Disruptive Innovation (4): The Future of Organization

June 29, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Semoga anda belum jenuh untuk melanjutkan obrolan yang seolah tanpa akhir tentang inovasi disruptif. Dan kali ini tentang pengaruhnya pada organisasi masa depan. Kenapa organisasi? Karena setiap organisasi – apapun bentuknya – adalah wadah bekerja, berkarya dan bertumbuh kembang bagi sebagian besar dari 7.2 milyar populasi penduduk bumi saat ini (2015). Organisasi juga adalah manifestasi nyata bagaimana sebuah ide pemikiran satu orang bisa menjelma menjadi produk, jasa atau apapun yang bisa dirasakan orang banyak. Melalui organisasi juga seseorang atau sekelompok orang bisa membangun, membina dan memiliki kekuatan ekonomi, bisnis dan politik yang berpengaruh.

Jika organisasi gagal mengantisipasi, menyiasati dan mengelola inovasi disruptif maka pengaruhnya akan dahsyat. Perlu bukti? Hanya 11% dari perusahaan-perusahaan ternama dalam daftar Fortune500 tahun 1955 yang masih bercokol hampir 6 dekade kemudian pada tahun 2014. Bayangkan juga semua nama besar produsen telepon genggam 10 tahun lalu yaitu Nokia, Motorolla dan Sony Ericsson sudah hampir tidak terdengar lagi hari ini. Apa lagi? Jika perusahaan global seperti GE (General Electric) membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai besaran USD 1 milyar, maka Shopify hanya perlu 9 tahun saja. Lebih heboh lagi Spotify menggenapi USD 1 milyar dalam waktu 6 tahun, Airbnb 4 tahun, Uber 2 tahun lebih sedikit dan Slack 1 tahun. Jika anda tidak mengenal nama-nama perusahaan yang baru saja saya sebut, silahkan google sendiri dan pahami apa artinya percepatan perolehan kapitalisasi pasar sedahsyat itu bagi anda, organisasi tempat anda bekerja dan industri anda.

Disruptive innovation is here to stay for good and so much faster. Jika perusahaan taksi terkemuka Indonesia, BlueBird, melalukan terobosan dengan service excellence pada tahun 1990an, maka Uber – dengan berbagai kontroversinya – saat ini menawarkan model bisnis berbasis teknologi yang sama sekali tidak mengindahkan batasan geografis dan geopolitis. Terobosan Elon Musk saat memperkenalkan PowerWall, unit battery rumah tangga yang mampu menyimpan energi dengan efisien – sekaligus memperdagangkannya dengan siapapun – secara lamban namun pasti akan mengubah wajah industri energi yang saat ini masi didominasi oleh para pemain besar dan pemerintah.

Disruptive innovation is shaping the new economy – and with it, the future organizations. Jika pada tahun 1995, Top15 perusahaan berbasis internet bernilai USD 17 milyar maka saat ini (2015), Top15 perusaan tersebut telah bernilai USD 2.4 triliun – atau 2.4x GDP Republik Indonesia tercinta ini. Episentrum terjadi pada dunia teknologi namun gemanya dengan sangat cepat telah, masih dan akan terus dirasakan oleh semua industri. Perekonomian baru yang terbentuk akan menuntut membuka parameter baru, cara pikir baru dan cara kerja baru – termasuk tentang tata cara pengelolaan organisasi.

Best practices are something in the past. Jika organisasi hanya mengandalkan proses bisnis yang disusun awal tahun 2000 atau keberhasilan masa lalu maka bisa dipastikan keberadaannya hanya tinggal menunggu waktu. Secara umum organisasi masa depan ditandai oleh 7 hal penting sbb:

(1) Beyond profit. Keberhasilan tidak lagi sekedar diukur dari pendapatan, profit dan ROI, namun values, impact dan culture. Silahkan simak inisiatif kolektif yang tergabung dalam @BCorporation.
(2) Intrapreneurial. Organisasi masa depan butuh BELIEVERS, bukan sekedar pekerja transaksional.
(3) Terbuka & Demokratis. Organisasi masa depan dituntut lebih terbuka pada seluruh karyawan, tidak lagi formal normatif.
(4) Keberagaman gender, suku, agama & ras. Serta peran lebih besar pada perempuan.
(5) Big data of interaction. Penggunaan piranti lunak seperti @Happy5Apps untuk memetakan kebahagiaan & kepuasaan karyawan.
(6) Culture, Not Structure. Struktur penting namun tidak lebih penting daripada budaya organisasi yang mendarah daging.
(7) Inovasi << Designing Disruption. Inovasi berkelanjutan menjadi bagian integral dalam keseharian organisasi. Organisasi masa depan wajib mampu mendesain ulang pola pikir, pola kerja dan pola kolaborasi untuk menumbuhkembangkan inovasi. Elaborasinya akan disampaikan pada bagian terakhir tulisan Disruptive Innovation minggu depan. Every job is technology-enabled – Every industry is digitized – Everyone is empowered. Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID Photo: #Wanderbites by @CaptainRuby