We Need Less Motivation & More Action – than We Think

May 21, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Berhubung semakin lama semakin terasa sesak setiap kali memakai celana jeans andalan, saya merasa perlu untuk mulai menggerakkan badan. Selama ini satu-satunya anggota badan yang paling sering bergerak ya cuma bagian bibir saja – namanya juga pembicara publik alias tukang ngomong (bukan motivator lho!). Bagian tubuh lain yang juga sudah sangat terlatih adalah mata, bukan karena jelalatan melihat ke kanan-kiri, namun karena sebuah aplikasi fotografi keren bernama instagram  Saya sudah punya keanggotaan di sebuah tempat kebugaran yang punya cabang dimana-mana namun teramat jarang dipakai karena berbagai macam alasan. Alasan bisa banyak sekali, mulai dari tempatnya jauh, tidak ada teman olah raga bareng hingga tas olah raga yang seringkali lupa dibawa. Skedul bepergian yang padat juga kerap kali jadi alasan utama untuk tidak olah raga. Undangan wiskul (wisata kuliner) tentu jauh lebih menarik daripada harus jogging di sekitar tempat menginap. Motivasi untuk berolah-raga tidak pernah kurang namun hampir selalu dikalahkan oleh situasi dan kondisi.

Saya menulis kolom mingguan ini di @hariankompas sejak 108 minggu yang lalu – koq tahu? Karena setiap kali menulis kolom saya buatkan nomor urutnya. Sebelumnya saya tidak pernah menulis secara berkala dan terus menerus seperti sekarang. Berbeda dengan olah raga, saya bisa menuliskan kolom ini setiap minggu secara konsisten – kalau dipikir apa beda antara keduanya? Apakah saya lebih termotivasi untuk menulis daripada berolah raga? Atau mungkin, apakah menulis lebih menyenangkan daripada berolah raga?

Motivation is about getting started – once you’re in, you’ll be fine. Kesulitan mencari ide, merangkai kata & kalimat tiap minggu sama sekali tidak menghalangi saya untuk menulis kolom ini. Saya dapati hal tersulit dalam menulis bukanlah soal mencari ide tulisan. Kesulitan terbesar dalam menulis kolom adalah ini: duduk dan mulai menulis. Sama seperti berolah raga, godaan & gangguan memang banyak namun tidak pernah jadi masalah saat sudah duduk dan mulai menulis.

We waste a lot of time, energy & focus to second guess ourselves. Permasalahan saya dengan olah raga adalah karena terlampau memikirkannya dan mempertimbangkannya melalui proses pengambilan keputusan yang luar biasa rumit. Saya mempertanyakan setiap keputusan untuk olah raga dengan pertimbangan kondisi yang sedang terjadi. Apakah anda pernah mengalami hal yang sama terkait dengan hal-hal yang perlu anda lakukan?

Less motivation is needed and more action is required. Setiap tindakan dan perubahan perlu motivasi, namun lebih penting dari itu adalah simplifikasi berpikir dan tindakan nyata. Motivasi ditujukan untuk mengantar diri dalam menjalankan satu hal spesifik. Terkait dengan menyusun kolom mingguan, motivasi dibutuhkan untuk sekedar duduk dan mulai mengetik. Terkait dengan olah raga, motivasi yang dibutuhkan untuk mengayunkan langkah pertama ke tempat olah raga.

Saya yakin kita hanya perlu termotivasi untuk sesaat saja. Motivasi adalah tanggung jawab pribadi karena tidak ada yang lebih memahami diri sendiri selain diri sendiri. Pahami hal-hal dan saat-saat anda rentan terhadap godaan dan gangguan. Pahami juga kalau motivasi perlu ditujukan secara spesifik untuk tindakan tertentu. Lupakan pernyataan motivasi untuk jadi sukses – ini terlalu umum. Sebaliknya, tetapkan motivasi untuk menjadi yang pertama menyapa orang atau hadir 10 menit sebelum meeting dimulai, atau motivasi untuk jadi pendengar & penyimak yang baik sebelum berkomentar dst. The idea is about making it easier to do something you want to get done and harder for the things you want to undo. Quit scribit bis legit.

Photo: instagram #FishingGuy dari @didinu
Artikel #UltimateU KOMPAS 13 Oct 2012