Disruptive Innovation (5): The Future of Organisation (final)

July 6, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Tulisan kali ini adalah penggalan bagian akhir seri inovasi disruptif dan kai-tannya dengan organisasi masa depan. Bagaimana memastikan organisasi bisa bertumbuh-kembang dan senantiasa relevan dengan perkembangan zaman? Apa yang harus diperhatikan, diprioritaskan dan dikerjakan para pemangku amanat organisasi terkait dengan bisnis, inovasi dan manusia-manusia yang tergabung didalamnya? Secara lebih kontekstual mungkin bentuk pertanyaannya seperti ini: Kenapa inisiatif Uber – yang saat ini diperkirakan bernilai US$41 milyard (atau sekitar Rp. 545 trilyun, kurang lebih seperempat APBN Republik Indonesia) – tidak diusung oleh perusahaan transportasi besar yang telah lama mendominasi pasar? Pertanyaan ini tentu logis karena bukankah perusahaan transportasi besar setiap hari berkecimpung di bidang transportasi? Bukankah seharusnya inisiatif yang sangat sarat berhubungan dengan pemberian solusi trans-portasi – seperti Uber – bermula dari sana?

Pertanyaan sejenis juga bisa diajukan pada perusahaan perhotelan dan wisata? Kenapa Airbnb tidak diawali oleh para pemain dominan industri pariwisata? Atau kenapa Slack, aplikasi kerja jarak jauh berbasis mobile, tidak dimunculkan oleh perusahaan database atau piranti lunak besar? Bukankah perusahaan besar mempunyai semua sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan ide-ide tersebut menjadi terobosan yang tidak sekedar inkrimental? Mungkin justru kebalikannya harus ditanyakan: Apa yang dimiliki oleh startup yang serba terbatas untuk bisa menjadikan ide-ide brilian menjadi inovasi dahsyat?

Innovation is not about improvement. Kendala terbesar bagi organisasi bukan soal keterbatasan ide, namun kesiapan organisasi (baca: terutama para pemimpinnya) dalam mendesain ulang pola pikir, pola kelola dan pola kerja (baca: birokrasi). Inovasi bukan sekedar bagaimana memunculkan ide keren, namun bagaimana ide-ide tersebut bisa segera dikaji, diujicoba dan dikembangkan – dengan sangat cepat dan terus menerus.

Organisation needs to unlearn best practice & to learn imagining. Terdapat 3 komponen penting inovasi dalam organisasi: Pertama, imagination gap. Se-bagaimana problem besar dalam dunia pendidikan, para pemangku amanat organisasi juga sudah terlampu sangat terlatih untuk mengingat (remembering) dibandingkan dengan berimajinasi. Kenapa? Karena ingatan terasa nyaman, aman dan berhubungan dengan segala hal yang pernah terjadi. Sebaliknya, imajinasi bisa jadi sangat menakutkan karena ada keharusan untuk untuk keluar dari segala hal yang diketahui.

The only boundaries is the limit of your imagination. Imagination gap adalah soal keberanian mengajukan pertanyaan-pertanyaan “gila” dan keteguhan until menjawabnya. Apa yang bisa dilakukan agar bisnis bisa tumbuh 1000%? Bagaimana perusahaan produsen makanan bisa menuntaskan problem kelaparan? Bagaimana perusahaan energi bisa memberi solusi energi terbarukan bagi bangsa ini? Apa yang bisa dilakukan untuk memastikan lebih banyak senyuman tulus dalam keseharian di organisasi? Ini adalah soal bagaimana organisasi memberi peluang pada anggotanya untuk melihat, mengalami, mencoba beragam hal – bukan hanya yang rutin. Apa pertanyaan “gila” anda?

Wisdom of the crowd is wiser the wisest person. Kedua, Pemikiran kolektif yang kritis. Ini jelas karena pemikiran kolektif yang kritis (tidak seragam karena dipaksakan) selalu lebih hebat daripada pemikiran individu yang paling hebat sekalipun. Organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur, namun juga kultur (baca: budaya). Syaratnya mudah saja: Kebebasan berpikir, keasyikan berinteraksi dan kemudahan berkolaborasi.

Terakhir, Eksekusi yang disiplin dan berkelanjutan oleh pemimpin yang pantas. Ide terbaik hanya menghiasi ruangan pertemuan jika tidak bisa dieksekusi dengan baik. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengelola proses dan birokrasi dalam organisasi agar tidak terbebani oleh masa lalu atau kepentingan tertentu beberapa orang. After all, a leader is best when people barely know he exists, when his work is done, his aim fulfilled – and they will say: We did it ourselves – Lao Tzu.

Colek kami di twitter: @ReneCC
Photo: #HopinGinza by @CaptainRuby