-sama tampak ingat dan tentunya sama-sama tersenyum.

Jika itu acara keluarga, sekarang bayangkan acara silaturahmi resmi organisasi atau instansi. Saya pernah menghadiri acara serupa yang penuh dengan pidato, sambutan dan beragam prosesi formal. Hampir dipastikan kepusingan tujuh keliling bagian protokoler tentang siapa yang harus bicara lebih dulu, berikutnya dan kemudian. Bagaimana dengan pengaturan tempat duduk, jenis serta penempatan makanan dan pola pergerakan tamu. Formalitas mewajibkan terpenuhinya standar tertentu agar tidak ada yang tersinggung atau merasa dilangkahi. Pertanyaannya, apakah selalu harus begitu? Apakah tidak ada cara selain mengedepankan formalitas? Bagaimana dengan anda?

If happiness is the salad then informality is the best dressing. Prosesi hari raya adalah ritual baik yang manfaatnya akan lebih bisa dirasakan saat silaturahmi tidak dibatasi oleh formalitas. Prosesi, acara dan tindakan harus bisa dirasakan oleh semua orang yang hadir, bukan hanya oleh segelintir orang yang kebetulan menjabat. Indikatornya mudah saja. Coba tanyakan pada setiap orang yang hadir apakah hadir karena ingin, suka & menikmati – atau sekedar hadir karena tidak enak, terpaksa & takut dianggap tidak loyal?

The best response is the one they can say out loud in front of you all the time. Dunia sudah berubah. Pola percakapan, perilaku dan interaksi sudah berbeda sama sekali. Tidak percaya? Coba per-hatikan sekitar anda, berapa banyak yang orang-orang yang terpaku didepan gadgetnya masing-masing dibandingkan dengan yang tidak? Bisa juga anda sedang membaca tulisan ini tidak dalam bentuk koran, namun digital.

Informality gives you the courage to say whatever you want to say to the person you wish to say. Formalitas tidak akan mampu men-jaga pendeknya perhatian (attention span) orang-orang disekitar anda. Kembali acara-acara silaturahmi formal tadi, saat sang boss besar tengah membacakan sambutannya, berapa banyak yang benar-benar menyimak? Berapa banyak yang sibuk dengan telepon genggamnya atau ngobrol berbisik dengan teman di kanan-kirinya. Jika demikian, apa arti, peran dan manfaat sambutan tersebut?

Sungkan hanya akan menyuburkan rutinitas tanpa arti dan formalitas tanpa makna. Tinggalkan sekarang. Ini bukan ajakan untuk jadi kurang ajar dan tidak mempedulikan orang lain. Justru sebaliknya, ini colekan untuk lebih berani bersuara, berbuat dan bertindak untuk kebaikan diri dan bersama. Bayangkan jika Soekarno sungkan pada pemerintah Jepang dan Belanda saat memproklamasikan kemerdekaan. Banyangkan juga polisi yang sungkan saat harus menghentikan pengendara mobil / motor ugal-ugalan. Bayangkan anda sungkan saat harus bertindak demi keselamatan anak anda? Informalitas adalah cara pandang bahwa setiap orang punya misi dan punya tanggung jawab untuk menuntaskan misi tersebut. Kenapa musti ragu? Kenapa jadi malu? Kenapa harus sungkan? Ucapkan, lakukan dan pertanggungjawabkan. The informality of family life is a blessed condition that allows us to become our best while looking our worst – Marge Kennedy.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #FriendshipOverCoffee by @CaptainRuby