Work-Life Harmony, Not Balance

May 18, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Jika para pemimpin di kantor pusat bekerja sampai jam 11 malam, maka semua kantor cabang diharapkan turut mendukung dengan juga bekerja (baca: stand by) hingga larut malam – jauh melewati jam pulang yang lazimnya sebelum maghrib. Bisa saja teng-go alias pulang lebih awal namun jika ketahuan bisa dianggap tidak loyal. Bagaimana dengan work-life balance dalam kondisi seperti ini? Pertanyaan ini diajukan pada saya dalam sebuah kesempatan kongkow bareng sebuah organisasi berskala nasional pada awal minggu ini. Sebuah pertanyaan yang mudah diucapkan namun butuh pertimbangan hati-hati saat menjawabnya.

Perubahan jam kerja, penuntasan tugas dari si boss dan penetapan aturan baru seringkali berdampak besar pada karyawan. Dan setiap kali hal ini terjadi, argumen work-life balance selalu mengemuka. Apakah memang keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa dicapai dengan membagi waktu secara rata dan adil? Apakah setiap menit yang dilewati setelah jam kerja bisa diartikan sebagai “pengorbanan” berlebihan untuk pekerjaan – dan sebaliknya? Bagaimana komposisi ideal antara pekerjaan dan kehidupan?

There is no such a thing as work life balance! Salah satu salah kaprah dahsyat yang seringkali disampaikan dalam banyak kesempatan oleh banyak orang adalah tentang konsep work-life balance itu sendiri. Seolah-olah “pekerjaan” adalah sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari “kehidupan.” Apakah bisa seorang karyawan 100% meninggalkan segala urusan pekerjaan saat langkah mengayun keluar dari kantor? Sebaliknya, apakah saat di tempat pekerjaan bisa secara absolut tidak memikirkan, memperhitungkan dan merasakan hal-hal yang bersifat pribadi seperti keluarga, pertemanan dan sebagainya?

Harmony is about integration, not trade-offs. Tidak ada satu manusiapun yang mampu memberi pembobotan prioritas dan penetapan waktu sama setiap saat terkait dengan pekerjaan dan lainnya. Lagipula, bukanlah pekerjaan adalah salah satu aspek dari kehidupan yang secara berkala dipikirkan dan dipertimbangkan? Keharmonisan, bukan keseimbangan, muncul saat terjadi integrasi antara pekerjaan (baca: kehidupan karya) sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Keharmonisan membawa totalitas dalam bekerja, berkarya dan berkehidupan.

First thing first: It’s about having clarity of your mission in life. Betapa malangnya saat harus berkarya dibarengi dengan perasaan bersalah karena harus meninggalkan keluarga. Langkah pertama adalah memiliki pemahaman yang sangat baik tentang misi hidup yang telah dititipkan oleh Sang Pencipta. Bukan sekedar cita-cita, namun peran (baca: kodrat) dalam kehidupan yang perlu dilakoni, dijalani dan disempurnakan. Tidak ada kebetulan anda membaca tulisan ini. Tidak ada kesengajaan anda berada di tempat anda sekarang, mengerjakan segala hal yang dikerjaan dengan dukungan apapun yang diterima.

Embrace the ups & the downs in life wholeheartedly. Setiap periode kehidupan punya keunikannya tersendiri. Saat masih kuliah tentu berbeda dengan saat mulai bekerja. Beda lagi dengan saat mulai membina rumah tangga, punya anak dan selanjutnya. Setiap masa punya tantangan tersendiri yang harus dilalui. Terkait pertanyaan pada alinea pembuka diatas, pulang larut malam wajar saja asalkan untuk manfaat dan peran yang jelas. Dan selama tidak dilakukan terus menerus atas nama kelaziman baru, tentu wajar2 saja.

Create and obey the limit you drawn for yourself. Aktivitas hidup dikendalikan oleh prioritas hidup. Penetapan hal-hal yang menjadi lebih penting dibandingkan hal-hal lain sepenuhnya wewenang pemangku hidup alias diri sendiri. Tentunya dengan mempertimbangkan diskusi dengan pasangan dan keluarga terdekat.

Apa yang bisa dilakukan sekarang? Work-life harmony butuh 3 syarat utama: Hadir seutuhnya. Rasakan sejujurnya dan jalani sepenuhnya. Jangan ragu untuk melakukan penyesuaian ulang jika dirasa perlu. Ini kehidupan milik anda sepenuhnya. Never aim for work-life balance – there is just no such a thing. Work is part of life among some other aspects. Listen to Erich Fromm’s famous statement of a full life:

Be yourself | Do what you love | Have what you need.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #MoonEvolution by @mikemezphoto