Disruptive (2): The End of University… as We Know It

June 19, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Masih melanjutkan tulisan minggu tentang kiprah para pengganggu, perusak, disruptor, pengacau dan pembongkar segala hal yang dikenal sebagai norma, status quo dan business as usual. Seperti cerita Uber dan Airbnb, belum lama ini saya membaca tulisan tentang bagaimana Elon Musk, pendiri PayPal, SpaceX dan Tesla motor (mobil listrik keren berkinerja serupa mobil balap) tengah mengusung insiatif baru untuk memunculkan terobosan pada desain dan produksi baterai. Kenapa baterai? Karena tidak ada inovasi canggih dalam bidang apapun jika tidak ditopang oleh tempat penyimpanan energi yang efisien, murah dan mudah. Selama ini kelambanan industri baterai dibandingkan industri lain dianggap sebagai biang keladi tertundanya inovasi pada berbagai produk. Misinya mudah saja: menjadikan setiap rumah suatu saat nanti akan mampu menyimpan listrik sendiri, tanpa harus bergantung pada perusahaan listrik negara dan / atau swasta. Sebuah konsep berani yang suatu saat bakal merekonstruksi industri energi dan infrastruktur global. Kita lihat saja perkembangannya!

Serupa dengan baterai, semua terobosan dan inovasi pada berbagai bidang tidak akan berjalan dengan baik tanpa kehadiran manusia-manusia mumpuni. Dan semua manusia-manusia tersebut butuh melalui sebuah proses hebat bernama PENDIDIKAN. Bisa diibaratkan pendidikan adalah mata air tempat semua air berawal. Jika pendidikan keren, maka banyak hal lainnya bakal punya harapan untuk jadi keren. Dan sebaliknya.

Whatever brought you here will not be the same as what shall bring you there. Saya menduga terobosan serupa pasti akan terjadi pada industri pendidikan. Industri pendidikan yang kita kenal sekarang adalah warisan revolusi industri sejak abad 19. Pola mendidik orang untuk mengejar sertifikat Sarjana/Master/Doktor dalam satu waktu tertentu pada satu tempat tertentu tidak akan bisa dipertahankan. Kenapa? Karena secara nyata dunia pendidikan telah gagal menjadi relevan dan memenuhi kebutuhan dunia saat ini.

The readiness to compete has got nothing to do with graduation. Apa buktinya? Sudah berulang kali saya sampaikan bagaimana tingkat pengangguran SMA dan Sarjana melebihi tingkat pengangguran lulusan SD. Selain itu, berbagai penelitian telah menunjukkan secara gamblang ketidaksiapan lulusan pendidikan tinggi untuk segera berkiprah dalam korporasi, apalagi sebagai entrepreneur. Penelitian BCG (Boston Consulting Group): Growing Pains, Lasting Advantage tahun 2011 telah memperingatkan gap antara demand dan supply pada middle manajemen korporasi besar yang akan mendekati angka 60% pada tahun 2020. Oh, maksudnya supply tenaga kerja relevan hanya bisa memenuhi 40% kebutuhan.

The University of Everywhere is very near – Kevin Carey. Kemunculan inisiatif2 berbasis teknologi untuk dunia pendidikan seperti Coursera, edX, LearnZillion, Udacity, General Assembly bisa dipandang sebagai bentuk pemberontakan atas status quo yang dipegang sejak lama oleh universitas dan lembaga pendidikan tinggi lain.

Education is never about the filling of a jar, it’s about the kindling of fire. Para pendobrak tersebut mempertanyakan hal-hal berikut: Kenapa masih saja mempertahankan pola belajar seragam, waktu tertentu dengan kurikulum yang sudah sangat tertinggal? Kenapa tidak mendayagunakan begitu banyak praktisi pada berbagai industri untuk mengajar, melatih dan mendidik ilmu-ilmu tepat guna yang bisa segera diaplikasikan oleh peserta didik? Kenapa tidak mendayagunakan teknolgi digital dan membangun kolaborasi lebih besar untuk “menyalakan” passion pada diri setiap orang untuk berkarya, berkreasi dan berkiprah? Dan seterusnya.

Ini alasan saya bersama kawan-kawan @ImpactFactoryID mengusulkan pembentukan sebuat platform kolaborasi belajar bersama dengan nama @LimitlessCampus – secara umum kami meyakini terdapat 4 basis keahlian yang wajib dimiliki siapapun yang hendak berkompetisi dan berkiprah pada abad 21 sbb:
1. Skills for Passionate Life
2. Skills for Meaningful Relationship
3. Skills for Impactful Business
4. Skills for Purposeful Organization
Terkait pendidikan, terlalu banyak hal yang perlu dikerjakan bersama. Lebih cepat dan lebih awal akan jauh lebih baik. Silahkan berkabar jika berminat untuk tahu lebih lanjut. Ini PR kita bersama. We require a collaborative platform whereas millions of educators will empower millions others – for better Indonesia.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #BuildingOwnOffice by @CaptainRuby