Disruptive Innovation (3): Imagineering, Not Engineering

June 22, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Beberapa puluh tahun lalu di Amerika Serikat konon keluarga Chesky pernah ditolak menginap oleh sebuah Hotel berbintang lima saat sedang liburan. Mereka dipandang tidak cukup mampu untuk menjadi tamu hotel yang diperuntukkan bagi para industrialis pebisnis kaliber kakap. Kejadian ini terpatri dalam ingatan Brian Chesky muda – si anak. Sekitar tahun 2007 di San Francisco, lagi-lagi Brian Chesky – kali ini bersama temannya Joe Gabbia terpaksa harus tidur di mobil saat mendapati uang mereka tidak cukup untuk bisa menginap di hotel. Bukannya merasa apes, mereka justru berpikir bagaimana seandainya bisa menyewa kasur untuk tidur di lantai koridor plus makan pagi seadanya. Singkat cerita, inilah titik awal berdirinya sebuah inisiatif global bernama Airbnb yang telah, masih dan akan terus “mengacaukan” tatanan pariwisata global.

Bagaimana tidak? Sebagai sebuah perusahaan yang secara resmi berdiri tahun 2010 – setelah berkali-kali ditolak oleh beragam investor dengan berbagai alasan – Airbnb saat ini (2015) telah menjelma jadi perusahaan hospitality terbesar di di dunia. Mereka hadir di 190 negara dan lebih dari 34,000 kota (nah, sambil meriset untuk artikel ini, saya juga baru tahu planet ini punya negara dan kota sebanyak itu). Dalam waktu kurang dari 6 tahun, jumlah kamar/rumah/villa yang berada dalam ekosistem Airbnb tercatat lebih dari 1,2 juta unit – melebihi jumlah kamar yang dikelola oleh hotel berantai Hilton (berdiri tahun 1919) dan Hyatt (1957). Komentar berbau arogan – namun faktual dari twitter Brian Chesky diatas adalah bentuk nyata keberhasilan inovasi disruptif yang dilancarkan oleh Airbnb. Terjemahan lepasnya kurang lebih berbunyi begini: “Mariott (brand hotel berantai) berencana menambah 30,000 kamar dalam setahun kedepan. Kami (Airbnb) akan melakukan hal tersebut dalam 2 minggu kedepan.”

Disruptive innovation is here to stay – and make the world a better place. Istilah inovasi disruptif diangkat oleh Clayton Christensen, seorang profesor dari Harvard Business School pada tahun 1990an sebelum era Apple, Google dan terobosan2 teknologi aplikasi semacam Airbnb, Uber dan sebagainya. Apa itu? Segala sesuatu yang didasarkan atas keberanian mengaplikasikan cara pandang, cara pikir dan cara kerja baru – dengan segala resikonya. Bukan sekedar inkremental atau berkembang sedikit demi sedikit secara gradual namun unik, masif, kolosal dan chaos.

The fundamentals of innovation: Problem Solving & Imagination. Ya, perkembangan teknologi memegang peranan penting. Tanpa kemajuan teknologi dan piranti nirkabel serta internet, mustahil saja teknologi aplikasi bisa muncul. Oh ya, sekedar informasi, besaran ekonomi ekosistem aplikasi Apple saat ini telah 2 kali lipat besaran ekonomi yang dihasilkan oleh Hollywood. Ini masih belum memperhitungkan ekosistem aplikasi Android yang dibangun oleh Google dan sebagainya.

Imagineering – not engineering! Apa kuncinya? Bukan sekedar kemampuan programming, namun keberanian berimajinasi untuk menuntaskan satu problem nyata yang dirasakan banyak orang – sebagaimana imajinasi dan keberanian bertindak Brian Chesky mencari solusi bagi para pelancong yang tidak berkantong tebal. Dan dua hal ini – imajinasi & keberanian bertindak – sangat minim dimiliki oleh mereka yang telah lama bercokol pada industri / organisasi yang telah mapan. Maka jangan heran kenapa inisiatif macam Airbnb hampir pasti tidak mungkin muncul dari Mariott, Hilton atau Hyatt.

Pernah dengar disket (piranti penyimpan data), film (medium untuk mencetak photo) dan kaset (tempat menyimpan musik)? Semuanya telah punah akibat inovasi disruptif. Bagaimana dengan taksi, kamar-kamar standar hotel berbintang dan gelar akademis yang ditawarkan lembaga pendidikan tinggi? Bisa jadi juga bakal kehilangan relevansinya. Pertanyaan terbesar sekarang bukan bagaimana untuk berubah – namun kenapa mau berubah? Dan apa problem yang hendak dituntaskan. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Albert Einstein: “Imagination is more valuable than knowledge. For knowledge is limited to all we now know & understand. While imagination embraces the entire universe – and all there ever will be to know and understand.” What’s your wildest idea? #imagination

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #BuildingOwnOffice by @CaptainRuby