The Blessings of Scarcity

July 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Ada sebuah negara yang terletak di wilayah gurun namun menjadi salah satu pengekspor buah-buahan & sayur mayur terbesar di wilayahnya, bahkan sudah termasuk yang terdepan untuk urusan teknologi pertanian. Negara yang luasnya hampir dari separuh propinsi Jawa Barat ini juga dengan lantang telah mendudukkan lebih banyak perusahaan go public di NASDAQ (Bursa Efek Global) dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, India dan seluruh negara Eropa DIGABUNG. Masih negara yang sama, dengan populasi sekitar 7 juta – atau separuh penduduk Jakarta di siang hari, mampu mengusung perusahaan start-up mendunia melebihi semua negara lain didunia kecuali Amerika Serikat. Negara mungil itu bernama Israel.

Tulisan ini diilhami oleh buku Start-up Nation karya Dan Senor & Saul Singer. Sama dengan anda, saya awalnya tidak tahu banyak dan sama sekali tidak tertarik dengan Israel – sebuah negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Mungkin juga serupa dengan anda, kita terbiasa dengan narasi Israel sebagai negara pencaplok negara lain bernama Palestina yang secara konsisten kita bela. Oh, tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk memperdebatkan hal tersebut. Pertanyaan penting untuk diketahui jawabannya: Bagaimana mungkin sebuah negara kecil yang dikelilingi oleh musuh-musuhnya, harus selalu siap tempur, dengan sumber daya apapun yang sangat terbatas – mampu bertumbuh kembang mengalahkan banyak negara lain di dunia?

The easy trap called abundance. Dalam berbagai segi, Indonesia jauh lebih menjanjikan dibandingkan Israel. Tanah kita jauh lebih luas, lebih kaya dan lebih subur. Indonesia tidak harus selalu dalam kondisi siap tempur dengan negara-negara tetangganya. Dan jumlah manusia Indonesia puluhan kali lipat dibandingkan Israel. Jika demikian, kenapa dari segi pencapaian sebagai masyarakat dan negara, kita masih sangat jauh tertinggal? Atau mungkin justru semua kelebihan sumber daya alam tidak akan berarti banyak jika tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang handal.

Scarcity can be a really good thing. Buku Start-up Nation memuat banyak sekali informasi berharga tentang bagaimana Israel menumbuh-kembangkan manusia dan masyarakatnya. Kelangkaan dalam berbagai hal digunakan oleh para pemimpin negara Israel sebagai modal untuk melatih, menggembleng & memajukan satu-satunya sumber daya yang bisa mereka harapkan: manusia.
The most valuable capital is human capital. Kelangkaan lahan memaksa Israel untuk memanfaatkan setiap penggal lahan dengan menggunakan inovasi teknologi. Kelangkaan pertemanan dari wilayah sekitar mengharuskan orang-orang Israel mencari dan membangun pertemanan dari berbagai belahan dunia lain. Kelangkaan bahan baku mendorong Israel mengambil opsi-opsi berani mulai dari perencanaan, pengaturan hingga penemuan.

Sehingga tidak mengherankan jika ketergantungan atas minyak tidak lagi menjadi problem di Israel dibandingkan negara-negara lain didunia. Tidak juga aneh jika Israel memiliki konsentrasi penduduk pengguna bahasa asing terbanyak didunia. Dan tidak ada yang istimewa saat kita membaca fakta-fakta yang dijabarkan pada dua alinea awal diatas. Beberapa pertanyaan sebagai bahan kontemplasi bersama:

– Apakah kita – sebagai orang Indonesia mau dan mampu meninggalkan pendekatan sumber daya alam menuju sumber daya manusia?
– Apakah kita – sebagai orang Indonesia mau dan mampu meninggalkan pemikiran nasionalisme sempit menuju pemikiran sebagai bagian dari pemain global?
– Apakah kita – sebagai orang Indonesia mau dan mampu (untuk sementara) melupakan kehebatan masa lalu dan menfokuskan diri pada pencapaian masa depan?

Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut akan menjadi basis tumbuh kembang Indonesia – dan orang-orang Indonesia. Kelangkaan sekitar tidak harus menjadi kelangkaan berpikir, apalagi berimajinasi. Giving signifies the transformation from scarcity attitude to abundance.

Colek kamidi twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #SuperMoon by @KardinalMelon