Disruptive (1): The End of Status Quo

June 15, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Disruptive. Pengganggu. Perusak. Pengacau. Pembongkar segala hal yang dikenal sebagai norma, status quo dan business as usual. Tahun 2015 ditandai dengan munculnya “pengacau” dalam berbagai bentuk pada beragam bidang dalam skala global. Semua dimungkinkan terjadi karena konvergensi teknologi digital, telekomunikasi dan globalisasi dunia. Para disruptor ini hadir dengan memunculkan ide-ide inovatif sebagai akibat dari kebutuhan masyarakat / pasar, kelemahan pemain lama dan terobosan berbasis teknologi. Fenomena ini diperkuat dengan perubahan aliran arus modal dunia: Dari sebelumnya terfokus pada usaha-usaha yang berasal dari sumber daya alam, berskala besar dan pabrikasi menjadi usaha-usaha berbasiskan teknologi, informasi dan manusia2 yang mumpuni.

Lihat saja bagaimana Uber menjadikan dirinya sebagai perusahaan penyedia jasa transportasi terbesar di dunia dalam waktu kurang dari 3 tahun dengan 200,000 lebih pengemudi aktif setiap saat – jumlah yang mendaftarkan diri jauh lebih besar dari itu. Keberadaan mereka di puluhan kota-kota besar dunia “mengacaukan” bisnis taksi yang telah lama didominasi oleh pemain-pemain lama. Bisnis taksi kuning di kota New York pada tahun 2014 terkoreksi (baca: turun drastis) hingga 40% sejak kemunculan Uber dan variannya, UberX yang menawarkan jasa taksi dengan harga lebih murah. Menariknya lagi, semakin banyak pengemudi taksi – dan perusahaan rental mobil – yang beralih menjadi pengemudi Uber karena sifatnya tidak terikat dan memperoleh pendapatan relatif lebih besar dibandingkan jika harus bekerja untuk perusahaan taksi konvensional. Bisa jadi taksi kuning sebagai lambang ternama kota New York hanya akan muncul di buku-buku sejarah dalam waktu tidak terlampau lama – tidak ubahnya seperti film Kodak, video kaset, laser disc dan berbagai hal lain yang layak menjadi koleksi museum kontemporer.

Data may disappoint, but it never lies. Jakarta atau kota-kota Indonesia lain juga tidak terkecuali walaupun tidak (baca: belum) sedrastis kota-kota lain di Amerika Serikat. Oh, sebelum lupa, Uber sama sekali tidak punya taksi sendiri. Bentuk yang mereka tawarkan adalah bagian dari sebuah ekosistem baru bernama collaborative economy. Selain itu, bentuk pemberdayaan massal dari, oleh dan untuk masyarakat luas adalah wujud nyata dari berbagai bentuk platform crowdsourcing.

Every threat to the status quo is an opportunity in disguise – Jay Samit. Hal serupa juga telah, masih dan akan terjadi pada banyak bidang. Lihat saja bagaimana kiprah Airbnb, pendobrak status quo industri perhotelan & pariwisata. Kapitalisasi bisnis mereka yang baru berdiri kurang dari 6 tahun tanpa harus memiliki property sama sekaii sudah mengalahkan Hyatt yang mulai beroperasi puluhan tahun lalu. Disruptive yang dimunculkan Airbnb tidak sekedar pada aspek finansial, namun juga ajakan untuk merasakan pengalaman unik dalam berlibur dan tawaran beragam profesi baru.

The power of crowd sourcing is with the crowd, not the technology.
Melalui platform tersebut, siapa saja bisa menjadi traveler, bukan sekedar turis dengan sekedar menetap di hotel yang relatif steril dan minim interaksi dengan masyarakat sekitar. Profesi baru? Pernah dengar travel blogger / journalist, travel photographer, personal travel planner dan seterusnya.

Keadaan ini juga akan – atau bahkan sudah muncul pada industri tempat anda bekerja sekarang. Anda khawatir atau takut? Itu wajar-wajar saja. Walaupun lebih baik jika melihat segala bentuk terobosan dan dobrakan sebagai dorongan untuk juga melakukan hal serupa demi kebaikan organisasi, industri, komunitas dan bangsa. Sudahkah melihat peluang baru? Mampukah memunculkan cara pandang baru, model bisnis baru dan proses kerja baru? Dan seterusnya. PR besar terletak pada bagaimana dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi bisa berperan mempersiapkan tenaga kerja masa depan. Pembahasannya akan disampaikan dalam tulisan minggu depan. Perhaps now is the time to disrupt the way you view life and the way you live your life. It’s now the time to disrupt yourself.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #PantaiCemara by @CaptainRuby