Knowledge is Dead. Focus on Passion-based Learning.

June 1, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Kapan Perang Jawa atau Perang Diponegoro berkecamuk? Berapa tinggi Monas? Apa arti istilah “OK” dalam bahasa Inggris? Berapa panjang garis pantai Indonesia? Apa negara terbaru yang baru saja diterima oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa)? Jika anda bisa menjawab semua pertanyaan diatas, saya jamin anda masuk kategori cerdas sesuai dengan standar sistem pendidikan Indonesia. Jika hanya bisa menjawab kurang dari 2 atau bahkan tidak sama sekali sama sekali tidak masalah. Bukankah ada google – atau bisa juga tanya lingkaran pertemanan anda di twitter, facebook, path atau lainnya. Dengan sedikit imajinasi dan usaha, anda – dan siapapun pasti bisa menjawab semua pertanyaan tersebut.

Begitu mudah cap cerdas atau bodoh, berprestasi atau bermasalah, rangking atau payah – diberikan pada anak-anak kita atas nama standar keilmuwan dan kualitas pendidikan. Tidak sedikit orang-orang hebat dalam sejarah justru masuk dalam kategori orang kurang atau tidak cerdas menurut sistem pendidikan yang berlaku kala itu. Isaac Newton, yang berhasil membuka rahasia gravitasi dan mengemukakan teori pergerakan bintang dan planet, seringkali dicemooh sebagai bodoh dan plagiat. Albert Einstein, penggagas teori relativitas dan beragam teori astro-fisika juga tidak jauh berbeda. Sejak bangku sekolah dasar hingga menengah dia masuk kategori lamban, kurang gaul dan tidak punya percaya diri. Pernah membayangkan kalau penerus Isaac Newton, Albert Einstein, Thomas Edison, Nicola Tesla dan innovator besar lain, bisa jadi adalah anak-anak yang sekarang dianggap tidak berprestasi, lamban dan payah?

Passion sparks curiosity & initiates lifetime learning. Otak Einstein yang didonasikan setelah pemiliknya wafat dibedah, dikaji dan diteliti untuk memastikan esensi kejeniusan. Hasilnya? Otak tersebut sama sekali tidak berbeda dengan otak manusia lain. Jika kapasitas dan karakteristik otak sama saja, maka yang membedakan adalah bagaimana otak tersebut digunakan. Imajinasi adalah konsekuensi dari kebebasan berpikir, variasi pengalaman dan kemampuan observasi. Dan setiap insan telah dititipkan serangkaian keasyikan, kesukaan dan kecintaan akan hal-hal dan aktivitas tertentu. Inilah passion!

Passion lies in the activities that make you feel empowered – It’s the object of your fascination. Siapapun pasti punya kecenderungan untuk lebih menikmati hal-hal tertentu melebihi. Pernah perhatikan rubrik atau tulisan tertentu yang selalu menyita perhatian saat membaca koran, bukut atau majalah? Bagaimana dengan topik obrolan yang kerap kali memancing partisipasi lebih lama dan banyak? Coba ingat-ingat siapa dan apa kiprah orang-orang yang paling anda kagumi? Oh, perhatikan juga aktivitas-aktivitas tertentu yang membuat diri merasa berdaya – alias dimampukan, dibisakan, dikuatkan, ditabahkan, disabarkan dan seterusnya. Inilah passion!

The best learning happens in the fields you are most passionate about. Jika passion menawarkan resep paling mudah untuk belajar, bertumbuh kembang (bukan kesuksesan, lho!) – dan setiap orang sudah pasti memilikinya, kenapa masih saja menyeragamkan pendidikan? Kenapa masih saja tidak mempedulikan lentera jiwa atas nama nilai, kelulusan dan rangking?

Sudah waktunya lembaga pendidikan mengedepankan eksplorasi passion sebagai titik awal belajar, bekerja, berkarya, berkreasi dan bertumbuh kembang. Sudah saatnya titik tumpu pendidikan didasarkan pada imajinasi dan inspirasi – bukan sekedar kurikulum dan nilai. Imajinasi & Inspirasi bukan soal kemampuan bisa mengingat rumus, tanggal-tanggal penting dan khazanah ilmu pengetahuan. Imajinasi adalah kebebasan, keberanian dan keasyikan berpikir. Inspirasi adalah soal jalinan interaksi emosional dan investasi waktu dengan sesama, mahluk lain dan lingkungan. Passion & imagination is priceless. Kathleen Flinn said many years ago: “You’re only limited by your passion and imagination. Be brave. Be true. And be open to possibilities”

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #SenjaJakarta by @ReneCC

  • halo, om rene. abis iseng surfing di internet, terdampar di web ini, dan tergelitik untuk baca tulisannya.
    Saya setuju dengan yang om Rene bahas, bahwa passion itu penting.dan nggak bisa men-judge orang pintar atau nggak dengan parameter pengetahuan (tanggal penting, tokoh penting, dsb).
    Tapi kalo boleh nanya nih, om, gimana cara mengukur keberhasilan siswa di sekolah kalau bukan dengan parameter itu ya? Karena selama saya sekolah, untuk tiap bab pembahasan pasti ada ujian yang isinya tentang “summary” pelajaran itu. Rumus2 untuk science things, dan hafalan untuk social things.
    Apa yang perlu diubah dari kurikulum kita?
    Apakah selama murid itu punya imajinasi, maka bisa dikatakan lulus?
    Maaf panjang, ya, om. Saya bukan pengamat ataupun orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Cuma tergelitik aja. hehe.
    Thanks in advance 🙂

    • admin

      Hi Nurlaili,
      pendidikan tidak hanya angka saja lho, karena belajar lebih penting karena interaksinya 😉

  • Andra

    Halo Pak Rene,
    Apa perbedaan passion dengan hobi? Apakah setiap passion didasari dari hobi / kegemaran? Dapatkah passion seseorang berubah (berkurang/bertambah)?
    Thanks